Rotan Balangan Dikirim Ke HSU dan Kalteng
Dari 3756 buah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang tercatat di Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Balangan tidak ada satupun usaha yang bergelut dengan rotan. Padahal potensi rotan di Balangan sangat besar, mengingat kawasan hutan masih sangat luas sebagai media tumbuh rotan.
Menurut Kepala Disperindagkop Kabupaten Balangan Rakhmadi Yusni, di Balangan tidak ada satupun UMKM maupun industry yang melakukan usahanya dalam bidang pengolahan rotan.
“Kalau dari hasil alam kita ada memiliki kerajinan dari purun, bamban dan bambu. Kalau rotan masih tidak ada,’’ ungkapnya.
Menurut dia, Disperindag Balangan bukan tidak mau atau berupaya untuk mendorong industri rotan di Balangan tapi lebih kepada yang lebih potensial dan kekhasan daerah.
"Rotan kan sudah menjadi kerajinan yang menjadi identitas daerah lain, makanya kita lebih memilih kerajinan bambu dan purun yang menjadi khas Balangan,"ungkapnya.
Terpisah, menurut salah pencari rotan Aspi mengungkapkan, jika selama ini hasil rotan Balangan dikirim ke kabupaten HSU dan Kalteng.
"Dari dulu kita mengirim hasil rotan kalau tidak ke Amuntai ya ke daerah Kalteng," ujar warga desa Mihu Kecamatan Juai ini.
Untuk jumlah produksi hasil rotan yang dikirim, menurut ayah satu anak ini, lumaya banyak bisa mencapai satu truk tiap minggunya.
"Saya bersama tiga teman lainnya saja, tiap minggu bisa menjual 3000 sampai 5000 batang rotan ke Amuntai. Belum lagi ditambah dari hasil pencarian daerah lain seperti di kecamatan Halong dan Tebing Tingga yang juga mencari rotan untuk dijual,"ungkapnya.
Untuk rotan di Balangan sendiri, lanjut pria tamatan SLTP ini, hanya rotan jenis Walatung dan Manau yang laku dijual, sedangkan untuk jenis paikat (rotan kecil) tidak laku karena tidak ada pembelinya.
"Kalau urusan rotannya kita masih melimpah ruah, tapi pembeli dan harganya yang kadang-kadang jauh dari harapan. Sehingga mencari rotan untuk dijual tidak selalu dilakukan, karena kadang-kadang tidak sepadan dengan capenya," tungkasnya.
Saturday, 10 December 2016
Rotan Balangan Belum Tersentuh Kebijakan
Balangan dengan luasan hutan seluas 83.75689 hektar yang terbagi dua fungsi yakni fungsi produksi seluas 24.248,6 dan fungsi lindung seluas 59.508,3 mempunyai potensi hasil hutan yang sangat beragam.
Salah satunya adalah rotan, tapi sayang salah satu kekayaan sumber daya alam Balangan ini belum tergali dengan maksimal, padahal potensi rotan Balangan cukup menjanjikan karena selain merupakan hasil kekayaan alam yang bisa terus diperbaharui, rotan juga bisa di budidayakan, sehingga keberadaanya harusnya terus diperjuangkan dan didorong pertumbuhannya.
Tapi apa lacur, jangankan mewujudkan masyarakat Kehutanan dan Perkebunan yang maju, mandiri, sejahtera, berkeadilan yang berdaya saing tinggi dan berkelanjutan lewat potensi rotan, sekedar pendataan produksi rotan di Balangan pun belum dilakukan.
"Kita belum pernah mendata produksi rotan di Balangan," ujar Patliansyah, Kabid penataan dan pelindungan hutan pada Dishutbun Balangan.
Tidak terdatanya produksi rotan ini, diakui Patliansyah, karena keterbatasan personel penataan dan pelindungan hutan sehingga pendataan tidak bisa dilakukan.
“Meski tidak terdata, tapi potensi rotan Balangan dapat dilihat dari luasan hutan Balangan yang didalamnya menyimpan rotan sebagai kekayaan hayati dan masih adanya warga Balangan yang mencari rotan untuk dijual,’’ bebernya.
