Tuesday, 9 August 2016

HUT RI Ke 71


Sambut HUR RI Tampilkan Drama Klosal

PARINGIN, Menjelang peringatan HUT RI Ke 71 berbagai persiapan dan agenda telah disusun Koramil 1001-04 Batumandi mulai dari perbaikan perkarangan kantor hingga latihan untuk pegelaran drama klosal.
Menurut Danramil 1001-04/Batumandi  Kapten  Arm Anthonius Dwi Wardhana  pelaksanakan perbaikan Kantor dan Semenisasi Lapangan Apel Koramil ini dilakukan dengan swadaya satuan dan bantuan dari mitra serta masyarakat.
“Perbaikan ini selaian bagian persiapan menyambut HUT RI juga sebagai sarana memberikan contoh perkarangan yang baik dan sehat bagi masyarakat. Makanya kami buat taman ditanami tanaman obat dan sayur mayur, selain itu kita jua membuat kolam yang diisi dengan ikan khas banua yakni, ikan Papuyu," bebernya.
Selain perbaikan taman ini, lanjut Antonios, pihaknya juga akan mengelar pertunjukan drama klosal tentang perjuangan Tumenggung Jalil yang merupakan tokoh pejuang asal Balangan yang turut berjuang dengan Pengeran Antasatri di Benteng Tundakan melawan penjajah Belanda.
“Lewat pertunjukan drama klosal nanti, kita berharap masyarakat lebih dapat mengenal tokoh pejuang daerah dengan begitu rasa menghargai jasa pejuang yang diterapkan dengan mencintai daerah serta turut serta membangun daerah dapat meningkatkat. Saya juga berpesan kepada masyarakat agar terus menjaga keharmonisan antar masyarakat sehingga tercipta keamanan dan kenyaman dalam kehidupan sehari-hari,’’ pungkasnya. (sugi)

Keliling Indonesia Bersepeda



Andik Pengeliling Indonisia Mampir Di Balangan

PARINGIN, Raden Andik Parwira (69) dengan sebuah sepeda disertai dua bundel tas dan bendera Merah Putih berkibar di belakangnya, menyambangi di Sekretariat DPRD Balangan di Jalan A Yani KM 1 Paringin Selatan. Selasa (9/8) kemarin.
Kedatangan ayah dari tujuh anak tersebut disambut langsung oleh Wakil Ketua DPRD Balangan M Nor Iswan di ruang kerjanya. Tujuan Andik mampir cuma ingin minta stempel DPRD Balangan dan tanda tangan pimpinannya sebagai tanda bukti bahwa ia telah melintasi Bumi Sanggam.
Kakek dengan 12 cucu ini mengungkapkan, Balangan merupakan kabupaten kota ke 274 di Nusantara yang sudah dikunjunginya daam agenda  mengelilingi Indonesia dengan bersepeda.
“Tinggal tigabelas provinsi lagi, yakni tiga provinsi di Kalimantan dan sepuluh provinsi di Pulau Sumatera maka misi saya mengelilingi Indonesia terwujud,’’ ujar kelahiran Banten 4 Agustus 1943 silam ini.
Menurut Andik, dirinya sudah memulai misinya mengelilingi Indonesia sejak 16 September 2014, dan jarak yang sudah ditempuh sejauh 26.000 KM yang terdiri dari daratan dan lautan.‎
Misinya mengelilingi Indonesia dengan sepeda ini, menurut pensiunan Kasubdin Dishut Provinsi Kalteng, selain ingin memecahkan rekor MURI juga untuk mengkampanyekan pelestarian hutan yang sekarang keberadaannya kurang diperhatikan.
Diakui Andik, sepanjang melintasi wilayah Kalimantan kondisi hutan masih relative bagus, tapi dirinya prihatin dengan keberadaan  tambang batubara dan lahan perkebunan sawit  yang secara tidak langsung akan menghilangkan eksistensi hutan sebagai jantung Kalimantan bahkan dunia jika terus dibiarkan marajalela.
“Sawit dan Tambang harus dievaluasi lagi keberadaanya, jangan sampai dua sektor ini dibiarkan tanpa kendali. Karena dua bidang usahanya menjadi ancaman serius kerusakan lingkungan termasuk hutan secara makro,’’ pesannya.
Yang menarik dari pria berjabang ini ternyata, meskipun lahir di Banten tetapi dirinya sudah tinggal di Banjarmasin sejak tahun 1977 bahkan hingga kini KTP masih beralamatkan kota Banjarmasin.
"Ulun urang Banjar jua, KTP gen Banjarmasin. Setelah ini kalau diberi umur panjang, saya akan mengelilingi benua Australia dengan bersepeda," ucap pria nyentrik yang mengaku juga menguasai beberapa bahasa daerah ini.
Wakil Ketua DPRD Balangan M Nor Iswan yang menyambut kedatangan Andik sangat mengapresiasi semangat pria paruh baya seperti Andik, yang mengisi waktu tua dengan mengelilingi Indonesia berangkat dari kepeduliannya terhadap kelestarian hutan dan lingkungan.
"Ini patut kita contoh. Terlepas dari itu, beliau mengajarkan kita untuk hidup sehat dengan bersepeda," pungkasnya. (sugi)




