Saturday, 25 March 2017

PETANI MULAI BANYAK DIGUSUR, MAHASISWA PERTANIAN NGAPAIN?

Kekerasan terhadap para petani terjadi di mana-mana. Yang terbaru terjadi di Sukamulya (Jawa Barat) dan Langkat (Sumatera Utara). Halo para mahasiswa pertanian, anda lagi ngapain?

Muhidin M Dahlan

Ketika para petani berjibaku mempertahankan sawah dan ladangnya dari eksploitasi tambang dan pembangunan infrastruktur pesawat udara, di mana suara mahasiswa pertanian?

Ketika lahan-lahan pertanian makin menyempit dan keluarga petani Indonesia makin susut dari tahun ke tahun, di manakah sikap mahasiswa pertanian?

Ketika atas nama pembangunan ketahanan pangan pemerintah membangun industri pertanian dengan mengundang fabrikasi bibit multinasional beroperasi di dalamnya, di mana pamflet kritis mahasiswa pertanian ditempelkan?

Ketika petani dibunuh dan disiksa demi tanahnya, di mana advokasi dan aksi "bela-pati" mahasiswa pertanian?

Kita bertanya kepada mahasiswa pertanian karena posisi mereka adalah marhaen terpelajar di mana semestinya yang paling paham sisi-melik dunia tani; mulai dari teknologi pembibitan hingga konflik yang menghancurkan kelas petani. 

Sebagai kaum terpelajar petani, mahasiswa pertanian bukanlah calon insinyur tani yang menjauh dari keringat si tani, melainkan satu sekutu dalam kelas tani yang luar biasa rentannya dalam pembangunan infrastruktur entah untuk tujuan apa ini.

Ketika petani menangis, mahasiswa pertanian yang mencari tahu akar mengapa petani hidup pilu dan memberitahu akar tunjang masalah dan bagaimana menyikapinya. Ketika petani meneriakkan kekurangan lahan tanam, mahasiswa pertanian yang mestinya tiap hari menggalang aksi untuk mempercepat pelaksanaan reforma agraria. 

Nah, ketika petani berhadap-hadapan dengan serdadu di pematang sawah -- sebagaimana kasus di Sukamulya, Majalengka, Jawa Barat -- mahasiswa pertanian mestinya mogok belajar di kelas perkualiahan untuk membela kelas tani di lapangan pergerakan.

Jangan sampai lupa, kalian mahasiswa dan mahasiswi pertanian, petani adalah soko-guru dari Revolusi Indonesia, sebagaimana Sukarno berkata-kata. Dan, ketika Sukarno meletakkan batu-pertama pembangunan Fakultas Pertanian Universitas Indonesia (IPB, saat ini) di Bogor, 27 April 1952, Indonesia habis-habisan mencari terobosan di segala arah bagaimana kita berdaulat dalam pangan.

Kedaulatan pangan mula-mula adalah penghormatan kelas tani, memualiakan marhaen. Maka dari itu, Sukarno langsung menempatkan kelas tani ini sebagai soko-guru revolusi. Untuk mengejawantahkan prinsip ini, perlu tindakan-tindakan objektif, perlu tenaga-tenaga terpelajar yang bertarung di lapangan pertanian dengan segala pengetahuan yang dimilikinya untuk memuliakan dunia tani.

Kampus dan fakultas pertanian dibikin dan status mahasiswa pertanian lahir karena negara ini menginginkan seluruh lapisan masyarakatnya dapat makan kenyang oleh kerja petani-petani dari bangsanya sendiri yang bekerja dengan bekal ilmu pengetahuan. Antara lain, kerja-kerja mahasiswa pertanian adalah mulai dari ikhtiar tiada henti mencari ilmu pelipatgandaan hasil panen, pencarian bibit yang sesuai dengan kontur tanah-tanah di Indonesia, keanekaragaman pangan, keseimbangan lahan, pemupukan, antisipasi hama, hingga menjaga keseimbangan ekonomi-tani.

Pendek kalimat, kampus dan fakultas pertanian berguna bagi semesta petani bila mereka tak mengambil jarak yang keterlaluan atas nasib dunia tani. 

Tak peduli kepada nasib petani menyalahi idealisme awal mengapa Sukarno si penemu ajaran ideologi tani (marhaenisme) itu meresmikan pembukaan sekolah tani (baca: IPB).

Berseru Sukarno: "Aku bertanja kepadamu: sedangkan rakjat Indonesia akan mengalami tjelaka, bentjana, malapetaka dalam waktu jang dekat kalau soal makanan rakjat tidak segera dipetjahkan, sedangkan soal persediaan makanan rakjat ini bagi kita adalah soal hidup atau mati, -- kenapa dari kalangan-kalanganmu begitu ketjil minat untuk studie ilmu pertanian dan ilmu perchewanan? Kenapa buat tahun 1951/1952 jang mendaftarkan diri sebagai mahasiswa bagi Fakultet Pertanian hanja 120 orang, dan bagi Fakultet Kedokteran Chewan hanja ...... 7 orang? Tidak, pemuda-pemudiku, studie ilmu pertanian dan ilmu perchewanan tidak kurang penting dari pada studie lain-lain. Tjamkan, sekali lagi tjamkan, -- kalau kita tidak 'aanpakken' soal makanan rakjat ini setjara besar-besaran, setjara radikal dan revolusioner, kita akan mengalami malapetaka!" (1952: 24)

Belum cukup. Sukarno bahkan meletakkan harapan besar bahwa mahasiswa pertanian ini adalah kaum pelopor. Jika di masa pergerakan awal lisensi keterlibatan mahasiswa kedokteran (Stovia) cukup menonjol, maka ketika Indonesia membangun desa-desanya, membangun untuk kemakmuran rakyatnya, maka lisensi kepahlawanan dan kepeloporan mestinya dikantongi mahasiswa pertanian.

