Angka Pencari Kerja Masih Tinggi
PARINGIN, Angka pencari kerja di Balangan masih tinggi, dimana
hingga akhir Juli lalu sedikitnya ada 773 orang tercatat membuat kartu
pecari kerja (AK1 atau kartu kuning) di Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan
Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Balangan.
“Ada 773 orang yang mengurus AK1 atau kartu kuning,” kata Kabid Tenaga Kerja pada M. Johansyah. Z, Selasa (2/8) di kantornya.
Dari 773 pencari kerja ini, kata Johansyah, 52 orang diantaranya sudah mendapat pekerjaan.
Untuk jumlah pencari kerja sendiri, lanjut dia, tentu bertambah banyak
jika dikalkulasikan dengan jumlah pencari kerja tahun sebelumnya yang
belum mendapat kerja.
"Untuk mempermudah para pencari kerja kami selalu memberitahukan laporan
lowongan kerja yang disampaikan oleh perusahaan yang beroperasi di
Balangan bagi mereka pencari kerja," bebernya.
Terkait lowongan kerja yang disampaikan perusahaan ini, menurut Johansyah, merupakan sebuah kewajiban bagi perusahaan.
"Hal ini sesuai dengan Keputusan Presiden (Keppres) No.4 Tahun 1980
tentang wajib lapor lowongan pekerjaan. Jadi, perusahaan wajib
melaporkan jika ada kesempatan kerja di perusahaannya,” tegasnya.
Ia menambahkan, dalam pasal 2 Keppres No.4 Tahun 1980 tersebut
dijelaskan bahwa setiap perusahaan wajib melaporkan secara tertulis ke
instansi terkait apabila ada lowongan pekerjaan.
“Selain itu, bagi perusahaan yang sudah menerima tenaga kerja dapat juga
harus melaporkan ke Dinsosnakertrans Balangan sehingga bisa terdata
berapa jumlah pencari kerja yang sudah mendapat pekerjaan,”
pungkasnya.(sugi)
Monday, 8 August 2016
Banyak Siswa Baru Akui Pernah Konsumsi Narkoba
Banyak Siswa Baru Akui Pernah Konsumsi Narkoba
PARINGIN, Peredaran gelab Narkoba sudah sangat mengawatirkan, ini dibuktikan dengan pernyataan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Balangan. Dari hasil kunjungan pihaknya sekolah, sejumlah murid baru mengakui pernah mengkonsumsi narkoba dan obat-obatan terlarang.
"Dari kunjungan kami kesekolah, ada saja murid baru yang mengaku pernah mengkonsumsi Narkoba.
Bahkan 39 dari 170 siswa baru salah satu SMA di Balangan mengakui pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang mulai dari zenith hingga sabu-sabu," beber Kepala BNN Balangan AKBP Abdul Muthalib.
Sedangkan di salah satu Madrasah Aliyah Negeri (MAN), lanjut Muthalib, dari 60 siswa baru delapan di antaranya secara blak-blakan mengaku pernah menyalahgunakan obat yang masuk daftar G tersebut.
"Dan untuk tingkatan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN), sepuluh dari 65 siswa kelas IX yang diwawancarai secara terbuka menyatakan pernah mencoba zenith bahkan hingga hampir candu," ungkapnya.
Menyikapi permasalahan ini, pihaknya kata mantan Wakapolres Balangan ini, terus akan berupaya melakukan pencegahan penyalahgunaan Narkoba diusia sekolah dengan melibatkan lembaga kependidikan terutama sekolah-sekolah.
Selain itu, lanjutnya, juga akan melakukan rehabilitasi rawat jalan kepada anak-anak yang mengaku tersebut sesuai kemampuan, baik dari tenaga hingga dana yang dimiliki oleh BNN Balangan.
Untuk itu ia mengajak semua pihak khususnya pemerintah dan masyarakat serta orang tua siswa ini, agar bersama-sama membentengi anak-anak penerus generasi bangsa ini dari penyalahgunaan narkoba dan sejenisnya.