Padahal potensi rotan ini, bisa dijadikan salah satu sektor unngulan Kebupaten Balangan untuk dijadikan sumber pendapatan daerah. Ini penting utnuk mengurangi ketergantungan keuangan daerah dari sektor pertambangan, dimana sektor pertambangan masih menjadi penyumbang terbesar bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Balangan, bahkan struktur keuangan Pemkab Balangan sesuai isi Raperda APBD TA 2017, pendapatan daerah terbesar ada pada dana perimbang dari sektor pertambangan yakni, Rp755.874.560.589, dari total pendapatan sebesara Rp954.848.733.283. Sedangkan besaran PAD hanya Rp55.712.934.000 dan lain-lain pendapatan daerah yang sah Rp143.261.238.694.
Menurut Wakil Ketua DPRD Balangan M Nor Iswan Pemda masih dinina bobokan sehingga selama ini pemberdayaan masyarakat dalam mengelola sumberdaya non pertambangan dan usaha dalam menggali sumberdaya penambah penghasilan daerah masih berjalan lambat.
"Sektor yang paling bisa diandalkan saat ini selain pertambangan adalah pertanian dan perkebunan. Untuk itu, harus ada program khusus terkait pencarian sumber pendapatan lain diluar sektor tambang,’’ungkapnya.
Selain pertanian dan perkebunan, kata Iswan, sektor kehutanan juga bisa dijadikan sumber pendapatan alternatif misalnya dengan meningkatkan produksi hasil hutan untuk peningkatan ekonomi masyarakat.
“Kita berharap kedepan sektor kehutan bisa digarap maksimal oleh pemerintah daerah, baik sebagai upaya peningkatan perekonomian masyarakat maupun sumber pendapatan pemerintah daerah.
Balangan dengan luasan hutan seluas 83.75689 hektar yang terbagi dua fungsi yakni fungsi produksi seluas 24.248,6 dan fungsi lindung seluas 59.508,3 mempunyai potensi hasil hutan yang sangat beragam.
Salah satunya adalah rotan, tapi sayang salah satu kekayaan sumber daya alam Balangan ini belum tergali dengan maksimal, padahal potensi rotan Balangan cukup menjanjikan karena selain merupakan hasil kekayaan alam yang bisa terus diperbaharui, rotan juga bisa di budidayakan, sehingga keberadaanya harusnya terus diperjuangkan dan didorong pertumbuhannya.
Tapi apa lacur, jangankan mewujudkan masyarakat Kehutanan dan Perkebunan yang maju, mandiri, sejahtera, berkeadilan yang berdaya saing tinggi dan berkelanjutan lewat potensi rotan, sekedar pendataan produksi rotan di Balangan pun belum dilakukan.
"Kita belum pernah mendata produksi rotan di Balangan," ujar Patliansyah, Kabid penataan dan pelindungan hutan pada Dishutbun Balangan.
Tidak terdatanya produksi rotan ini, diakui Patliansyah, karena keterbatasan personel penataan dan pelindungan hutan sehingga pendataan tidak bisa dilakukan.
“Meski tidak terdata, tapi potensi rotan Balangan dapat dilihat dari luasan hutan Balangan yang didalamnya menyimpan rotan sebagai kekayaan hayati dan masih adanya warga Balangan yang mencari rotan untuk dijual,’’ bebernya.
Padahal potensi rotan ini, bisa dijadikan salah satu sektor unngulan Kebupaten Balangan untuk dijadikan sumber pendapatan daerah. Ini penting utnuk mengurangi ketergantungan keuangan daerah dari sektor pertambangan, dimana sektor pertambangan masih menjadi penyumbang terbesar bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Balangan, bahkan struktur keuangan Pemkab Balangan sesuai isi Raperda APBD TA 2017, pendapatan daerah terbesar ada pada dana perimbang dari sektor pertambangan yakni, Rp755.874.560.589, dari total pendapatan sebesara Rp954.848.733.283. Sedangkan besaran PAD hanya Rp55.712.934.000 dan lain-lain pendapatan daerah yang sah Rp143.261.238.694.