Ayo, bung mahasiswa dan nona mahasiswi pertanian, baca separagraf lagi pesan Sukarno: "Politik bebas, prijsstop, keamanan, 'masjarakat adil dan makmur', 'mens sana in corpore sano', -- semua itu mendjadi omong kosong belaka, selama kita kekurangan bahan makanan, selama tekort kita ini makin lama makin meningkat, selama kita tidak bekerdja keras, memeras keringat mati-matian menurut plan jang tepat dan radikal. Revolusi pembangunan harus kita adakan, tetapi paling segera diatas lapangan persediaan makanan rakjat. Dan kamu, pemuda dan pemudi diseluruh Indonesia, kita harus menjadi pelopor dan pahlawan! Dengan utjapan itulah, saja meletakkan batu-pertama dari Gedung Fakultet Pertanian ini. Sekian!" (Sukarno, "Soal Hidup dan Mati", 1952: 26)

Jadi, menyitir Sukarno, soal pertanian itu soal hidup dan mati. Jadi, kalau ada petani mati-matian mempertahankan tanah pertaniannya, pahamilah bahwa mereka sedang memilih dua jalan darurat: hidup atau mati. 

Karena itu, jika menghidupkan petani, bela petani. Jika membiarkan kematian petani, bakar saja semua sekolah pertanian dan lemparkan diktat kuliah dan togamu di luweng-luweng gelap.

Ayolah, mahasiswa dan sarjana tani! Pahami dan sadari kembali, kalian itu pelopor dan bukan si gadungan cilaka dalam kelas tani yang menjadi "soko-guru" (pembangunan) revolusi! 

Sumber : https://tirto.id/petani-mulai-banyak-digusur-mahasiswa-pertanian-ngapain-b5xA?utm_source=Facebook&utm_campaign=Midnight&utm_medium=Social

Friday, 24 March 2017

PT Conch Kalau Tidak Memperbaiki Jalan Rusak Angkutan Semennya Tidak Boleh Lewat

Bupati Balangan H Ansharuddin sangat prihatin gan geram atas kerusakan infrastruktur ruas jalan nasional di Kabupaten Balangan yang sangat rusak parah.
Pagi tadi, Jumat (24/3) ketika mau berangkat ke kantor, orang nomor satu di Balangan saat melintas di jalan nasional tepatnya di depan SMK Paringin yang kondisi kerusakan jalannya sangat parah memerintahkan kepada Dinas Perhubungan untuk melakukan penjagaan kepada angkutan semen milik PT Conch, untuk tidak boleh melintasi jalan tersebut agar tidak bertambah parah kerusakannya.
"Saya perintahkan kepada Dinas Perhubungan, Satpol PP dan Kepolisian untuk melakukan penjagaan atas angkutan semen PT Conch. Kalau tidak melakukan perbaikan atas jalan yang rusak ini mereka tidak boleh meliwati (melintasi, red) jalan ini," tegasnya.
Diakuinya, memang ini jalan milik pemerintah pusat tapi kalau kita biarkan saja mereka melintasinya dengan tonase yang berat kerusakannya akan semakin bertambah parah.
"Kami pemerintah daerah tidak punya kewenangan untuk melakukan perbaikan, kami hanya bisa melakukan (memberikan, red) usulan ataupun pemberitahuan akan kondisi jalan nasional," katanya.
Sebelum diperbaiki oleh pemerintah pusat, kami (Pemkab) Balangan meminta kepada pemilik angkutan semen PT Conch untuk melakukan perbaikan.
"Saya baca dikoran justru warga masyarakat yang melakukan perbaikan jalan yang rusak dengan secara swadaya," ujarnya.
Sekali lagi saya (bupati, red) tegaskan kalau PT Conch ataupun pemilik armada angkutan semen tidak melakukan perbaikan terhadap jalan yang rusak ini mereka tidak boleh melintasi jalan ini.
"Senin nanti saya akan turun langsung untuk memimpin penjagaan," tegasnya.
Seperti diketahui, angkutan bertonase besar dengan bebasnya wara-wiri merusak jalan nasional di Kabupaten Balangan.
Kerusakan parah di jalan utama Balangan bukan masalah baru. Masyarakat dan pemerintah daerah setempat sudah lama mengeluhkan. Truk trailer dengan kapasitas maksimum 80 ton melenggang dengan nyaman di Balangan.
Baik itu dari angkutan distribusi semen milik PT Conch yang berpusat di Tanjung, Kabupaten Tabalong. Ataupun pasokan batubara dan pasir putih dari Kabupaten luar Balangan untuk kebutuhan industri perusahaan asal Tiongkok tersebut.

Thursday, 23 March 2017

Izin Tambang Balangan Coal Terancam


Masalah demi masalah terus bermunculan kepermukaan, antar Warga Tawahan kecamatan Juai dengan perusahaan Balangan Coal. Bukan hanya permasalahan status lahan saling klaim antara pihak perusahaan dengan warga, penyelesaian permasalahan rusaknya lingkungan khususnya air sungai yang dituding masyarakat tercemar akibat limbah yang dibuang secara sengaja dan tanpa pengawasan oleh perusahaan Tambang Batubara yang merupakan anak dari PT Adaro Energy ini.

Dari paparan warga dalam acara ekspos permasalahan jalan hauling dan lingkungan desa tawahan yang digelar di aula benteng tundakan, Kamis (23/3) ada beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan Balangan coal diantara melakukan aktivitas pertambangan diluar areal Tambang yakni dilahan milik warga, pembuatan jalan angkutan perusahaan yang berdampak pada gangguan lingkungan dan  pembuangan limbah yang langsung mencemari sungai warga.
Salah satu warga tawahan Hairani mengatakan, pertemuan di Pemkab ini lantaran upaya masyarakat desa tawahan untuk meminta pertanggung jawaban Balangan coal tidak mendapatkan titik temu.
"Kami masyarakat sebelumnya sudah melakukan dialog , mediasi bahkan melakukan demo di lokasi Tambang namun tetap pihak perusahaan tidak bergeming, semoga dengan difasilitasi pemerintah daerah dan disaksikan langsung Bupati ini kami bisa mendapatkan keadilan," harapnya.
Dirinya menjelaskan, apa yang dilakukan warga ini hanya untuk mendapatkan keadilan yang mana selama ini tidak pernah ada.
Setelah ada Tambang didesanya, lanjut Hairani, kondisi tempat tinggalnya tidak senyaman dulu lagi bahkan,  banyak lahan warga yang bukan milik Balangan coal ikut digarap tanpa ada pertanggung jawaban atau diganti.
"Kalau lahan mungkin hanya sebagian masyarakat, tapi paling parah limbah perusahaan nya yang mencemari air sungai kami,padahal air sungai itu kami gunakan untuk aktivitas keseharian baik mandi ataupun dikonsumsi yang sekarang kondisinya tidak dapat dipergunakan lagi," jelasnya.
Air yang dulunya jernih sekarang menjadi coklat pekat dan sungai pun menjadi dangkat akibat adanya endapan lumpur didasar sungai. Bukan hanya itu,lanjut dia, air yang bercampur limbah tesebut juga mengenangi lahan pertanian dan perkebunan karet yang merupakan mata pencaharian masyarakat.