"Pengakuan anak-anak ini patut kita apresiasi dan ditindaklanjuti secara bersama. Agar masalah ini jangan berlarut-larut dan menimbul masalah baru," pungkasnya. (sugi)
PARINGIN, Peredaran gelab Narkoba sudah sangat mengawatirkan, ini dibuktikan dengan pernyataan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Balangan. Dari hasil kunjungan pihaknya sekolah, sejumlah murid baru mengakui pernah mengkonsumsi narkoba dan obat-obatan terlarang.
"Dari kunjungan kami kesekolah, ada saja murid baru yang mengaku pernah mengkonsumsi Narkoba.
Bahkan 39 dari 170 siswa baru salah satu SMA di Balangan mengakui pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang mulai dari zenith hingga sabu-sabu," beber Kepala BNN Balangan AKBP Abdul Muthalib.
Sedangkan di salah satu Madrasah Aliyah Negeri (MAN), lanjut Muthalib, dari 60 siswa baru delapan di antaranya secara blak-blakan mengaku pernah menyalahgunakan obat yang masuk daftar G tersebut.
"Dan untuk tingkatan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN), sepuluh dari 65 siswa kelas IX yang diwawancarai secara terbuka menyatakan pernah mencoba zenith bahkan hingga hampir candu," ungkapnya.
Menyikapi permasalahan ini, pihaknya kata mantan Wakapolres Balangan ini, terus akan berupaya melakukan pencegahan penyalahgunaan Narkoba diusia sekolah dengan melibatkan lembaga kependidikan terutama sekolah-sekolah.
Selain itu, lanjutnya, juga akan melakukan rehabilitasi rawat jalan kepada anak-anak yang mengaku tersebut sesuai kemampuan, baik dari tenaga hingga dana yang dimiliki oleh BNN Balangan.
Untuk itu ia mengajak semua pihak khususnya pemerintah dan masyarakat serta orang tua siswa ini, agar bersama-sama membentengi anak-anak penerus generasi bangsa ini dari penyalahgunaan narkoba dan sejenisnya.
"Pengakuan anak-anak ini patut kita apresiasi dan ditindaklanjuti secara bersama. Agar masalah ini jangan berlarut-larut dan menimbul masalah baru," pungkasnya. (sugi)
PNS Ogah Jadi Petugas Khusus
PNS Ogah Jadi Petugas Khusus
PARINGIN, Para PNS dilingkup Pemkab Balangan bisa dibilang masih ogah untuk mengambil profesi khusus (petugas khusus) dalam karir kepegawaian.
Ini terbukti dengan banyaknya petugas khusus yang seharusnya berada ditingkat Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) yang diisi oleh para PNS tidak terisi lantaran para PNS enggan menempatinya.
Diantara petugas khusus yang hingga kini masih kosong yakni, Pengawas Mutu Hasil Pertanian (PMHP), Petugas Pengawasan Ketenagakerjaan, Petugas Penyalur Ketenagakerjaan, Petugas Mediator Ketenaga Kerjaan dan lainnya.
Padahal keberadaan para petugas khusus ini sangat penting keberadaannya, karena sangat dibutuhkan langsung oleh masyarakat luas. Petugas Pengawas Pangan misalnya, berkewajiban melakukan pembinaan dan pengawasan mutu hasil pertanian di daerah agar bahan pangan dapat terjamin mutu dan keamanannya. Sedangkan Pengawasan Ketenagakerjaan bertugas mengawasi dan menegakkan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan, sehingga keseimbangan antara hak dan kewajiban bagi pengusaha dan pekerja dapat terpenuhi.
Kabid Tenaga Kerja pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Balangan M. Johansyah. Z mengakui, jika tidak adanya petugas khusus dibidang ketenagakerjaan karena para pegawai tidak ada yang berminat menjadi petugas khusus tersebut.
"Kita sudah pernah mengusulkan pengadaan petugas khusus ini. Tapi para pegawai tidak ada yang berminat lantaran waktu pelatihan yang harus diikuti cukup lama," ujar Johansah.
Rata-rata lama waktu pelatihan, lanjut dia, berkisar antara 4 sampai 6 bulan yang harus diikuti pegawai jika ingin menjadi petugas ini.
"Kabanyak pegawai menolak menjadi petugas khusus dengan alasan waktu pelatihan lama dan kita tidak bisa juga memaksa mereka harus ikut," bebernya.