Menurut Wakil Ketua DPRD Balangan M Nor Iswan Pemda masih dinina bobokan sehingga selama ini pemberdayaan masyarakat dalam mengelola sumberdaya non pertambangan dan usaha dalam menggali sumberdaya penambah penghasilan daerah masih berjalan lambat.
"Sektor yang paling bisa diandalkan saat ini selain pertambangan adalah pertanian dan perkebunan. Untuk itu, harus ada program khusus terkait pencarian sumber pendapatan lain diluar sektor tambang,’’ungkapnya.
Selain pertanian dan perkebunan, kata Iswan, sektor kehutanan juga bisa dijadikan sumber pendapatan alternatif misalnya dengan meningkatkan produksi hasil hutan untuk peningkatan ekonomi masyarakat.
“Kita berharap kedepan sektor kehutan bisa digarap maksimal oleh pemerintah daerah, baik sebagai upaya peningkatan perekonomian masyarakat maupun sumber pendapatan pemerintah daerah.
Mamagat Untuk Bertahan Hidup
Mamagat itulah istilah yang dipakai warga Balangan untuk menyebut orang yang mencari rotan di hutan untuk dijual.
Rutinitas mamagat inilah yang telah digeluti Aspi (30 tahun) warga desa Mihu Kecamatan Juai sejak tahun 2003 silam hingga kini.
Menurut ayah satu anak ini, mencari rotan sudah menjadi mata pencarian baginya disamping bertani dan menyedap karet untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sehari-hari.
Mencari rotan, kata Aspi, bukan hanya digeluti dirinya tetapi juga oleh warga lain, apalagi saat kondisi harga karet anjlok pasti banyak warga yang mencari rotan sebagai alternatif mata pencarian.
“Kalau dulu mencari rotan ini cukup disekitar sudah dapat banyak. Tapi sekarang, karena banyak hutan jadi perkebunan dan adanya tambang maka harus masuk hutan berjam-jam untuk mencari rotan," ujar Aspi saat ditemuai dikediamannya.
Minimal 4 hari dalam seminggu, kata Aspi, dia bersama tiga warga desanya menyusuri hutan guna mencari rotan untuk dijual.
untuk hasil mencari rotan, menurut dia, masih lumayan jika dibanding dari hasil menyadap karet, karena hasilnya lebih banyak apalagi kini saat harga karet masih murah.
Dalam sehari menurut pria tamatan SLTP ini, dirinya bisa mendapatkan 50 sampai 100 batang rotan jenis Walatung dengan harga jual Rp.1700 per batangnya.
"Lumayan lah kalo mencari Walatung ini saya bisa dapat uang 100 sampai 200 ribu perhari. Dibanding dengan menyadap karet lebih banyak mencari Walatung," ungkapnya.
Harga walatung saat ini, menurut Aspi, sudah sangat jauh turunnya dari dulu sebelum adanya larangan ekspor rotan keluar negeri.
Kalo tahun 2003an dulu, lanjut Aspi, harga rotan jenis walatung mencapai harga Rp. 3500 perbatangnya sedangkan Manau sampai Rp. 8000 perbatang.
Kalau sekarang, Walatung hanya seharga Rp.1700 dan Manau Rp. 3000 itupun harus diantar langsung kepengrajin rotan di Amuntai.
"Sekarang rotan banyak cuman pembeli dan harganya yang tidak menentu. Mudahan pemerintah bisa segera mencarikan solusi masalah ini, agar harga rotan bisa naik lagi dan kami masyarakat pun bisa mengais rejeki lewat hasil hutan berupa rotan," harapnya.
Mamagat itulah istilah yang dipakai warga Balangan untuk menyebut orang yang mencari rotan di hutan untuk dijual.
Rutinitas mamagat inilah yang telah digeluti Aspi (30 tahun) warga desa Mihu Kecamatan Juai sejak tahun 2003 silam hingga kini.