"Jika kami tidak merasa terganggu tentu kami tidak seperti ini. Kami hanya ingin keadilan dan lingkungan tetap seperti dulu, silahkan perusahaan cari makan ditanah kami tapi jangan rusak lingkungan kami," geramnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Balangan, Karim Suadi dalam pemaparannya pihaknya melakukan vertivikasi dibeberapa lokasi didesa tawahan. Diantaranya dijalan Hauling didesa tawahan dan didua sungai dikecamatan tawahan yakni sungai dusun Rasau dan Tantangin.
Dari pengecekan lapangan di Crossing (persimpangan ) jalan masyarakat dan jalan angkut milik Balangan caol ditemukan  jalan angkutan yang dinilai belum layak seperti kontur jalan yang masih berupa tanah pengerasan dan tanpa dilengkapo saluran Drainase .
Selain itu ditemukan juga kolam penjebak atau penangkap lumpur yang tidak dilakukan pengelolaannya secara maksimal dan adanya penyempitan aliran sungai milik warga.
Yang paling menarik hasil dari uji Laboratorium kandungan air disungai yang ada didesa tawahan terdapat pencemaran dan penurunan kualitas lingkungan dan ditemukan kandungan Baku mutu air limbah yang tinggi diair sungai warga salah satunya kandungan Total Suspended Solid ( TSS).

"Kami harapkan hasil vertifikasi lapangan ini bisa menjadi bahan rekomendasi untuk Balangan coal agar diselesaikan permasalahan tesebut" ujar Karim Suadi dihadapan perwakilan perusahaan dan warga yang disaksikan oleh Bupati Balangan H Anshruddin.
HRg Externar Manager Balangan Coal ,Tony Sobran mengatakan, pihaknya sebetulnya telah melakukan penanganan terkait laporan dan temuan adanya kerusakan lingkungan akibat operasional tambang.
"Sudah 80% penanganan yang kami lakukan. Kami berjanji akan menangani secara maksimal adanya kesalahan dan keteledoran pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh pihak perusahaan," janjinya.
Bupati Balangan H Ansharuddin sendiri langsung meminta keseriusan pihak perusahaan Balangan Coal untuk benar-benar menangani prihal kerusakan lingkungan dan permasalah tanggung jawab terhadap lahan warga.
Bahkan orang nomor satu di Bumi Sanggam ini, mengancam akan mencabut atau tidak akan mengeluakan izin operasi tambang Balangan Coal jika permasalahan ini tidak terselesaikan.
"Balangan Coal saat ini hanya memiliki izin sementara, izin resmi operasinya belum saya keluarkan. Jika masalah ini tidak diselesaikan maka izinnya akan saya tahan," tegasnya.
Sekedar diketahui, Balangan coal merupakan perusahaan tambang batu bara dibawah kepemilikan PT Adaro Indonesia sejak tahun 2014 yang didalamnya terdapat tiga perusahaan yakni PT CSM, PT Laskar Semsesta Alam dan PT Paramitha yang semua itu semula merupakan perusahaan tambang berskala lokal. H


Sunday, 19 March 2017

Kerajaan Banjar


Kerajaan Banjar adalah kerajaan Islam terbesar di kalimantan yang dapat mempersatukan beberapa kerajaan kecil di wilayah Kalimantan seperti Kerajaan Paser dan Kerajaan Kutai di kalimantan Timur, Kerajaan Kotawaringin di Kalimantan Tengah, serta Kerajaan Qodriah, Kerajaan Landak, dan Kerajaan Mempawah di Kalimantan Barat. Kerajaan Banjar juga mempunyai sejarah cukup panjang, karena diawali dari masa yang jauh sebelum masuknya pengaruh Islam, yaitu masa yang ditandai dengan berdirinya Candi Laras dan Candi Agung pada masa Hindu-Budha.

Sesuai tutur Candi (Hikayat Banjar Versi II), di Kalimantan telah berdiri suatu pemerintahan dari dinasti kerajaan (keraton) yang terus menerus berlanjut hingga derah ini digabung ke dalam Hindia Belanda pada 11 Juni 1860:

1.Keraton awal disebut Kerajaan Kahuripan.
2.Keraton I disebut Kerajaan Negara Dipa
3.Keraton II disebut Kerajaan Negara Daha.
4.Keraton III disebut Kesultanan Banjar
5.Keraton IV disebut Kerajaan Martapura
6.Keraton V disebut Pagustian.

Kerajaan Banjar Islam merupakan salah satu kerajaan terbesar di Kalimantan. Hingga saat ini terdapat kontropersi di kalangan ahli sejarah mengenai kapan Islam masuk ke Kalimantan Selatan. Paling tidak ada dua aliran besar tentang ini :Pertama kalangan yang mengatakan bahwa Islam masuk sebelum pasukan demak tiba di Banjarmasin; Kedua, golongan yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Kalimantan Selatan setelah Kerajaan Daha berhasil direbut oleh Pangeran Samudera bersamaan dengan pasukan militer Kerajaan Islam Demak.

