Saturday, 10 December 2016
Jalan Baliuk Tradisi Pengantin Di Pahuluan
Jika tradisi Pangantin Bausung atau Bausung Pangantin dikenal menjadi ciri khas dari kebudayaan urang banua saat menjalani prosesi perkawinan (ba'arak pangantin), ternyata banyak tradisi unik lainnya yang ada saat berlangsung prosesi perkawinan khususnya di daerah hulu sungai.
Salah satunya "Jalan Liuk" yang hingga kini tradisi turun termurun tersebut masih dilestarikan oleh warga desa Marias Kecamatan Juai saat melangsungkan acara pengantinan.
Tradisi "Jalan Liuk" dilaksanakan pada malam hari sesudah siangnya digelar persepsi kedua mempelai. Keunikan tradisi ini, ialah pengatin harus masuk kejalur kotak-kotak yang dibuat dari tali dan mirip taman labirin dari dua buah pintu bersebarang dan harus bisa bertemu ditenga-tengah.
Menurut salah satu tokoh masyarakat desa Marias
H Syaprani (64 tahun) tradisi Jalan Liuk ini sudah menjadi tradisi turun temurun di masyarakat dan hingga kini masih diletarikan.
Tradisi Jalan Liuk, kata Syaprani, dilakukan pada malam hari ditengah tanah lapang yang sudah buat jalur jalan berkelok-kelok (Baliuk-baliuk) dengan mengunakan tali dan pengantin beserta pengiringannya harus bisa menemukan jalan agar sampai ditengah-tengah sehingga bisa bertemu dengan pasangannya.
"Pasangan pengantin harus terpisah satu sama lain saat masuk diareal jalan baliuk yang dibuat. Pasangan pangntin juga ditemani tiga orang Pantul, satu bertugas sebagai penunjuk jalan dan dua lainnya sebagai pengiring," ujar pria paru baya ini.
Selain ditemani Pantul, kata pelaku tradisi jalan liuk ini, saat acara Jalan Liuk dilaksanakan juga harus diiringi musik gemalan dari awal sampai akhir.
Tradisi Jalan Liuk ini, lanjut dia, bukan hanya sekedar tradisi hiburan tapi juga mengandung pembelajaran serat makna dibaliknya.
"Tradisi Jalan Liuk ini sebenarnya adalah sebagai nasihat bagi pasangan pangantin, jika dalam mengarungi kehidupan rumah tangga nantinya pasti mengalami berbagai masalah. Inilah yang dimaksud Jalan Baliuk, artinya kehidupan rumah tangga tidak hanya akan senang selalu jalannya lurus tapi juga akan ada masalah yakni, jalannya Baliuk," jelasnya.
Lebih jauh, dirinya mengungkapkan, selain tradisi Jalan Liuk juga ada beberapa tradisi lainnya pada upacara pengantin diantaranya, Bausung, Bahantu Sandah dan Basisingaan.
Hantu Sandah sendiri, menurutnya, sejenis ondel-ondel tapi wajahnya dibikin seram sedangkan sisinggaan merupakan duplikan singga yang dimainkan oleh dua orang sama seperti Barongsai.
"Hantu Sandah dan Sisinggan ini mengambarkan makhluk dari gunung atau hutan yang datang ketempat keramain," jelasnya.
Balawang Tujuh Bagunung Api Bagi Bagi Janda Yang Kawin Lagi
"Pung pung halu gara gicak giyang-giyang, takumpul sama pada balu jangan bahiri nang bujang, Pung pung halu gara gicak giyang-giyang asal jangan Bamadu dihadangi siang malam. Naik malam, baliliukan balawang tujuh, Bagunung Api" itulah bait pantun yang mengambarkan tradisi unik dalam persepsi perkawinan di Kecamatan Lampihong.
Jika di Kecamatan Juai ada tradisi "Jalan Baliuk" maka di Lampihong ada istilah "Balawang Tujuh Bagunung Api" dimana tradisi ini diperuntukan bagi pasangan pengantin yang berstatus Duda maupun Janda yang melakukan persepsi perkawinan.
Sama seperti tradisi Jalan Baliuk, Balawang Tujuh Bagunung Api ini juga digelar saat malam hari dan diiringi musik khas banjar panting serta gunung api yang terbuat dari puluhan obor yang tancap dirangka yang menyerupai atap rumah atau seperti gunung.