Senada dengan itu, Plt Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluh Pertanian (BKP3) Kabupaten Balangan Rahmadi Oe'un Stivus mengakui, jika hingga kini SKPD yang dia pimpin belum memiliki petugas PMHP lantaran tidak adanya pegawai yang mengikuti pelatihan guna menjadi petugas khusus itu.
"Dulu ada pegawai kita yang ikut pelatihan petugas PMHP ini, tapi yang bersangkutan pindah tugas ke provinsi," ungkapnya.
Jadi hingga kini, lanjut Rahmadi, pihaknya belum memiliki petugas PMHP karena belum ada pegawai yang mengikuti pelatihan sebagai syarat utama menjadi petugas PMHP.
"Petugas PMHP ini harus pegawai fungsional bukan struktural. Jadi saat ini kita masih memilah pegawai untuk mengikuti pelatihan guna menjadi petugas PMHP," jelasnya.
Terpisah Kabid Promosi dan Penempatan Pegawai pada Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Balangan H Rahmi saat dikonfirmasi terkait masalah ini mengatakan, permasalahan ini sebenarnya sudah menjadi bahan evaluasi di BKD bahkan sudah disampaikan kepemerintah pusat.
Tapi karena kondisi kepegawaian Pemkab Balangan, kata Rahmi, pihaknya tidak bisa melakukan banyak hal.
"Jumlah pegawai kita masih terbatas, jadi tidak memaksa para pegawai untuk harus menjadi petugas khusus itu. Kalau kita paksakan juga ditakutakan bisa menganggu kinerja pegawai terhadap tugas lainnya," pungkasnya. (sugi)
PARINGIN, Para PNS dilingkup Pemkab Balangan bisa dibilang masih ogah untuk mengambil profesi khusus (petugas khusus) dalam karir kepegawaian.
Ini terbukti dengan banyaknya petugas khusus yang seharusnya berada ditingkat Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) yang diisi oleh para PNS tidak terisi lantaran para PNS enggan menempatinya.
Diantara petugas khusus yang hingga kini masih kosong yakni, Pengawas Mutu Hasil Pertanian (PMHP), Petugas Pengawasan Ketenagakerjaan, Petugas Penyalur Ketenagakerjaan, Petugas Mediator Ketenaga Kerjaan dan lainnya.
Padahal keberadaan para petugas khusus ini sangat penting keberadaannya, karena sangat dibutuhkan langsung oleh masyarakat luas. Petugas Pengawas Pangan misalnya, berkewajiban melakukan pembinaan dan pengawasan mutu hasil pertanian di daerah agar bahan pangan dapat terjamin mutu dan keamanannya. Sedangkan Pengawasan Ketenagakerjaan bertugas mengawasi dan menegakkan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan, sehingga keseimbangan antara hak dan kewajiban bagi pengusaha dan pekerja dapat terpenuhi.
Kabid Tenaga Kerja pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Balangan M. Johansyah. Z mengakui, jika tidak adanya petugas khusus dibidang ketenagakerjaan karena para pegawai tidak ada yang berminat menjadi petugas khusus tersebut.
"Kita sudah pernah mengusulkan pengadaan petugas khusus ini. Tapi para pegawai tidak ada yang berminat lantaran waktu pelatihan yang harus diikuti cukup lama," ujar Johansah.
Rata-rata lama waktu pelatihan, lanjut dia, berkisar antara 4 sampai 6 bulan yang harus diikuti pegawai jika ingin menjadi petugas ini.
"Kabanyak pegawai menolak menjadi petugas khusus dengan alasan waktu pelatihan lama dan kita tidak bisa juga memaksa mereka harus ikut," bebernya.
Senada dengan itu, Plt Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluh Pertanian (BKP3) Kabupaten Balangan Rahmadi Oe'un Stivus mengakui, jika hingga kini SKPD yang dia pimpin belum memiliki petugas PMHP lantaran tidak adanya pegawai yang mengikuti pelatihan guna menjadi petugas khusus itu.
"Dulu ada pegawai kita yang ikut pelatihan petugas PMHP ini, tapi yang bersangkutan pindah tugas ke provinsi," ungkapnya.