Sejarah Berdirinya Kesultanan Banjar

Penghuni pertama Kalimantan Selatan diperkirakan terkonsentrasi di desa-desa besar, di kawasan pantai kaki Pegunungan Meratus yang lambat laun berkembang menjadi kota-kota bandar yang memiliki hubungan perdagangan dengan India dan Cina. Dalam perkembangannya, konsentrasi penduduk juga terjadi di aliran Sungai Tabalong. Pada abad ke 5 M, diperkirakan telah berdiri Kerajaan Tanjungpuri yang berpusat di Tanjung, Tabalong. Jauh beberapa abad kemudian, orang-orang Melayu dari Sriwijaya banyak yang datang ke kawasan ini. Mereka memperkenalkan bahasa dan kebudayaan Melayu sambil berdagang. Selanjutnya, kemudian terjadi asimilasi dengan penduduk setempat yang terdiri dari suku Maayan, Lawangan dan Bukit. Maka, kemudian berkembang bahasa Melayu yang bercampur dengan bahasa suku-suku daerah tempatan, yang kemudain membentuk bahasa Banjar Kalsik.

Di daerah Banjar telah berdiri Kerajaan Hindu, yaitu Negara Dipa yang berpusat di Amuntai. Kemudian berdiri Negara Daha yang berpusat di daerah Negara sekarang. Menurut Hikayat Banjar tersebut, Negara Dipa adalah kerajaan pertama di Kalimantan Selatan.

Cikal bakal Raja Dipa bisa dirunut dari keturunan Aria Mangkubumi. Ia adalah seorang saudagar kaya, tetapi buka keturunan raja. Oleh sebab itu, berdasarkan sistem kasta dalam Hindu, ia tidak mungkin menjadi raja. Namun, dalam praktiknya, ia memiliki kekuasaan dan pengaruh yang dimiliki oleh seorang raja. Ketika ia meninggal, penggantinya adalah Ampu Jatmia, yang kemudian menjadi raja pertama Negara Dipa. Untuk menutupi kekurangannya yang tidak berasal dari keturunan raja, Jatmika kemudian banyak mendirikan bangunan, seperti candi, balairung, kraton dan arca berbentuk laki-laki dan perempuan yang ditempatkan di candi. Segenap warga Negara Dipa diwajibkan menyembah Arca ini.

Ketika Ampu Jatmika meninggal dunai, ia berwasiat agar kedua anaknya, Ampu Mandastana dan Lambung Mangkurat tidak menggantikannya, sebag mereka bukan keturunan raja. Tapi kemudian, Lambung Mangkurat berhasil mencari pengganti raja, dengan cara mengawinkan seorang putri Banjar, Putri Junjung Buih dengan Raden Putera, seorang pangeran dari Majapahit. Setelah menjadi raja, Raden Putera memakai gelar Pangeran Suryanata, sementara Lambung Mangkurat memangku jabatan sebagai Mangkubumi.

 Setelah Negara Dipa runtuh, muncul Negara Daha yang berpusat di Muara Bahan. Saat itu, yang memerintah di Daha adalah Maharaja Sukarama. Ketia Sukarama meninggal, Ia berwasiat agar cucunya Raden Samudra yang menggantikan. Tapi, karena masih kecil, akhirnya Raden Samudra kalah bersaing dengan pamannya, Pangeran Tumenggung yang juga berambisi menjadi raja. Atas nasehat Mangkubumi Aria Tranggana dan agar terhindar dari pembunuhan, Raden Samudra kemudian melarikan diri dari Daha, dengan cara menghilir sungai melalui Muara Bahan ke Serapat, Balandian, dan memutuskan untuk bersembunyi di daerah Muara Barito. Di daerah aliran Sungai Barito ini, juga terdapat beberapa desa yang dikepalai oleh para kepala suku. Diantara desa-desa tersebut adalah, Tamban, Kuwin, Balitung dan Banjar. Kampung Banjar merupakan perkambungan Melayu yang dibentuk oleh liam buah sungai yakni Sungai Pandai, Sungai Sigaling, Sungai Karamat, Jagabaya dan Sungai Pangeran (Pegeran). Semua anak Sungai Kuwin. Desa Banjar ini terletak di tengah-tengah pemukiman Oloh Ngaju di Barito Hilir.

Orang Dayak Ngaju menyebut orang yang berbahasa Melayu dengan sebutan Masih. Oleh karena itu, desa Banjar disebut Banjarmasih, dan pemimpinnya disebut Patih Masih. Desa-desa di daerah Barito ini semuanya takluk di bawah Daha dengan kewajiban membayar pajak dan upeti. Hingga suatu ketika, Patih Masih mengadakan pertemuan dengan Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung, Patih Kuwin untuk berunding, agar bisa keluar dari mengaruh Daha, dan menjadikan kawasan mereka merdeka dan besar.

Keputusannya, mereka sepakat mencari Raden Samudera, cucu Maharaja Sukarama yang kabarnya sedang bersembunyi di daerah Balandean, Serapat. Kemudian, mereka juga sepakat memindahkan bandar perdagangan ke Banjarmasih. Selanjutnya, di bawah pimpinan Raden Samudra, mereka memberontak melawan kerajaan Daha. Peristiwa ini terjadi pada abad ke-16 M. Pemberontakan ini amat penting, karena telah mengakhiri eksistensi Kerajaan Daha, ytang berarti akhir dari era Hindu. Selanjutnya, masuk ke era Islam dan berdirilah Kerajaan Banjar.

Dalam sejarah pemberontakan itu, Raden Samudra meminta bantuan Kerajaan Demak di Jawa. Dalam Hikayat Banjar disebutkan, Raden Samudra mengirim duta ke Demak untuk mengadakan hubungan kerja sama militer. Utusan tersebut adalah Patih Balit, seorang pembesar Kerajaan Banjar. Utusan menghadap Sultan Demak dengan seperangkat hadiah sebagai tanda persahabatan berupa sepikul rotan, seribu buah tudung saji, sepuluh pikul lilin, seribu bongkah damar dan sepuluh biji intan.


Pengiring duta kerajaan ini ekitar 400 orang. Demak menyambut baik utusan ini, dan sebagai persyaratan, Demak meminta kepada utusan tersebut, agar Raja Banjar dan semua pembesar mau memeluk agam Islam. Atas bantuan Demak, Pangeran Samudera behasil mengalahkan Pangeran Tumenggung, penguasa Daha, sekaligus menguasai seluruh daerah taklukan Daha.