Menurut Hj Asanah (53 tahun), tradisi Balawang Tujuh Bagunung Api dulunya dilaksanakan hampir diseluruh wilayah Balangan, namun kini hanya ada disekitaran Kecamatan Lampihong itupun hanya ada di desa-desa tertentu.
Balawang Tujuh sendiri, kata warga desa Lampihong Kiri Kecamatan Lampihong ini, adalah dimana pasangan pangantin harus terlebih dahulu memasuki pintu (pagar) yang buat sebanyak tujuh kelokan (Liukan) yang dibuat dari sarung perempuan (tapih bahalai) ataupun tali biasa sebelum naik kepelaminan yang berada dalam rumah.
Sedangkan bagunung api, lanjut wanita paru baya ini, adalah puluhan obor yang disusun diatas rangka menyerupai atap rumah atau gunung. Gunung Api ini digunakan saat mengantar (Ma arak) pengantin pria kerumah penganti wanita.
"Tradisinya jika orang yang berstatus janda (Balu) kawin lagi, maka pesta resepsi perkawinan dilakukan malam hari atau diistilahkan Naik Malam. Nah Balawang Tujuh dan Bagunung Api inilah bagian dari hiburan pada pesta resepsinya," jelasnya.
Kalau filosopi dari Balawang Tujuh dan Bagunung Api sendiri, lanjut dia, hingga kini tidak terlalu jelas. Tapi bisa saja, makna dari Balawang Tujuh adalah pesan bagi pasangan yang baru menikah jika dalam berumah tangga banyak pintu (Lawang) yang diasumsikan sebagai masalah harus dilalui secara bersama-sama.
"Kenapa harus jumlahnya Tujuh, mungkin dalam kehidupan kita harus melewati tujuh hari,"
Gelaran tradisi Balawang Tujuh ini, biasanya diiringi oleh musik Panting ataupun musik gemalan sebagai hiburan tambahannya.
"Biasanya musik Panting atau Gemalan ini sudah dimainkan sejak pasangan pria diarak menuju rumah pengantin wanita dan berhenti jika pasangan sudah duduk bersanding didalam rumah," jelasnya
Bausung Naga Saat Ba Arak Pangantin.
Jika di Balangan ada tradisi Jalan Baliuk dan Balawang Tujuh Bagunung Api saat persepsi perkawinan, di Hulu Sungai Tengah (HST) ada tradisi unik lainnya yakni, Bausung Pengantin Baarak Naga.
Baarak Naga ini digelar secara bersamaan dengan prosesi baarak pangantin yang disertai diusung sebelum kedua mempelai duduk di pelaminanan.
Menurut salah seorang dalang pewayangan, Ufik (40 tahun) tradisi Baarak Naga saat Bausung Pangantin sudah menjadi tradisi turun temurun.
Baarak Naga ini, kata warga desa Barikin Kecamatan Haruyan ini, ialah dimana sepasang ornamen Naga di letakkan di samping kiri dan kanan untukmenggapit pengantin saat prosesi baarak. Kedua Naga ini bernama Salera dan Wisakutara.
"kalau dulunya, ornamen Naga ini bukan dijadikan arak-arakan, tapi hanya untuk menggapit pengantin di kiri dan kanan saat berada diatas pelaminan atau panggung yang sering disebut Balai," bebernya.
Seiring perkembangan jaman, menurut pengiat Sanggar Anak Pandawa ini, tradisi Baarak Naga hiasan Naga yang digunakan pun dimodifikasi, biasanya mengunakan mobil untuk dihias menjadi Naga dan pengantin yang di arak di duduk di atas badan Naga atau pelaminan kecil yang di dampingi dua orang pengawal dengan pakaian layaknya seorang pengawal sebuah kerajaan dan diiringi dengan musik-musik yang menggunakan alat musik khas banjar seperti Gong, sarunai, gemelan dan sebagaianya.
Tradisi Baarak Naga, lanjut Ufik, sebenarnya tidak menganduk makna arti apa-apa, karena hal tersebut tidak termasuk dalam adat-istiadat pelaksanaan perkawinan. Tetapi menjadi suatu hal yang wajib jikalau sudah ada hajat dari keluarga pengantin ingin mengelar acara Baarak Naga ini.