Menurut ayah satu anak ini, mencari rotan sudah menjadi mata pencarian baginya disamping bertani dan menyedap karet untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sehari-hari.
Mencari rotan, kata Aspi, bukan hanya digeluti dirinya tetapi juga oleh warga lain, apalagi saat kondisi harga karet anjlok pasti banyak warga yang mencari rotan sebagai alternatif mata pencarian.
“Kalau dulu mencari rotan ini cukup disekitar sudah dapat banyak. Tapi sekarang, karena banyak hutan jadi perkebunan dan adanya tambang maka harus masuk hutan berjam-jam untuk mencari rotan," ujar Aspi saat ditemuai dikediamannya.
Minimal 4 hari dalam seminggu, kata Aspi, dia bersama tiga warga desanya menyusuri hutan guna mencari rotan untuk dijual.
untuk hasil mencari rotan, menurut dia, masih lumayan jika dibanding dari hasil menyadap karet, karena hasilnya lebih banyak apalagi kini saat harga karet masih murah.
Dalam sehari menurut pria tamatan SLTP ini, dirinya bisa mendapatkan 50 sampai 100 batang rotan jenis Walatung dengan harga jual Rp.1700 per batangnya.
"Lumayan lah kalo mencari Walatung ini saya bisa dapat uang 100 sampai 200 ribu perhari. Dibanding dengan menyadap karet lebih banyak mencari Walatung," ungkapnya.
Harga walatung saat ini, menurut Aspi, sudah sangat jauh turunnya dari dulu sebelum adanya larangan ekspor rotan keluar negeri.
Kalo tahun 2003an dulu, lanjut Aspi, harga rotan jenis walatung mencapai harga Rp. 3500 perbatangnya sedangkan Manau sampai Rp. 8000 perbatang.
Kalau sekarang, Walatung hanya seharga Rp.1700 dan Manau Rp. 3000 itupun harus diantar langsung kepengrajin rotan di Amuntai.
"Sekarang rotan banyak cuman pembeli dan harganya yang tidak menentu. Mudahan pemerintah bisa segera mencarikan solusi masalah ini, agar harga rotan bisa naik lagi dan kami masyarakat pun bisa mengais rejeki lewat hasil hutan berupa rotan," harapnya.
Kerajinan Kulit Kayu Potensi Ekonomi Kreatif Tersembunyi
Satu lagi potensi ekonomi kreatif yang dimiliki warga Dayak Meratus Balangan yang hingga kini belum tersentuh yakni, kerajinan dari kulit kayu.
Kerajinan khas dan unik dari kulit kayu ini berada di desa Liyu Kecamatan Halong, berbagai barang dihasilkan seperti tas dan topi dari lembaran kulit kayu Tarap Hundang (Terap) berkat tangan suku dayak Deah ini.
Salah satu pembuat kerajinan kulit kayu ini, Ali Ancin mengungkapkan, semua proses pembuatan kerajinan kulit kayu ini dilakukan secara tradisional, dimulai dari proses kulit kayu menjadi lembaran kulit hingga pada pembuatan kerajinan.
"Kerajinan ini dimulai dengan mengulah kulit kayu Tarap menjadi lemberan kulit yang halus dan tipis dengan cara dipungkul secara terus menerus," ucapnya saat Media Kalimantan bertandang di kediamannya.
Pengambil kulit kayu sendiri, menurut Ancin, ada hitungan waktu tertentu salah satunya, saat kondisi mengambil kulit kayu harus dalam ringan hati (senang/tanp ada masalah).
Selain itu, umur dan ukuran kayu Tarap yang diambil kulitnya juga menjadi hitungan tersendiri sebelum diambil.
"Hingga kini kerajinan ini baru sebatas untuk kebutuhan kami sendiri dan sekali dua untuk diberikan kepada orang lain sebagai cendra mata. Sedangkan, untuk dijual belum secara luas belum ada, karena untuk memasarkannya belum ada," paparnya.
Padahal, dengan memanfaatkan potensi lokal ini, tidaklah mustahil bila sebuah peluang usaha yang menjanjikan akhirnya bisa tercipta demi mendukung ekonomi masyarakat sekitar.