Setelah berhasil meruntuhkan dan menguasai kerajaan Daha, maka Raden (Pangeran) Samudera segera menunaikan janji untuk memeluk Islam. Setelah masuk Islam, ia memakai gelar Sultan Suriansyah. Gelar lainnya adalah Panembahan atau Susuhunan Batu Habang. Dialah Raja Banjar pertama yang memeluk Islam, dan sejak itu, agam Islam berkembang pesat di Kalimantan Selatan. Pangeran Samudra (Sultan Suriansyah) diIslamkan oleh wakul penghulu demak, Khatib Dayan pada tanggal 24 September 1526 M, hari Rabu Jam 10 pagi, bertepatan dengan 8 Zulhijjah 932 H. Khatib Dayan merupakan Penghulu Demak Rahmatullah, dengan tugas melakukan proses pengislaman raja beserta pembesar kerajaan. Khatib Dayan bertugas di Kerajaan Banjar sampa ia meninggal dunai, dan dikuburkan di Kuwin Utara.
Sultan Suriansyah telam membuka era baru di Kerajaan Banjar dengam masuk dan berkembangnya agam Islam. Kerajaan Banjar yang dimaksud di sini adalah kerajaan pasca masuknya agama Islam. Sementara era Negara Dipa dan Daha merupakan era tersendiri yang melatarbelakangi kemunculan Kerajaan Banjar. Diperkirakan, Suriansyah meninggal dunia sekitar tahun 1550 M. Seiring masuknya kolonial kulit putih Eropa, Kerajaan Banjar kemudian dihapuskan oleh Belanda pada 11 Juni 1860.

Dalam perjalannya, Kerajaan Banjar telah mengalami berbagai kesulitan dan ancaman baik eksternal maupun internal, terutama masa-masa setelah datangnya bangsa kolonial. Pusat kerajaan Banjar atau keraton Banjar harus berpindah-pindah dari stua tempat ketempat lain tidak kurang dari 5 (lima) kali. Tetapi tak satupun sisa-sisa tinggalan Keraton Banjar tersebut yang dapat diwariskan kepada generasi sekarang. Keraton pertama yang disebutkan berada di wilayah Kuin, dan keraton kedua yang berlokasi di Kayutangi atau Teluk Selong, Martapura, tidak ada seorangpun yang dapat menjelaskannya. Kenyataannya yang sekarang dapat ditemui di Kuin saat ini hanyalah lokasi Makam Sultan Suriansyah dan para tokoh yang sejaman seperti khatib Dayan, serta maka keluarga Sultan Suriansyah sendiri.

Tidak atau belum diktemukan serta diketahui dimana lokas Keraton Banjar dan bagaimana bentuk arsitekturnya hingga saat ini merupakan pertanyaan penelitian atau recearch questions yang menarik untuk dicarikan jawabannya.

Sehubungan dengan hal itulah penelitian ini dilakukan, dengan melakukan kerja kolaborasi antara sejarah, arkeologi dan arsitektur, maka diharapkan dapat mengak tabi yang selama ini belum ada yang mengangkat dan membicarakannya.
Masuk dan berkembangnya Islam berlangsung sebelum Kesultanan Banjar berdiri. Hal ini dikarenakan wilayah cikal bakal Kesultanan Banjar berdiri. Hal ini dikarenakan wilayah cikal bakal Kesultanan Banjar yang strategis, yaitu jalur perdagangan dan pelayaran. Melalui pelabuhan dan transaksi perdagangan yang ada Islam di dakwahkan oleh pedagang-pedagang muslim kepada rakyat.

Masuknya Islam berlangsung dengan damai dikawasan ini melalui tangan pedangang dan para ulama. Dalam salah satu makalah Pra Seminar Sejarah Kalsel (1973) disebutkan, Sunan Giri juga pernah singgah di Pelabuhan Banjar. Sunan Giri melakukan transaksi pedagang dengan warga sekitar dan bahkan memberikan secara gratis barang-barang kepada penduduk yang fakir.

Disamping itu juga terdapat keterangan mengenai salah seorang pe-muka Kerajaan Daha, yakni Raden Sekar Sungsang yang menimba ilmu kepada Sunan Giri. Melalui jalur ini Pengeran Samudra mengenai Islam dan kelak mengadakan hubungan dengan Kesultanan Demak. Pangeran Samudra sendiri kemudain masuk Islam dan mengganti namanya menjadi sultan Suriansyah. Sekaligus berdiri pada haru Rabu 24 September 1526. Tempat pemerintahan dipusatkan di rumah Patih Masih, daerah perkampungan suku Melayu yang terletak di antara Sungai Keramat dan jagabaya dengan Sungai Kuyin sebagai induk. Pada tempat ini pula dibangun sebuah Masjid yang berdiri hingga sekarang, dikenal dengan nama Masjid Sultan Suriansyah.

Dalam perjalanannya, Kerajaan Banjar telah mengalami berbagai kesulitan dan ancaman baik dari eksternal maupun internal, terutama masa-masa setelah datangnya bangsa kolonial. Pusat kerajaan atau Keraton Banjar harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tampat lain tidak kurang dari 5 (lima) kali. Tetapi tak satupun sisa-sisa tinggalan Keraton Banjar tersebut yang dapat diwariskan kepada generasi sekarang. Kerator pertama yang disebutkan berada di wilayah Kuin, dan keraton kedua yang berlokasi di Kayutangi atau Teluk Selong, Martapura, tidak ada seorangpun yang dapat menjelaskannya. Kenyataan yang sekarang dapat ditemu di Kuin saat ini hanyalah lokasi Makan Sultan Suriansyah dan para tokoh sejaman seperti khatib Dayan, serta makam keluarga Sultan Suriansyah sendiri.