Legenda adanya tradisi Baarak Naga sendiri, menuru dia, dimulai dengan ada sebuah cerita dimana ada seokor Naga bergelar Rimpang tinggal di sungai yang dalam yang dinami Lok= Liang dan Laga = Naga, dan disebutlah Liang Naga atau tempat Naga yang sekarang berada di desa Mu'ui Kecamatan Haruyan.
Kemudian masyarakat setempat, membuat ornamen Naga terbuat dari kayu yang diletakan dalam Jukung dan digunakan saar acara pengantin.
"Tapi anehnya, Naga yang terbuat dari kayu bergerak seakan hidup. Karena takut ornamen naga ini ditebas oleh warga dengan Parang, tapi ternyata mengeluarkan darah karena tebasan Parang tadi, sehingga di beri gelar si Naga Rimpang," ungkapnya.
Di Desa Barikin Kabupaten HST sendiri, tiap tahunnya masyarakat pasti mengelar tradisi bearak Naga ini meskipun satu kali setahun.
Bagunung Perak dan 6 Kategori Perkawinan Dayak Mertaus
Selain Balangan dan HST, ternyata tradisi unik dalam resepi perkawinan juga ada di Tabalong tepatnya di desa Warukin Kecamatan Tanta.
Tradisi unik dikalangan suku Dayak Maanyan yang menjadi mayoritas warga Warukin ialah Bagunung Perak. Tradisi perkawinan adat atau Iwurung Juee Bagunung Perak ini hanya dapat dilakukan oleh keturunan raja, bangsawan atau orang kaya karena biaya cukup besar.
Menurut Kabid kebudayaan pada Disporabudpar kabupaten Tabalong, Abdul Syarif Mirza mengungkapkan, tradisi ini dilakukan berdasarkan garis keturunan, jika tidak pernah ada yang melaksanakan, maka anak cucunya juga tidak boleh atau akan terkena bala.
"Tradisi Bagunung Perak ini dimulai dengan saling bertukar pantun saat mempelai pria datang ketempat mempelai perempuan sambil diiringi tarian yang dikawal seorang balian bawo hingga masuk ke rumah mempelai wanita," ungkapnya.
Setelah itu, kata Syarif Mirza, baru pengulu adat yang bertugas menikahkan pasangan tersebut menyatakan pemenuhan hukum adat sesuai dengan hukum yang sudah diatur dan dijalankan. Pasangan mempelai pun siap disandingkan di pelaminan yang disangga kepala kerbau.
"Saat proses perkawinan inilah Bagunung Perak dilakukan. Dimana yang dimaksud Bagung Perak adalah ornamen gunung berbentuk payung dengan berbagai hiasan termasuk uang," bebernya.
Lain lagi tradisi di komunitas dayak meratus di Balangan, khususnya pada masyarakat dayak Halong Kebupaten Balangan yang merupakan salah satu komunitas dayak meratus, terdapat 6 kategore perkawinan yakni, Jampi Pa'ungn, Jampi Barondayan, Jampi Barabutan, Jampi Kataguran, Jampi Ha Lehung dan Jampi Huang Wuwuu.
Menurut Sekretaris Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Balangan, Eter Nabiring mengungkapkan, ke enam kategore dalam perkawinan dayak Halong adalah istilah atau ungkapan untuk mengambarkan proses terjadinya perkawinan itu sendiri.
Putra asli dayak Halong ini mencontohkan, Jampi Pa'ung atau perkawinan dasar adalaha perkawinan melalui proses lamaran dan pertunangan terlebih dahulu. Sedangkan, Jampi Barondayan gambaran untuk perkawinan yang dilakukan oleh orang yang sudah berstatus duda atau janda, tetapi tetap melalui proses meminang.
"Jampi Barabutan adalah perkawinan yang terlaksana karena pihak perempuan meminta kepada pengulu adat untuk dikawinkan dan harus melalui tahapan beberapa ketentuan adat," ungkap pengarang kamus bahasa dayak Halong ini.