Bagasing
Permanian Gasing merupakan salah satu bentuk permainan rakyat yang bersifat tradisional yang sudah lama tengelam ini, oleh warga desa Sumsum Kecamatan Tebing Tinggi mulai kembali dimainkan.
Selain memainkankan tiap sore secara berkelompok, para warga Sumsum juga berencana akan mengelar kejuaran permainan Gasing ini secara luas.
"Kita para orang tua masih menyimpan Gasing yang dibuat dan dimainkan sekitar tahun 1970'an lalu. Sayang kalau, permainan lawas ini hilang," ujar salah satu warga Samsunur (50 tahun).
Menurut lelaki paru baya ini, dulu saat dia kecil, permainan Gasing ini hampir tiap hari dilakukan oleh anak-anak hingga orang dewasa.
Dulunya permainan ini, lanjut dia, dimainkan sata pada musim katam banih (panen padi) hampir diseluruh desa.
"Dulu permainan ini bukan hanya dimainkan antar anak disatu desa, tapi juga antar desa bahkan antar wilayah atau istilahnya Basasarangan," bebernya.
Ditambahkan warga lainnya, Aidi (46 tahun), bentuk Gasing ini bergai jenis, dimana kebanyakan bentuk ditamsilkan (Perumpaan) dengan bentuk benda seperti, Balanai (tempat padi), Tajau (tempat air) dan piringan (Piring).
"Gasing biasanya dibuat dari taras (inti kayu) pohon Kusi, karena struktur kayu yang a lot dan berat," bebernya.
Selain itu, lanjut dia, permainan Gasing ini dibagi dua yakni, paling lama berputar dan ada kuat.
Kalau adu kuat, kata Aidi, disebut dengan Bapantau (saling hantap) dan
Baturai (balalawasan).
"Permanian Gasing ini dimulai dengan ucapan kalimant Rai batuturaian balalu jadi sebagai aba-aba tanda bagi pemain melimparkan Gasingnya," pungkasnya
Tuesday, 9 August 2016
HUT RI Ke 71
Sambut
HUR RI Tampilkan Drama Klosal
PARINGIN, Menjelang peringatan HUT RI Ke 71 berbagai persiapan dan agenda telah
disusun Koramil 1001-04 Batumandi mulai dari perbaikan perkarangan kantor
hingga latihan untuk pegelaran drama klosal.
Menurut
Danramil
1001-04/Batumandi Kapten
Arm Anthonius Dwi Wardhana pelaksanakan perbaikan Kantor dan Semenisasi
Lapangan Apel Koramil ini dilakukan dengan swadaya satuan dan bantuan dari
mitra serta masyarakat.
“Perbaikan
ini selaian bagian persiapan menyambut HUT RI juga sebagai sarana memberikan
contoh perkarangan yang baik dan sehat bagi masyarakat. Makanya kami buat taman
ditanami tanaman obat dan sayur mayur, selain itu kita jua membuat kolam yang
diisi dengan ikan khas banua yakni, ikan Papuyu," bebernya.
Selain
perbaikan taman ini, lanjut Antonios, pihaknya juga akan mengelar pertunjukan
drama klosal tentang perjuangan Tumenggung Jalil yang merupakan tokoh pejuang
asal Balangan yang turut berjuang dengan Pengeran Antasatri di Benteng Tundakan
melawan penjajah Belanda.
“Lewat
pertunjukan drama klosal nanti, kita berharap masyarakat lebih dapat mengenal
tokoh pejuang daerah dengan begitu rasa menghargai jasa pejuang yang diterapkan
dengan mencintai daerah serta turut serta membangun daerah dapat meningkatkat. Saya
juga berpesan kepada masyarakat agar terus menjaga keharmonisan antar
masyarakat sehingga tercipta keamanan dan kenyaman dalam kehidupan sehari-hari,’’
pungkasnya. (sugi)
Keliling Indonesia Bersepeda
Andik Pengeliling
Indonisia Mampir Di Balangan
PARINGIN, Raden
Andik Parwira (69) dengan sebuah sepeda disertai dua bundel tas dan bendera
Merah Putih berkibar di belakangnya, menyambangi di Sekretariat DPRD Balangan
di Jalan A Yani KM 1 Paringin Selatan. Selasa (9/8) kemarin.