Karnaval Meriahkan Hari Anak

Karnaval Meriahkan Hari Anak

PARINGIN, Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, Disdik Balangan mengelar festival anak yang diikuti ratusan anak-anak yang berasal dari sejumlah TK dan PAUD se Kabupaten Balangan di terminal Paringin Kota Selasa (9/8) kemarin.
Karnaval yang dibuka langsung oleh Bupati Balangan H Ansharuddi ini disambut antusian oleh anak-anak berpakaian beragam jenis seperti dokter, polisi, tentara, PNS hingga petani.
"Tema karnafal kali ini adalah Akhiri Kekerasan Pada Anak. Kami mengambil tema ini sebagai bentuk keprihatinan terhadap berbagai peristiwa yang terjadi dewasa ini terhadap anak-anak," ujar Sekretaris Disdik Balangan, Suwarso dalam laporan panitia pelaksana.
Sedangkan dalam sambutannya, Bupati Balangan Ansharuddin mengungkapkan, secara bersama harus didasari jika setiap orang tua berkewajiban memberikan kasih sayang dan perhatikan terhadap para anak.
Perhatian yang dimaksud, kata Anshar, termasuk mempersiapkan anak-anaknya menghadapi tantangan yang akan menghadang mereka kelak.
"Anak-anak haru selalu sehat, rajin belajar, kreatif dan gemar meningkatkan kualitas diri mereka. Sedangkan orang tua, pemerintah dan semua pihak berkewajiwajib membekali anak semanjak dini dengan akhlak mulia dan jiwa kemandirian," pungkasnya.(sugi)

Kontingen Kopri Siapa Berprestasi

Kontingen Kopri Siapa Berprestasi

PARINGIN, keberangkatan kontingen Korpri Balangan untuk mengikuti turnamen pertandingan antar Korpri se Kalsel yang digelar di Kota Banjarbaru, langsung dilepas oleh Bupati Balangan H Ansharuddin Selasa (9/8) kemarin.
Prosesi pelepasan kontingen yang dilakukan di halaman Kantor Bupati Balangan tersebut turut disaksikan oleh Sekdakab Balangan, Pimpinan Bank Kalsel Cabang Paringin dan sejumlah pejabat lainnya.
"Meski bukan ajang pertandingan olahraga profesional, namun saya harap para pemain dapat bermain maksimal," pesannya.
Selain sebagai ajang pertandingan olahraga, kegiatan ini kata Ansharuddin, juga sebagai ajang silaturahmi antar para pegawai.
"Jalinlah silaturahmi dengan semua kontingen dan jangan lupa bermainlah secara fair play," ingatkannya.
Sementara menurut Ketua Kontingen Korpri Balangan Yuliansyah, ada enam cabor yang dipertandingkan, di antaranya futsal, tenis meja dan lapangan, bola voli, catur dan bulutangkis.
"Meski kita tidak mematok target apa-apa, tapi yang pasti kita akan berusaha menampilkan yang terbaik," pungkasnya. (sugi)