Lebih rinci, Etet menjelaskan, untuk kategori Jampi Kataguran adalah perkawinan karena ditegur atau tertangkap basah (I'gandak) oleh wali asbah lalu dikawinkan. Lain lagi untuk istilah Jampi Ha Lehung atau Ngampang yang merupakan perkawinan yang terjadi karena pihak perempuan hamil diluar nikah.
Lebih lanjut dirinya mengungkapkan, kategori perkawinan Jampi Huang Wuwu ialah perkawinan antara saudara kandung. Perkawinan ini amat jarang terjadi, namun pernah terjadi pada masa lampau.
"Semua kategori perkawinan ini ada ketentuan aturan adatnya, baik itu besaran mahar, denda adat maupun hari penetapan pelaksanaan perkawinannya ataupun proses pelaksanaan sidang adat perkawinan," bebernya.
Secara keseluruhan, menurut Eter, dalam hal perkawinan dayak Halong diatur lewat sidang adat perkawinan. Dimana ada beberapa rangkaian atau unsur tatacara sidang adat perkawinan yang dimulai dengan, adanya waris (wali asbah), Penyancangan (pimpinan sidang), pembayaran timpah, pembayaran mahar (jujuran), lalu kedua mempelai duduk di pelaminan.
Yang dimaksud Timpah Bawah dan Timpah Atas, menurut Eter, adalah pembayaran untuk mengambarkan kedekatan kedua keluarga pengantin, jika makin dekat hubungannya maka semakin sedikit pembayaran timpang ini.
Selain itu, menurut dia, ada juga tatacara perkawinan untuk poligami (Bamadu).
Perkawinan bamadu menurut tatacara adat, dilakukan dengan cara pihak istri tua meminang kepada pihak calon istri muda.
"Ada juga cara perceraian (sarak) yang dimulai dari gugatan istri atau suami kepada kepala adat meminta adanya perceraian. Tiap tahapan perceraian ataupun rujuk selalu ada ketentuan adat yang harus dipenuhi," pungkasnya.
Pelkes Dacil Tak Kenal Batas Teretorial
Selain tantangan medan ditambah beban dipundak yang harus dipikul sepanjang perjalanan ber jam-jam hingga sampai ketempat tujuan. Dalam pelaksanaan program pelayanan kesehatan Daerah Terpencil (Dacil), para tenaga medis yang tergabung dalam tim Dacil juga harus merasakan bagaimana pola hidup komunitas masyarakat Dayak Meratus yang sederhana dan dekat dengan alam. Mulai dari tempat tinggal, makanan hingga kebiasaan sehari-hari pun menyatu padu antara masyarakat setempat dengan para petugas Dacil.
Menurut salah satu petugas Dacil wilayah Puskesmas Uren, Yusli menceritakan, jika saat pelaksanaan pelayanan Dacil ini pihak seakan menyatu dengan pola hidup masyarakat setempat.
Pola hidup yang dimaksud, Yusli mencontohkan, seperti Mandi, Cuci dan Kakus (MCK) harus di sungai dan tinggal dilingkungan dipemukiman yang berada ditengah hutan tanpa listrik dan signal telekomunikasi.
"Saat ikut pelayan Dacil ini, kami benar-benar bisa merasakan bagaimana rasanya hidup didaerah terpencil yang jauh dari hiruk pikuk pembangunan," bebernya.
Karena saat melakukan pelayanan Dacil ini, lanjut salah satu petugas kesehatan di Puskesman Uren ini, pihaknya tidak ada beda dengan masyarakat yang datang kecuali pakaian yang dipakai di badan.
"Kita tidur di Balai Adat atau Rumah Warga dan makan bersama-sama warga. Bahkan kadang-kadang makan apa yang disajikan masyarakat sehingga kita tidak ada batasan antara kita dengan masyarakat," bebernya.
Selain itu, ada hal lainnya yang menarik dari program kesehatan yang telah lama dijalankan oleh Pemkab Balangan ini yakni, tidak mengenal batasan admistrasi kependudukan.
Lantaran saat dilaksanakan Pelkes Dacil ini warga masyarakat dari kabupaten Bumi Sanggam bahkan luar dari Provinsi Kalsel turut serta ikut menikmati layanan dasar kesehatan ini.
Menurut kepala Puskesmas Urena Rudi Kresna, dusun yang jadi sasaran program Pelkes Dacil ini ada yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kota Baru dan Kecamayan Kerang Dayo Kabupaten Paser Provinsi Kalimantan Timur.