Kedatangan ayah dari
tujuh anak tersebut disambut langsung oleh Wakil Ketua DPRD Balangan M Nor
Iswan di ruang kerjanya. Tujuan Andik mampir cuma ingin minta stempel DPRD
Balangan dan tanda tangan pimpinannya sebagai tanda bukti bahwa ia telah
melintasi Bumi Sanggam.
Kakek dengan 12 cucu ini
mengungkapkan, Balangan merupakan kabupaten kota ke 274 di Nusantara yang sudah
dikunjunginya daam agenda mengelilingi
Indonesia dengan bersepeda.
“Tinggal tigabelas
provinsi lagi, yakni tiga provinsi di Kalimantan dan sepuluh provinsi di Pulau Sumatera
maka misi saya mengelilingi Indonesia terwujud,’’ ujar kelahiran Banten 4
Agustus 1943 silam ini.
Menurut Andik, dirinya
sudah memulai misinya mengelilingi Indonesia sejak 16 September 2014, dan jarak
yang sudah ditempuh sejauh 26.000 KM yang terdiri dari daratan dan lautan.
Misinya mengelilingi
Indonesia dengan sepeda ini, menurut pensiunan Kasubdin Dishut Provinsi Kalteng,
selain ingin memecahkan rekor MURI juga untuk mengkampanyekan pelestarian hutan
yang sekarang keberadaannya kurang diperhatikan.
Diakui Andik, sepanjang
melintasi wilayah Kalimantan kondisi hutan masih relative bagus, tapi dirinya
prihatin dengan keberadaan tambang
batubara dan lahan perkebunan sawit yang
secara tidak langsung akan menghilangkan eksistensi hutan sebagai jantung
Kalimantan bahkan dunia jika terus dibiarkan marajalela.
“Sawit dan Tambang
harus dievaluasi lagi keberadaanya, jangan sampai dua sektor ini dibiarkan
tanpa kendali. Karena dua bidang usahanya menjadi ancaman serius kerusakan
lingkungan termasuk hutan secara makro,’’ pesannya.
Yang menarik dari pria
berjabang ini ternyata, meskipun lahir di Banten tetapi dirinya sudah tinggal
di Banjarmasin sejak tahun 1977 bahkan hingga kini KTP masih beralamatkan kota
Banjarmasin.
"Ulun urang Banjar
jua, KTP gen Banjarmasin. Setelah ini kalau diberi umur panjang, saya akan
mengelilingi benua Australia dengan bersepeda," ucap pria nyentrik yang
mengaku juga menguasai beberapa bahasa daerah ini.
Wakil Ketua DPRD
Balangan M Nor Iswan yang menyambut kedatangan Andik sangat mengapresiasi
semangat pria paruh baya seperti Andik, yang mengisi waktu tua dengan
mengelilingi Indonesia berangkat dari kepeduliannya terhadap kelestarian hutan
dan lingkungan.
"Ini patut kita
contoh. Terlepas dari itu, beliau mengajarkan kita untuk hidup sehat dengan
bersepeda," pungkasnya. (sugi)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Waspada Kematian Bayi Masyarakat khususnya para orang tua, dimintai mewaspadai pada bulan februari sampai April mendatang. ...
-
Tatanjang Alat Menanam Jika Tajak digunakan untuk membersihan lahan pertanian sebelum tanam, maka Tatanjang, Tatujah atau Tatajuk d...
-
PAHAJATAN, “KAMPUNG KECIL” TEMPAT WARGA MEMOHON HAJAT Di Balangan, tepatnya di Desa Tungkap, Paringin Selatan, terdapat se...
-
Nilai Sejarah Semakin Dilupakan Benteng Tundakan bukan satu-satunya objek bersejarah yang terkesan terbangkalai tanpa sedikit pun ada ...