Jadi hingga kini, lanjut Rahmadi, pihaknya belum memiliki petugas PMHP karena belum ada pegawai yang mengikuti pelatihan sebagai syarat utama menjadi petugas PMHP.
"Petugas PMHP ini harus pegawai fungsional bukan struktural. Jadi saat ini kita masih memilah pegawai untuk mengikuti pelatihan guna menjadi petugas PMHP," jelasnya.
Terpisah Kabid Promosi dan Penempatan Pegawai pada Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Balangan H Rahmi saat dikonfirmasi terkait masalah ini mengatakan, permasalahan ini sebenarnya sudah menjadi bahan evaluasi di BKD bahkan sudah disampaikan kepemerintah pusat.
Tapi karena kondisi kepegawaian Pemkab Balangan, kata Rahmi, pihaknya tidak bisa melakukan banyak hal.
"Jumlah pegawai kita masih terbatas, jadi tidak memaksa para pegawai untuk harus menjadi petugas khusus itu. Kalau kita paksakan juga ditakutakan bisa menganggu kinerja pegawai terhadap tugas lainnya," pungkasnya. (sugi)
Anggota Polres Dilatih Penanganan Tabung Gas
Anggota Polres Dilatih Penanganan Tabung Gas
PARINGIN, Kebaradaan tabung gas menjadi salah satu kebutuhan pokok rumah tangga, namun keberadaannya sering memberikan rasa was-was bagi pengunanya sebab bisa meledak (terbakar) jika dalam kondisi rusak digunakan.
Mengantisipasi minimnya pengetahuan tentang bahaya tabung gas ini, Polres Balangan mendatangkan PT. Multi Guna Sejati sebagai salah satu distributor Tabung Gas untuk memberikan pengetahuan tentang penangganan bahaya terjadinya kebakaran akibat tabung gas yang bocor.
"Dalam pelatihan ini anggota kita diberikan bagaimana cara penanganan kebocoran gas dan langkah - langkah yang harus diambil," ujar Wakapolres Balangan Kompol Reinaldo Kamis kemarin.
Diantara materi yang diberikan pada pelatihan ini, kata Reinaldo, cara mencek masa kadaluarga tabung gas, kondisi regulator dan penangan kebocoran saat digunakan.
"Kepada para anggota yang ikut pelatihan ini akan kita intruksikan untuk meneruskan ilmu penangganan bahaya kebocoran gas elpiji ini kepada masyarakat sekitar maupun di desa binaannya sehingga angka bencana kebakaran yang sering terjadi akibat kebocoran gas dapat diminimalisir," pungkasnya. (sugi)
PARINGIN, Kebaradaan tabung gas menjadi salah satu kebutuhan pokok rumah tangga, namun keberadaannya sering memberikan rasa was-was bagi pengunanya sebab bisa meledak (terbakar) jika dalam kondisi rusak digunakan.
Mengantisipasi minimnya pengetahuan tentang bahaya tabung gas ini, Polres Balangan mendatangkan PT. Multi Guna Sejati sebagai salah satu distributor Tabung Gas untuk memberikan pengetahuan tentang penangganan bahaya terjadinya kebakaran akibat tabung gas yang bocor.
"Dalam pelatihan ini anggota kita diberikan bagaimana cara penanganan kebocoran gas dan langkah - langkah yang harus diambil," ujar Wakapolres Balangan Kompol Reinaldo Kamis kemarin.
Diantara materi yang diberikan pada pelatihan ini, kata Reinaldo, cara mencek masa kadaluarga tabung gas, kondisi regulator dan penangan kebocoran saat digunakan.
"Kepada para anggota yang ikut pelatihan ini akan kita intruksikan untuk meneruskan ilmu penangganan bahaya kebocoran gas elpiji ini kepada masyarakat sekitar maupun di desa binaannya sehingga angka bencana kebakaran yang sering terjadi akibat kebocoran gas dapat diminimalisir," pungkasnya. (sugi)
Keaneka Ragaman Budaya Harus Dijaga
Keaneka Ragaman Budaya Harus Dijaga
PARINGIN, Keaneka ragaman adat budaya yang dimiliki Balangan merupakan sebuah kekayaan daerah yang tak ternilai harganya.