Karena berbatasan langsung inilah, lanjut dia, tidak jarang saat pelaksanaan pelayanan Dacil ini banyak warga dari kedua daerah diluar Balangan tersebut turut serta dalam pelayanan yang diberikan secara gratis ini.
Menurut Rudi, diantara warga luar yang biasanya ikut pelayanan Dacil ini seperti dari desa Andeh dan Muara Samang yang merupakan wilayah Kecamatan Kerang Dayo Kabupaten Paser dan desa Pemukaan Barat dan Pemukaan Luar wilyah Sangayam Kabupaten Kotabaru.
"Jika melihat dilapangan program Dacil ini tidak mengenal batas teroterial apalagi status kependudukan yang berdasarkan administrasi pemerintahan," bebernya.
Jadi menurut Rudi, siapun yang datang saat Pelkes Dacil dilaksanakan datang maka akan dilayani tanpa harus terlebih dahulu ditanyai status kependudukannya masuk wilayah mana.
Hal ini, menurut dia, tidak terlepas dari sistem pemukiman komunitas masyarakat dayak meratus yang menyebar dan lebih mengutamakan batas lingkup lingkungan kelompok masyarakatnya berdasarkan batas alam. Sehingga biar berbeda wilayah administrasi tapi masih dianggap satu kelompok atau dusun oleh mereka.
"Kami datang untuk melayani tanpa harus memilah berdasarkan status administrasi. Jadi setiap warga yang datang pasti kita layani secara sama tanpa ada pembedaan," tuturnya.
Petugas Perempuan Sampai Pingsan
Medan berat dan berhadapan dengan culture shock mungkin masih diangap biasa bagi fisik seorang pria dengan pergaulan sosial yang luas. Tapi bagi petugas perempuan yang ikut Pelayanan Kesehatan Daerah Terpencil (Pelkes Dacil) merupakan tantangan yang terbilang luar biasa terlebih bagi mereka yang kurang dengan aktivitas diluar (outdoor).
Tantang berat inilah yang sangat dirasakan Gresia Mayang Sari, salah satu petugas kesehatan di Puskesmas Uren yang turut serta ikut dalam Pelkes Dacil yang dijalankan Pemkab Balangan.
Meuurut petugas farmasi di Puskes Uren ini, pengalaman menjelajah alam dengan mendaki gunung dan menyeberangi sungai pertama kalinya ditemui dirinya saat ikut pelayanan Dacil ini.
"Pengalaman harus berjalan di hutan saat malam hari, hidup tanpa signal dan listrik saya dapat saat Dacil ini," ujar lulusan Akper Intan Martapura Tahun 2014 ini.
Selain melawan rasa cape diperjalan, lanjut wanita yang baru bergabung di Puskesmas Uren April ini, dirinya juga harus melakukan pola hidup berbeda dari biasanya seperti tidur tanpa kelambu, mandi disungai hingga hidup tanpa teknologi internet.
"Kita terkuras secara fisik dan berubah secara perilaku saat ikut Dacil. Tapi ini semua akan terbayar lunas ketika masyarakat yang kita layani memberikan senyuman tulus dan ucapan terima kasih,"ungkapnya.
Tak jauh berbeda, pengalaman unik juga dirasakan petugas kesehatan wanita lainnya, Listienoor yang ikut dalam program Pelkes Dacil tersebut.
Menurut petugas gizi ini, pertama kalinya ikut Dacil dirinya sempat pingsan ditengah perjalanan saat menuju salah satu tempat pelaksanaan Dacil.
"Karena kurang persiapan dan banyak barang bawaan serta pertama kalinya, saya sempat pingsan karena kelelehan," ujar Alumnus Poltekkes Banjarmasin 2013 ini.
Meski pertama kali ikut sempat pingsan dijalan, tapi menurut Pegawai Tidak Tetap (PTT) gizi desa diwilayah kerja Puskesmas Uren ini, tidak membuatnya kapok, bahkan sebaliknya tiap ada kesempatan ikut Dacil, dirinya pasti ikut andil.
"Dacil inikan saya angap sebagai bentuk pelayanan sesungguhnya, karena kita membutuhkan perjuangan yang cukup keras untuk bisa melayani masyarakat," bebernya.