Raja-raja Kerajaan Banjar

1. 1526 – 1545: Pangeran Samudra yang kemudian bergelar Sultan Suriansyah, Raja pertama yang memeluk Islam
2. 1545 – 1570: Sultan Rahmatullah
3. 1570 – 1595: Sultan Hidayatullah
4. 1595 – 1620: Sultan Mustain Billah, Marhum Penambahan yang dikenal sebagai Pangeran Kecil. Sultan inilah yang memindahkan Keraton ke kayutangi, Martapura, karena keraton di Kuin yang hancur diserang Belanda pada Tahun 1612.  
5. 1620 – 1637: Ratu Agung bin Marhum Penembahan yang bergelar Sultan Inayatullah.
6. 1637 – 1642: Ratu Anum bergelar Sultan Saidullah
7. 1642 – 1660: Adipati Halid memegang jabatan sebagai wali Sultan, karena anak Sultan Saidullah, Amirullah Bagus kesuma belum dewasa.

8. 1660 – 1663: Amirullah Bagus Kesuma memegang kekuasaan hingga 1663, kemudian Pangeran Adipati anum (Pangeran Suriansyah) merebutk kekuasaan dan memindahkan kekuasaan ke Banjarmasin.

9. 1663 – 1679: Pangeran Adipati Anum setelah merebut kekuasaan memindahkan pusat pemerintahan ke Banjarmasin bergelar Sultan Agung.

10. 1679 -1700: Sultan Tahlilullah berkuasa
11. 1700 – 1734: Sultan Tahmidullah bergelar Sultan Kuning.
12. 1734 – 1759: Pangeran Tamjid bil Sultan Agung, yang bergelar Sultan Tamjidillah.
13. 1759 – 1761: Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah
14. 1761 – 1801: Pangeran Nata Dilaga sebagai wali putra Sultan Muhammad Aliuddin yang belum dewasa tetapi memegang pemerintahan dan bergelar Sultan Tahmidullah.

15. 1801 – 1825: Sultan Suleman Al Mutamidullah bin Sultan Tahmidullah
16. 1825 – 1857: Sultan Adam Al Wasik Billah bin Sultan Suleman
17. 1857 – 1859: Pangeran Tamjidillah
18. 1959 – 1862; Pangeran Antasari yang bergelar Panembahan Amir Oeddin Khalifatul Mu’mina
19. 1862 – 1905: Sultan Muhammad Seman yang merupakan Raja terakhir dari Kerajaan Banjar.

Kesultanan banjar mulai mengalami masa kejayaan pada dekade pertama abad ke-17 dengan lada sebagai komoditas dagang, secara praktis barat daya, tenggara dan timur pulau Kalimantan membayar upeti pada kerajaan Banjarmasin. Sebelum kesultanan Banjar membayar upeti kepada Kesultanan Demak, tetapi pada masa Kesultanan Pajang penerus Kesultanan Demak, Kesultanan Banjar tidak lagi mengirim upeti ke Jawa.

Sumber :
- Wikipedia.com
- Buku asal usul kerajaan Banjar Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kalsel 2001

Saturday, 11 March 2017

Sejarah dan Masa Depan Indonesia di All England


cbutnasvxrkc83zffxi1


Orang-orang Inggris boleh menepuk dada sembari mengaku bahwa mereka adalah penemu banyak cabang olahraga. Sepak bola, rugbi, kriket, tenis, dan bulu tangkis, semua pertama kali dimainkan -- setidaknya dalam bentuk modern -- oleh orang-orang Inggris.
Namun, ada satu kesamaan yang dialami para atlet Inggris di semua cabang itu. Mereka bukanlah kekuatan utama dan dominan dalam olahraga-olahraga tersebut. Di sepak bola, Inggris baru pernah merasakan gelar juara dunia sebanyak satu kali. Pun demikian dengan rugbi.
Dari cabang kriket, Inggris malah belum pernah sekali pun merasakan nikmatnya jadi yang terbaik di dunia. Sementara itu, di cabang tenis dan bulu tangkis, meski dulu mereka sempat dominan, pada akhirnya supremasi harus mereka relakan ke atlet-atlet dari negara lain.
Hari ini, kejuaraan bulu tangkis tertua di dunia, All England, akan digelar untuk yang ke-107 kalinya. Sama dengan tahun-tahun belakangan, tidak ada pebulu tangkis Inggris yang benar-benar diunggulkan, selain barangkali pasangan suami-istri Chris dan Gabby Adcock. Pasangan suami-istri tersebut kini berada di peringkat ketujuh dunia dan mereka diharapkan mampu mengulangi raihan Nathan Robertson dan Gail Emms pada 2005 silam.
Meski prestasi Inggris telah lama surut, dulunya mereka adalah penguasa olahraga ini. Nama Thomas dan Uber adalah buktinya. Sir George Alan Thomas dan Elizabeth "Betty" Uber dulu merupakan nama yang amat dominan di bulu tangkis. Thomas hingga kini masih memegang rekor gelar juara terbanyak di All England dengana catatan 21 gelar di semua nomor. Uber, sementara itu, mampu mengoleksi 13 gelar.
Dominasi Thomas dan Uber ini terjadi pada era di mana semua juara All England berasal dari Eropa. Ya, sejak pertama kali dihelat di markas resimen London Scottish pada 1899 hingga tahun 1948 ketika turnamen dihelat di Harringay Arena, hanya ada lima negara yang wakilnya mampu jadi juara. Kelima negara itu adalah Inggris, Swiss, Republik Irlandia, Denmark, dan Swedia.
David Freeman dari Amerika Serikat, bersama Ooi Teik Hock dan Teoh Seng Khoon dari Malaysia, menjadi tiga pebulu tangkis yang memutus dominasi Eropa pada gelaran tahun 1949. Uniknya, Freeman dan Teik Hock sendiri saling mengalahkan di dua nomor berbeda. Jika Freeman berhasil menang di nomor tunggal putra, maka Teik Hock bersama Seng Khoon berhasil mengalahkan Freeman yang berpasangan dengan Wynn Rogers di nomor ganda putra. Sejak keberhasilan tiga atlet dari dua benua berbeda itu, All England kemudian memiliki banyak juara dari berbagai negara.
Malaysia menjadi negara Asia pertama yang mampu jadi penguasa All England, khususnya di nomor-nomor yang melibatkan pebulu tangkis pria. Bersama atlet-atlet dari Denmark dan Amerika Serikat, Malaysia berhasil membatasi dominasi Inggris di nomor ganda putri saja.
Indonesia sendiri baru bisa meraih gelar juara pertama pada 1959 melalui aksi Tan Joe Hok. Istimewanya, pria kelahiran 1937 itu mengalahkan sesama orang Indonesia, Ferry Sonneville di partai puncak. Namun, gelar juara Joe Hok sendiri kala itu hanya terasa seperti kejutan di tengah dominasi Malaysia-Denmark, terutama lewat Erland Kops, Eddy Choong, dan Wong Peng Soon.
Baru pada 1968 Indonesia mampu kembali menjadi juara. Lewat Rudy Hartono di nomor tunggal putra serta Minarni Sudaryanto dan Retno Koestijah di nomor ganda putri, Merah-Putih berkibar di Wembley. Rudy Hartono sendiri akhirnya berhasil menjadi juara sebanyak delapan kali, di mana tujuh di antaranya dia raih secara berturut-turut antara 1968-1974.
Sampai sekarang, rekor tujuh kali juara beruntun Rudy Hartono itu belum bisa dipecahkan siapa pun. Selain itu, delapan gelar juara milik pria asal Surabaya itu berkontribusi besar atas rekor yang hingga kini masih belum bisa direbut negara mana pun dari Indonesia.
Dengan 43 gelar di semua nomor, Indonesia adalah peraih gelar All England terbanyak sepanjang sejarah dan dari semua gelar itu, 18 di antaranya disumbangkan nomor ganda putra. Christian Hadinata dan Ade Chandra jadi pasangan ganda putra Indonesia yang memelopori dominasi itu. Namun, bukan merekalah yang berkontribusi paling banyak dalam urusan raihan gelar. Adalah pasangan Tjun Tjun dan Johan Wahjudi dengan enam gelarnya yang menjadi peraih gelar terbanyak.
Sementara itu, meski sudah berhasil mengangkat trofi untuk pertama kali pada 1968, pebulu tangkis putri Indonesia terhitung jarang menjadi juara di tanah Britania. Setelah Minarni-Retno, Indonesia harus menunggu 11 tahun sebelum Verawaty dan Imelda Wiguna mengangkat trofi pada 1979. Di tahun tersebut, Imelda Wiguna menjadi juara di dua nomor sekaligus, yakni ganda putri dan ganda campuran. Gelar ganda campuran yang diraih Imelda bersama Christian Hadinata itu pun menjadi yang pertama bagi Indonesia.V