Monday, 8 August 2016

Menelaah Arsitektur Eropa Zaman Kolonial Di Bumi Sanggam I

Menelaah Arsitektur Eropa Zaman Kolonial Di Bumi Sanggam I

PARINGIN, Dari sekian banyak situs peninggalan arkeologi di Kabupaten Balangan ternyata pengaruh kehidupan kolonial dimasa penjejahan Belanda menghasilkan situs peninggalan budaya berupa bangunan dengan arsitektur bergaya Eropa.
Menurut data hasil penelitian Balai Pelestarian Nilai Budaya (BNPB) Pontianak dari delapan Kecamatan di Balangan, tersebar situs-situs peninggalan arkeologi di 24 desa, diantaranya rumah dengan arsiktektur bergaya Eropa peninggalan zaman kolonial yang terletak di Desa Simpang Tiga Kecamatan Lampihong sebanyak dua buah dan satu buah di Desa Muara Ninian Kecamatan Juai.
Salah satu rumah dengan arsiktektur bergaya Eropa peninggalan zaman kolonial yakni, rumah milik Alm. H. N. Iffansjah Hanafie bin Handran yang dibangun pada tahun 1926 terletak di seberang pasar Desa Ninian Kecamatan Juai.
Rumah ini, lebih dikenal dengan sebutan Rumah Batu atau Rumah Belanda. Selaian mempunyai denah menyerupai hurup U khas rumah Eropa khususnya Belanda, bahan bangunan pun mengunakan beton untuk bagian pondasi bawah mulai dari pondasi hingga lantai untuk seluruh bagian rumah, sedangkan bangunannya menggunakan bahan kayu, khusus lantai rumah mengunakan teraso warna gelap (hitam/hijau) untuk ruang tamu, sedangkan ruang keluarga dan kamar tidur mengunakan teraso warna kuning kecoklatan dan abu-abu.
Rumah dengan persegi empat 20×20 meter dengan tinggi hampir 12 meter serta menggunakan atap sirap itu, hingga kini masih kukuh berdiri menjadi aksi hidup perjalanan Balangan.
“Pemilik rumah ini yakni, Alm. H. N. Iffansjah Hanafie bin Handran merupakan putra kelahiran Amuntai 28 Februari 1939 yang kini keluarga besarnya berada di Jakarta,’’ ujar Suriansyah (57) yang kini mendiami rumah Batu tersebut.
Sebetulnya rumah tersebut, lanjut keponakan , Alm. H. N. Iffansjah Hanafie ini, dibangun semasa ayah H. N. Iffansjah Hanafie masih hidup lalu kemudian diwariskan kepada beliau.