Selain kepuasan bisa melayani masyarakat yang betul-betul membutuhkan, lanjut dara asli Balangan ini, lewat Dacil dirinya juga bisa mengenal betapa harmonisnya kehidupan komunitas masyarakay Dayak Meratus dengan alamnya.
"Bagi kita yang lahir di tengah teknologi canggih, akses internet was wus. Hobi selfie dan enggan aktivitas outdoor, sehingga lupa tentang kepedulian tidak salahnya ikut melihat Pelkes Dacil ini sebagai wahana pembelajaran, jika kehidupan sosial sebenarnya ada ditengah pemukiman didaerah terpencil," tutupnya.
Medan berat dan berhadapan dengan culture shock mungkin masih diangap biasa bagi fisik seorang pria dengan pergaulan sosial yang luas. Tapi bagi petugas perempuan yang ikut Pelayanan Kesehatan Daerah Terpencil (Pelkes Dacil) merupakan tantangan yang terbilang luar biasa terlebih bagi mereka yang kurang dengan aktivitas diluar (outdoor).
Tantang berat inilah yang sangat dirasakan Gresia Mayang Sari, salah satu petugas kesehatan di Puskesmas Uren yang turut serta ikut dalam Pelkes Dacil yang dijalankan Pemkab Balangan.
Meuurut petugas farmasi di Puskes Uren ini, pengalaman menjelajah alam dengan mendaki gunung dan menyeberangi sungai pertama kalinya ditemui dirinya saat ikut pelayanan Dacil ini.
"Pengalaman harus berjalan di hutan saat malam hari, hidup tanpa signal dan listrik saya dapat saat Dacil ini," ujar lulusan Akper Intan Martapura Tahun 2014 ini.
Selain melawan rasa cape diperjalan, lanjut wanita yang baru bergabung di Puskesmas Uren April ini, dirinya juga harus melakukan pola hidup berbeda dari biasanya seperti tidur tanpa kelambu, mandi disungai hingga hidup tanpa teknologi internet.
"Kita terkuras secara fisik dan berubah secara perilaku saat ikut Dacil. Tapi ini semua akan terbayar lunas ketika masyarakat yang kita layani memberikan senyuman tulus dan ucapan terima kasih,"ungkapnya.
Tak jauh berbeda, pengalaman unik juga dirasakan petugas kesehatan wanita lainnya, Listienoor yang ikut dalam program Pelkes Dacil tersebut.
Menurut petugas gizi ini, pertama kalinya ikut Dacil dirinya sempat pingsan ditengah perjalanan saat menuju salah satu tempat pelaksanaan Dacil.
"Karena kurang persiapan dan banyak barang bawaan serta pertama kalinya, saya sempat pingsan karena kelelehan," ujar Alumnus Poltekkes Banjarmasin 2013 ini.
Meski pertama kali ikut sempat pingsan dijalan, tapi menurut Pegawai Tidak Tetap (PTT) gizi desa diwilayah kerja Puskesmas Uren ini, tidak membuatnya kapok, bahkan sebaliknya tiap ada kesempatan ikut Dacil, dirinya pasti ikut andil.
"Dacil inikan saya angap sebagai bentuk pelayanan sesungguhnya, karena kita membutuhkan perjuangan yang cukup keras untuk bisa melayani masyarakat," bebernya.
Selain kepuasan bisa melayani masyarakat yang betul-betul membutuhkan, lanjut dara asli Balangan ini, lewat Dacil dirinya juga bisa mengenal betapa harmonisnya kehidupan komunitas masyarakay Dayak Meratus dengan alamnya.
"Bagi kita yang lahir di tengah teknologi canggih, akses internet was wus. Hobi selfie dan enggan aktivitas outdoor, sehingga lupa tentang kepedulian tidak salahnya ikut melihat Pelkes Dacil ini sebagai wahana pembelajaran, jika kehidupan sosial sebenarnya ada ditengah pemukiman didaerah terpencil," tutupnya.
Dacil Lebih Mirip Jelajah Alam atau Naik Gunung
Pelayanan kesehatan Daerah Terpencil (Dacil) yang dijalankan jajaran petugas medis dibawah Dinkes Balangan dalam prakteknya memerlukan pengorbanan fisik secara ektra dan rasa pengabdian tanpa kenal batas.