Setelah menunggu cukup lama, Indonesia akhirnya baru bisa punya juara di nomor tunggal putri lewat kontribusi Susy Susanti. Pebulu tangkis yang juga peraih medali emas Olimpiade itu berhasil menjadi juara sebanyak empat kali dalam kurun waktu 1990-1994. Sayangnya, empat trofi itu juga menjadi empat trofi terakhir Indonesia di nomor tunggal putri hingga sekarang.
Namun, tidak hanya di nomor tunggal putri saja Indonesia seret gelar. Di nomor tunggal putra pun demikian. Gelar juara Haryanto Arbi pada tahun 1994 adalah gelar juara tunggal putra terakhir yang bisa dibawa pulang ke Tanah Air. Setelah itu, Indonesia harus rela melihat trofi melayang ke tangan para pebulu tangkis China, Denmark, Malaysia, bahkan India.
Tahun lalu, Indonesia kembali berhasil meraih trofi lewat Praveen Jordan dan Debby Susanto. Pasangan ganda campuran itu kini berada di peringkat kelima dunia. Praveen-Debby sendiri berhasil meneruskan tren apik Indonesia di nomor ganda campuran setelah sebelumnya Tontowi Ahmad dan Lilyana Natsir menjadi juara tiga kali berturut-turut mulai 2012.
Kemenangan Tontowi-Lilyana pada 2012 tersebut berhasil memutus puasa gelar Indonesia yang terjadi selama delapan tahun. Sejak Sigit Budiarto dan Candra Wijaya menjadi juara ganda putra pada 2003, Indonesia sempat tidak mampu mengirim satu wakil pun yang menjadi juara. Padahal, ketika itu Indonesia sempat punya Taufik Hidayat yang berhasil menjadi peraih medali emas Olimpiade Athena 2004 dan juara dunia 2005.
Pada gelaran tahun ini, Indonesia masih bakal sangat mengandalkan nomor ganda campuran untuk meraih trofi. Pasalnya, selain punya juara bertahan, Indonesia juga masih punya Tontowi-Lilyana yang menghuni peringkat ketiga dunia.
Namun, di dua nomor ganda lainnya, Indonesia pun punya pasangan-pasangan yang ada di 10 besar dunia. Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo merupakan harapan terbesar Indonesia di nomor ganda putra. Juara China Terbuka 2016 ini sedang menghuni peringkat kelima dunia.
Sementara itu, di bawah Marcus dan Kevin, Indonesia juga punya Angga Pratama dan Ricky Karanda Suwardi yang duduk di peringkat tujuh dunia. Tahun lalu, Angga dan Ricky mampu menjadi juara Asia di Hyderabad, India.
Di nomor tunggal putra, Indonesia punya tiga pebulu tangkis yang ada di 25 besar dunia. Mereka adalah Tommy Sugiarto (16), Jonatan Christie (20), dan Sony Dwi Kuncoro (22).
Meski Tommy Sugiarto ada di peringkat tertinggi, justru Jonatan dan Sony-lah yang prestasinya lebih baik tahun lalu. Jonatan berhasil menjadi juara Asia, sementara Sony sukses memenangi sebuah ajang Super Series, Singapura Terbuka. Namun, Jonatan tidak akan turun berlaga di All England tahun ini.
Hari ini, ada tiga wakil Indonesia yang akan bertanding di babak kualifikasi. Mereka adalah Anthony Ginting dan Ihsan Maulana dari nomor tunggal putra, serta Lyanny Mainaky dari ganda putri. Anthony Ginting yang berperingkat dunia 32 akan bermain menghadapi Sourabh Verma dari India. Sementara itu, Ihsan Maulana (38) akan meladeni pebulu tangkis Jepang Kenta Nishimoto, sedangkan Lyanny Mainaky sudah ditunggu Nadia Fankhauser dari Swiss.
Dalam gelaran All England tahun ini, Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) hanya menargetkan satu gelar juara. Akan tetapi, tentu tidak ada jaminan bahwa mereka yang diunggulkan bakal otomatis menjadi juara dan begitu pula sebaliknya. Dengan keberadaan pemain-pemain peringkat atas di tiga nomor ganda serta pemain-pemain muda di nomor tunggal, mungkin harapan itu boleh mulai dipupuk lagi.