Namun sejak sekitar tahun 1975, kata Suriansyah, Alm. H. N. Iffansjah Hanafie berhenti mengeluti usaha karet lalu pindah ke Jakarta, sejak itulah rumah Batu dipercayakan kepada H. Kurdi yang merupakan ayah dari Suriansyah yang mendiami rumah tersebut hingga kini.
Suriansyah menilai, rumah milik Iffansyah ini, berarsiktektur bergaya Eropa peninggalan zaman kolonial karena beliau merupakan bagian dari keluarga seorang pengusaha kaya yang sering melakukan perjalanan keluar daerah.
“Wajar rumah ini bergaya rumah Belanda, karena ayah beliau Alm. Handran merupakan orang kaya pada jamannya. Sehingga membuat rumah berarsiktektur bergaya Eropa sesuai pada zaman kolonial Belanda menandakan kemapan ekonomi keluargannya,’’ jelas.
Meski rumah berarsiktektur Eropa khususnya Belanda, kata Suriansyah, tidak pernah ada cerita mengenai kedekatan ataupun hubungan keluarga Alm. H. N. Iffansjah Hanafie dengan kaum penjajah Belanda.
“Menurut sejarah, tidak ada hubungan khusus keluarga Alm. H. N. Iffansjah Hanafie dengan kaum penjajah. Meski bangunan rumah miliknya berarsiktektur Eropa pada jaman kolonial,’’ tegasnya.
Selain itu, rumah Batu ini juga sempat digunakan oleh TNI selama empat tahun yakni, mulai tahun 1959 hingga 1963 sebagai Pos penjagaan untuk keamanan dari gangguan gerakan Ibnu Hajar di Wilayah Balangan.
“Rumah Batu ini pernah digunakan para Mondrik (pasukan TNI dan Polisi) untuk pos penjagaan dari para gerombolan (kelompok Ibnu Hajar),’’ beber Suriansyah.
Selain rumah Batu ini, tambahnya, ada dua pos penjagaan lagi yang digunakan oleh para Mondrik guna menyisir para gerombolan yakni, di Desa Sungai Batung kecamatan Juai dan di Kecamatan Halong.
Dharma Setyawan guru sejarah di SMAN 1 Paringin mengungkapkan, keberadaan rumah dengan arsiktektur bergaya Eropa peninggalan zaman kolonial tidak terlepas dari kehidupan sosial pemilik rumah yang rata-rata pengusaha karet pada masa kolonial.
Wilayah Balangan dimasa kolonial, menurut lulusan FKIP Pendidikan Sejarah Universitah Unlam ini, merupakan wilayah penghasil karet dengan jumlah besar.
“Sehingga sebetulnya keberadaan Belanda di wilayah Balangan selain upaya pengamanan dan menjalankan pemerintahan di Kewedanan Balangan juga lebih kepada penguasaan produksi karet yang ada,” bebernya. (sugi)