Untuk itulah, Bupati Balangan H Ansharuddin berharap, kekayaan budaya yang telah dijaga oleh para leluhur termasuk masyarakat adat untuk terus dijaga dan dilestarikan.
"Banua kita memiliki berbagai keaneka-ragaman, sama halnya struktur wilayah yang membentang dari dataran rendah hingga ke lereng pegunungan, demikian pula dalam hal adat istiadat, budaya, agama dan keyakinan, kita dianugerahi keaneka-ragaman yang semakin memperkaya daerah kita," beber Ansharuddin.
Sebagai masyarakat, lanjut Anshar, kita harus benar-benar menyadari bahwa keaneka-ragaman dalam berbagai hal yang ada merupakan suatu kekayaan, sehingga harus dipelihara dan lestarikan.
"Tidak kalah penting, di antara berbagai unsur yang berbeda-beda itu harus selalu kita upayakan dan pelihara adanya keselarasan, sehingga semua dapat hidup berdampingan secara harmonis, yang mana situasi demikian merupakan pra-syarat bagi kita untuk dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan tenang, tentram, serta melaksanakan pembangunan menuju lebih maju tanpa meninggalkan adat dan budaya luhur," pungkasnya. (sugi)
PARINGIN, Keaneka ragaman adat budaya yang dimiliki Balangan merupakan sebuah kekayaan daerah yang tak ternilai harganya.
Untuk itulah, Bupati Balangan H Ansharuddin berharap, kekayaan budaya yang telah dijaga oleh para leluhur termasuk masyarakat adat untuk terus dijaga dan dilestarikan.
"Banua kita memiliki berbagai keaneka-ragaman, sama halnya struktur wilayah yang membentang dari dataran rendah hingga ke lereng pegunungan, demikian pula dalam hal adat istiadat, budaya, agama dan keyakinan, kita dianugerahi keaneka-ragaman yang semakin memperkaya daerah kita," beber Ansharuddin.
Sebagai masyarakat, lanjut Anshar, kita harus benar-benar menyadari bahwa keaneka-ragaman dalam berbagai hal yang ada merupakan suatu kekayaan, sehingga harus dipelihara dan lestarikan.
"Tidak kalah penting, di antara berbagai unsur yang berbeda-beda itu harus selalu kita upayakan dan pelihara adanya keselarasan, sehingga semua dapat hidup berdampingan secara harmonis, yang mana situasi demikian merupakan pra-syarat bagi kita untuk dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan tenang, tentram, serta melaksanakan pembangunan menuju lebih maju tanpa meninggalkan adat dan budaya luhur," pungkasnya. (sugi)
Kalsel Expo
Potensi Balangan Hiasi Kalsel Expo
PARINGIN, Kalsel Expo yang digelar sejak 5 hingga 9 Agustus (hari ini red) menjadi ajang Balangan memperkenalkan daerahnya khususnya produk unggul yang dihasilkan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Balangan, Akhriani mengungkapkan, Balangan kembali mengikuti Kalsel Expo yang berpusat di Kota Banjarbaru dalam rangka HUT ke 66 Provinsi Kalsel.
Untuk mengisi stand Balangan, kata Akhriani, pada Kalsel Expo 2016 ini pihaknya bekerja sama dengan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) setempat dalam hal apa saja yang ditampilkan (dipamerkan).
"Karena selain memamerkan pembangunan Balangan, kami juga menawarkan berbagai produk unggulan khas Balangan," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Disperindagkop Balangan, Rahmadi Yusni mengatakan, untuk produk unggulan yang dipamerkan pada Kalsel Expo 2016 kali ini yaitu terdiri dari berbagai makanan olahan dan kerajinan khas Balangan seperti sirup Batumandi, mandai crispy, olahan kayu gaharu, anyaman bamban dan bambu kecil serta yang lainnnya.