Pasalnya untuk mencapai tempat pelaksanaan program pelayanan kesehatan khusus daerah pedalaman ini harus melewati medan sulit berupa bebatuan curam, mendaki gunung dan menyebarangi beberapa kali sungai.
Selain itu, para petugas juga harus siap mengangkut peralatan pemeriksaan kesehatan serta obat-obat.
Menurut kepala Puskesmas Uren Rudi Kresna, program pelayanan kesehatan Dacil untuk wilayah dibawah Puskesmas Uren ada dusun Ambata, Ambatunin, Tanjungan Jalamu, Libaru Sungkai dan Andamai.
Dibeberapa dusun ini, menurut dia, ada yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kota Baru dan Kecamayan Kerang Dayo Kabupaten Paser Provinsi Kalimantan Timur.
Karena akses jauh dan sulit inilah, lanjut dia, tiap kali pelayanan Dacil pihaknya selalu menginap minimal satu malam.
Dalam pelaksanaan program Dacil ini sendiri, menurut pria penyuka homor ini, pihaknya berangkat dalam bentuk rombongan yang jumlah mencapai 20 orang sekali berangkat.
Rombongan atau Tim Dacil selain harus mengangkut keperluan pelayanan kesehatan, menurut Rudi, rombongan juga harus membawa keperluan pribadi masing-masing baik pakaian dan mandi hingga keperluan makan.
"Kalau berangkat pelayanan Dacil kami seperti mau berangkat mendaki gunung atau menjelajah alam, saking banyaknya bawaan yang diangkut," ungkapnya.
Medan yang dilalui pun, menurut dia, sangat beragam mulai tebing berbatu curam, mendaki gunung dengan kemiringan yang tinggi hingga menyeberangi sungai.
Dibeberapa dusun, menurut Rudi, pihaknya harus menyeberangi sungai agar sampai ketempat tujuan guna melaksanakan program Dacil ini.
"Ke dusun Tanjung Jalamu salah satu paling berat, selain harus ditempuh dengan berjalan kaki dari akses terakhir mobil selama 5 jam. Kita juga harus menyeberang sungai sebanyak 6 kali dan kalau sungai lagi dalam, terpaksa pakai rakit bambu," jelasnya.
Selain harus melalui medan berat ada tantangan lainnya yang harus dilalui tim Dacil yakni, menyesuaikan hidup dengan adat istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat.
"Selain tantangan medan yang berat, kita juga harus bisa menempatkan diri sesuai kultur budaya masyarakat setempat sehingga kita dapat diterima dengan baik," jelasnya.
Untuk pelaksanaan Dacil sendiri, lanjut dia, dilakukan tiap tiga bulan sekali dengan mencakup semua pelayanan dasar kesehatan.
Diantara pelayanan yang dijalankan, urai Rudi diantaranya, pemeriksaan kesehatan, imunisasi bayi, balita, pemeriksaan ibu hamil dan pelayanan KB serta penyuluhan kesehatan, perbaikan gizi dan pembinaan kesehatan anak sekolah.
"Pelayanan Dacil ini mencakup semua pelayanan dasar dan program kesehatan dalam sekali waktu," jelasnya.
Jika ada warga yang perlu tindakan medis lanjutan maka, menurut dia, warga bersangkutan disarankan melakukan pengobatan secara rujukan ke Puskesmas atau pun rumah sakit guna mendapatkan pengobatan secara intensif.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Waspada Kematian Bayi Masyarakat khususnya para orang tua, dimintai mewaspadai pada bulan februari sampai April mendatang. ...
-
Nilai Sejarah Semakin Dilupakan Benteng Tundakan bukan satu-satunya objek bersejarah yang terkesan terbangkalai tanpa sedikit pun ada ...
-
Tatanjang Alat Menanam Jika Tajak digunakan untuk membersihan lahan pertanian sebelum tanam, maka Tatanjang, Tatujah atau Tatajuk d...
-
PAHAJATAN, “KAMPUNG KECIL” TEMPAT WARGA MEMOHON HAJAT Di Balangan, tepatnya di Desa Tungkap, Paringin Selatan, terdapat se...