Menalaah Bangunan Arsiktektur Eropa Zaman Belanda II

Menalaah Bangunan Arsiktektur Eropa Zaman Belanda II
PARINGIN,  Distrik Balangan adalah bekas distrik (kawedanan) yang merupakan bagian dari wilayah administratif Onderafdeeling Alabio dan Balangan pada zaman kolonial Hindia Belanda dahulu. Kini wilayah distrik ini telah berkembang menjadi Kabupaten Balangan.
Ditinjau dari sisi sejarah, khususnya pada masa perjuangan fisik melawan Belanda, Balangan memang berbeda dari HSU. Pertahanan Amuntai dipegang oleh pemerintahan militer Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Divisi IV Kalimantan dengan sebutan “BN. 5”, sedangkan Paringin punya kode “R. 27 – B”.
Pada masa kolonial, guna memaksimalakan produksi karet di seluruh wilayah adBalangan pemerintah kolonial Belanda mempunyai strategi khusus dalam perniagaan karet. Dimana strategi khusus itu, dinamakan system kupon, yaitu hadiah yang diberikan setiap tahunnya bagi pemilik kebun, karet yang selalu memelihara kebun karetnya dengan baik sehingga terawat dan bersih serta hasil sadapannya yang baik.
Strategi yang dijalankan Belanda guna mengambil keuntungan sebagai pihak pemegang monopoli perdagangan karet dalam jumlah besar ini ternyata, cukup efektif untuk memancing pemilik kebun karet memelihara kebun karet dan kualitas karetnya sehingga meningkatkan pendapatan para pemilik kebun.
Masa kejayaan karet ini menjadikan para pemilik kebun besar mempunyai kemapanan ekonomi dimasanya. Sehingga mereka mempunyai kesempatan membangun rumah berasektektur Eropa yang digabung dengan arsiktektur yang dikenal dengan istilah Rumah Kuna.
Ada tiga buah rumah Kuna di Kabupaten Balangan tepatnya di Desa Simpang Tiga dan Hilir Pasar Kecamatan Lampihong yang dibangun pada masa kolonial Belanda yang dibangun sekitar tahun 1932.
Ketiga rumah Kuna ini masing-masing milik Alm. H. Sjoekoer dan Alm. H Densi di Desa Simpang Tiga sedangkan satu lagi rumah Kuna milik Alm. H. Sulaiaman yang merupakan Alm. H Densi di Desa Hilir Pasar, namun sayang rumah ini terlihat kurang terawat bila dibandingkan dengan kedua rumah Kuna lainnya. Diketahui Alm. H. Densi merupakan pemilik kebun karet besar di wilayah Batu Mandi pada masa kolonial Belanda.
Arsitektur rumah Kuna ini merupakan perpaduan antara arsitektur tradisional dengan arsitektur Eropa. Arsitektur Eropa ditandai dengan pengunaan beton pada bagian depan ataupun bawah (lantai) sedangkan arsitektur tradisional ditegaskan dengan bentuk rumah panggung dan bentuk pintu dan jendela yang tinggi besar. Fasat depan penuh dengan jendela kupu-kupu yang berbentuk angin-angin. Ciri tradisional lainnya ditandai dengan adanya makam dan kolam air di samping rumah (rumah milik Alm. H. Sjoekoer). Selain itu, rumah Kuna milik Alm. H. Densi pada bagian depannya ada bangunan kecil seperti pos penjagaan. Bangunan kecil ini adalah rumah uang (brankas) yang digunakan untuk menyimpan uang hasil penjualan karet pada masa itu, hal ini membuktikan wilayah Balangan secara umum pernah mengalami jaman kejayaan karet dimasa kolonial Belanda.
’’Rumah Kuna milik Alm. H. Sjoekoer juga pernah dipakai oleh tentara Belanda saat masa revolusi pada tahun 1948-1949,’’ ujar Johansyah (63thn) salah satu warga Desa Simpang Tiga.
Rumah Kuna milik Alm. H. Sjoekoer, menurut Johansyah, dipilih Belanda sebagai pos tentaranya karena letaknya yang strategis yakni, terletak di pinggir jalan raya Amuntai-Paringin dan juga hanya berjarak sekitar 100 meter dari sungai Balangan.
Sehingga dengan menempati rumah tersebut, pihak Belanda dengan leluasa melakukan mobilisasi pasukan dari Amuntai ke Paringin akan lebih mudah baik lewat jalan darat maupun melaui jalur air yakni, mengunakan sungai Balangan yang bermuara ke daerah Amuntai ataupun Alabio hingga ke sungai Barito.
Kini Rumah Kuna milik Alm. H. Sjoekoer tersebut, kini ditempati oleh sang cucu yakni, H Farhan bin H Halidi.
“Saat Belanda memakai rumah kami sebagai markasnya, Ayah dan kakek pergi mengungsi ke tempat keluarga lain yang juga berada di Lampihong,” ungkap H Farhat.
Setelah Belanda pergi, kata H Farhat, keluarganya kembali menempati rumah tersebut.
“Namun sebelum ditempati. Rumah ini dibersihan secara aturan Islam yakni, disucikan menggunakan tanah (di Satru),” bebernya. (sugi)