Pada kesempatan mengunjungi stand Balangan pada Kalsel Expo 2016 ini, Bupati Balangan H Ansharuddin mengatakan, Kalsel Expo merupakan media yang bagus untuk memperkenalkan Balangan kepada masyarakat Kalsel. Supaya masyarakat tahu bahwa selain potensi wisata alam yang indah, Balangan juga memiliki kuliner khas dan kerajinan asal Balangan.
"Kita memaksimalkan gelaran Ekspo ini sebagai media promosi daerah kita agar lebih dikenal secara luas dan berharap banyak investor melirik potensi yang kita miliki untuk dikembangkan secara intensif," imbuhnya. (sugi)
Warga Harapkan Job Fair
Warga Balangan Harapkan Job Fair
PARINGIN, Jika daerah lain rutin tiap tahunnya mengelar Pameran bursa kerja (Job Fair) untuk sarana memfasilitasi warganya untuk lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Tidak dengan Kabupaten Balangan, sejak bendiri sebagai sebuah Kabupaten 13 tahun yang lalu, hingga kini belum pernah sekalipun mengelarnya.
Padahal pelaksanaan Job Fair ini, menjadi salah satu cara memfasiltasi secara langsung bagi warga yang belum mendapatkan pekerjaan dan membutuhkan pekerjaan sekaligus mengurangi jumlah pengangguran yang ada serta menjamin terjalin kerjasama yang solid antara pemerintah dengan pihak pengguna tenaga kerja.
Salah satu warga Balangan, Akmad Fadilah berharap Balangan mengelar Job Fair sebagaimana daerah lain.
Kalau ada Job Fair, kata warga Paringin ini, tentu cukup membant bagi warga yang belum mendapatkan pekerjaan dan membutuhkan pekerjaan.
“Paling tidak dengan adanya Job Fair kita para pengangguran merasa difasilitasi oleh pemerintah dalam mencari pekerjaan. Apalagi di Balangan, banyak perusahaan yang beroperasi, apa susahnya mengelar Job Fair,’’keluhnya.
Terkait belum pernahnya digelar Job Fair di Bumi Sanggam, Kabid Tenaga Kerja pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Balangan M. Johansyah. Z tidak menampik jika pihaknya belum pernah mengelar pemeran bursa kerja selama ini.
“Memang kita belum pernah mengelar Job Fair, tapi tahun kemarin pas pemeran hari jadi kita membuka lowongan kerja yang disediakan perusahaan dengan menampilkan daftar kebutuhan perusahaan terhadap tenaga kerja,’’ ujarnya.
Selain itu, kata Johansyah, selama ini guna mefasilitasi para pencari kerja pihaknya memberitahukan laporan lowongan kerja yang disampaikan oleh perusahaan yang beroperasi di Balangan dengan membuat pengumuman secara langsung.
Terlepas dari itu, lanjut dia, ada beberapa kendala yang dihadapinya pihaknya dalam memfasilitasi para pencari kerja yang ada di Balangan.
“Kita hingga kini belum mempunyai Petugas Pengawasan Ketenagakerjaan, Petugas Penyalur Ketenagakerjaan, Petugas Mediator Ketenaga Kerjaan sehingga penyeluran dan pengawasan tenaga kerja belum bisa maksimal. Tidak adanya petugas khusus dibidang ketenagakerjaan ini karena para pegawai tidak ada yang berminat menjadi petugas khusus tersebut. Kita sudah pernah mengusulkan pengadaan petugas khusus ini. Tapi para pegawai tidak ada yang berminat lantaran waktu pelatihan yang harus diikuti cukup lama,"pungkasnya.(sugi)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Waspada Kematian Bayi Masyarakat khususnya para orang tua, dimintai mewaspadai pada bulan februari sampai April mendatang. ...
-
Tatanjang Alat Menanam Jika Tajak digunakan untuk membersihan lahan pertanian sebelum tanam, maka Tatanjang, Tatujah atau Tatajuk d...
-
PAHAJATAN, “KAMPUNG KECIL” TEMPAT WARGA MEMOHON HAJAT Di Balangan, tepatnya di Desa Tungkap, Paringin Selatan, terdapat se...
-
Nilai Sejarah Semakin Dilupakan Benteng Tundakan bukan satu-satunya objek bersejarah yang terkesan terbangkalai tanpa sedikit pun ada ...