Nilai Sejarah Semakin Dilupakan



Nilai Sejarah Semakin Dilupakan
Benteng Tundakan bukan satu-satunya objek bersejarah yang terkesan terbangkalai tanpa sedikit pun ada perhatian, salah satu situs kebudayaan yang bernilai bernasib sama yakni, Makam Raksasina Singa Jaya.
Makam yang terletak di pinggir sungai Batang Balangan di desa Layap Kecamatan Paringin ini terlihat sangat sederhana sebaimana makam yang biasanya berada di pemakaman umum.
Padahal sosok Raksasina Singa Jaya, yang diyakini oleh masyarakat menjadi salah satu tokoh perjuang yang ikut berjuang bersama-sama Tumenggung Jalil dan Pengeran Antasari saat mempertahankan Bentek Tundakan dari serangan Belanda.
Menurut H Sulaiman K, tokoh Raksasina Singa Jaya diyakini berasal dari Jawa Timur yang dikenal dengan nama Syahbudin.
“Menurut cerita nenek, saat Pemerintahan Belanda bisa menguasai daerah Paringin maka oleh Belanda Raksasina Singga Jaya diangkat menjadi Kiai atau Pemimpin setingkat Camat di daerah Paringin,” bebernya.
Namun kondisi ini, kata Sulaiman, tidak bertahan lama karena Raksasina diminta oleh Belanda untuk mengkoordinir rakyatnya kerja paksa untuk membuat jalan dari Paringin ke Halong dan ditolak oleh Raksasina.
Atas penolakan itu, lanjut Sulaiman, Raksasina berserta pengikutnya melarikan diri ke hutan. Dalam pelarian inilah rombongan Raksasina bertemu dan bergabung dengan Tumenggung Jalil dan bersama-sama mempertahankan Benteng Tundakan dari serangan-serangan Belanda.
“Saat Belanda menyerang Benteng Tundakan dan pasukan Tumenggung Jalil kalah maka para pejuang yang berada di Benteng tercerai berai. Rakasasina melarikan diri ke daerah Paringin, dalam pelariannya ternyata ada yang mengikutinya dan pada waktu subuh saat mengambil air wudhu di Sungai Batang Balangan dirinya ditangkap oleh Belanda,” bebernya.
Namun rupanya, kata Sulaiman, Raksasina tidak mempan saat disiksa dan ditembak oleh Belanda.
“Karena itu, Raksasina dikubur-kubur hidup oleh Belanda disebuah lobang dipinggir sungai Batang Balangan,” jelasnya.
Keberadaan makam sekarang ini sendiri, menurut Sulaiman, diyakini sebagai makam Raksasina setelah melalui ritual yang dilakukan oleh orang pintar.
Sedangkan menurut pemerhati sejarah Balangan dharma setyawan, meski keberadaan makam Raksasina Singa Jaya sebenarnya tidak bisa dikatakan dalam situs sejarah karena data pendukung keberanaannya masih sangat minim, namun keberadaan perlu diletarikan dan diteliti lebih lanjut.
“Apalagi tempat makam sekarang sudah tercatat sebagai tinggalan kebudayaan sebagaimana surat keputusan Kantor Wilayah Depertemen. Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Kalimantan Selatan tanggal 4 Agustus 1983 Nomor 081_K/P4SPKS_6/WPKKkS/1983,” jelasnya.
Apalagi lanjut, pria yang sedang menempuh pendidikan pasca serjana ini, keberadaan situs sejarah maupun situs kebudayaan sangat penting bagi generasi penerus.
“Keberadaan situs sejarah dan kebudayaan akan menjadi suatu kebanggaan bagi masyarakat dan tentunya menjadi modal bagi pendidikan generasi muda hingga kita tidak “pareumeun obor” akan sejarah masa lalunya,” jelasnya.
Dimana lanjut, alumni Fisip Unlam ini, keberadaan peninggalan sejarah serta adat istiadat budaya masyarakat tradisional perlu mendapat perhatian dari pemerindah daerah untuk dilestarikan keberadaannya. karena menurutnya, keberadaannya dapat dijadikan sumber bagi upaya pengenalan nilai warisan budaya kepada generasi muda saat.
Memang upaya untuk melestarikan peninggalan sejarah dan kebudayaan, kata Dharma, bukanlah suatu pekerjaan yang mudah dan tanpa biaya, namun jangan hal ini dijadikan alasan untuk tidak sama sekali memperhatikan keberadaan situs bersejarah ini.
“Salah satu bentuk pelestarian nilai sejarah pada situs-situs sejarah yang tersebar di Balangan bisa dilakukan melalui kegiatan widya wisata bagi para pelajar. Dimana selama kegiatan kunjungan tersebut siswa akan memperoleh suguhan informasi berkenaan dengan sejarah panjang leluhur mereka dan akan terjadi transformasi nilai dari generasi terdahulu ke generasi sekarang,” pungkasnya. (sugi)

Waspada Kematian Bayi Masyarakat khususnya para orang tua, dimintai mewaspadai pada bulan februari sampai April mendatang. ...