sumber : https://m.kumparan.com/yoga-cholandha/sejarah-dan-masa-depan-indonesia-di-all-england?utm_source=Facebook&utm_campaign=acquisition&utm_medium=cpc

Tuesday, 7 March 2017

Ada Naik Manau dan Kakuyaan


Ada Naik Manau dan Kakuyaan



Rangkaian episentrum atraksi budaya Dayak Meratus menghiasi gelaran festival pesona dayak meratus yang digelar di desa Wisata Wadian Tambai Kapul, Kecamatan Halong selama tiga hari yang berakhir pada hari Minggu lalu.
Episentrum atraksi yang ditampilkan dalam agenda tahunan yang digagas oleh Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Balangan ini, benar-benar menjadi diskripsi pas tentang kebudayaan dayak meratus pasalnya, hampir semua yang ditampilkan merupakan rangkuman kehidupan komunitas dayak meratus sehari-hari seperti menumbuk padi, membuat anyaman (arangan), menyumpit dan permainan tradisional seperti bagasing, mutuu, balugu, kenje juga turut ditampilkan tari kreasi dayak meratus dari berbagai kabupaten yang di Kalsel.
Tak ketinggalan, acara yang sudah berlangsung untuk ketiga kalinya ini turut menghadirkan pameran kerajinan, kuliner, wisata alam dan budaya dan pengobatan tradiaional yang semuanya itu, merupakan bagian dari kebudayaan komunitas masyarakat penghuni pengunungan meratus tersebut.

Sedikitnya ada dua antraksi yang menonjol dan bisa dijadikan tulak ukur kemeriahan serta hal baru dalam gelaran festival pesona dayak meratus yang ketiga kalinya sejak 2015 lalu yakni, Tarian Banaik Manau dan Kesenian Kakuyaan.
Tari Naik Manau biasanya dibawakan oleh suku sub suku dayak deah dimana tarian ini dilakukan dengan menaiki atau memanjat pohon berduri yg disebut Manau (rotan besar). Tarian Banaik Manau ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kelebihan keahlian ilmu (magis) agar tidak tertusuk dan terluka terkena duri saat menaiki pohon Manau ini. Sedangkan kesenian Kakuyaan ialah merupakan kesenian tarik suara yang sudah sangat jarak ditemui ditengah masyarakat dayak meratus saat ini.
Menurut ketua DAD Balangan Mandan, ditampilkannya tarian Naik Manau dan Kakuyaan ini dalam rangkaian acara festival budaya dayak meratus untuk lebih memperbanyak khasanah budaya dayak meratus yang sajikan, dengan begitu masyarakat luas bisa mendapatkan diskripsi yang pas dan luas tentang kebudayaan yang dimiliki oleh dayak meratus yang selama ini masih kurang dikenal luas.
Khusus kesenian Kakuyaan, kata Mandan, memang selama ini sangat jarang ditemui maka dari itu pada gelaran festival kali ini ditampilkan.
"Selain ingin mengenalkan kebudayaan dayak meratus secara luas, lewat fastival ini kita juga ingin menjaga, melastarikan dan menumbuhkan kecintaan genarasi muda terhadap kebudayaan asli dayak meratus," bebernya.
Terkait tari Naik Manau, Mandan mengungkapkan, tarian ini menunjukan kegagahan dan kesaktian laki-laki Dayak dalam menjaga Bumi dan Tanah Leluhur mereka dari segala ancaman dan juga menggambarkan jika kehidupan orang dayak meratus tidak terlepas dari alam.
"Lewat atraksi tarian Manau dan Kakuyaan ini, kami ingin menyampaikan jika dayak meratus itu mampu menjaga alam sebagai tempat hidupnya. Selain itu, juga mengambarkan batapa erat dan harmonisnya kehidupan orang dayak meratus dengan alam khususnya hutan," jelasnya.

Tampilkan dan Libatkan Meratus Se Kalsel


Tampilkan dan Libatkan Meratus Se Kalsel



Gelaran festival Pesona Dayak Meratus selama tiga di desa Desa Wisata Kapul, Kecamatan Halong benar-benar menjadi diskripsi pas tentang kebudayaan dayak meratus di Kalsel. Sebab tidak hanya menampilkan kebudayaan dayak meratus asal Balangan tapi juga melibatkan dan menampilkan atraksi kehidupan komunitas dayak meratus yang ada di Kalsel seperti dari Kabupaten Tanah Bumbu, Tapin, Batola, Marabahn, Tabalong dan lainnya.


Selain kesenian tarian yang dibawakan oleh perwakilan Dewan Adat Dayak (DAD) se Kalsel, juga turut ditampilkan permainan tradisional yang juga turut dikuti oleh seluruh perwakilan DAD yang masing mewakili komunitas dayak meratus didaerahnya masing-masing, bahkan juga ada perwakilan yang datang dari Tamiang Layang Kabupaten Bartim Kalteng

Menurut Ketua DAD Balangan Mandan, gelaran festival Pesona Dayak Meratus ini selain menampilkan realitas kebudayaan kehidupan sehari-hari orang dayak meratus seperti menumbuk padi, membuat anyaman (arangan), menyumpit dan permainan tradisional juga sebagai ajang silaturahmi antar warga sesame dayak maupun warga non dayak.

kegiatan gelaran festival Pesona Dayak Meratus, menurut Mandan, memang bertujuan melastarikan kebudayaan dayak serta mengenalkan secara luas tetapi, juga bertujuan meningkatkan rasa persatuan baik antar suku dayak meratus yang terbagi dalam beberapa sub suku maupun dengan masyarakat luar yang secara wilayah satu kesatuan.
“Kenapa kita menampilkan sebanyak-banyaknya kebudayaan dan melibatkan seluruh komunitas dayak yang ada, karena ita ingin menunjukan kalau dayak itu satu. Dan juga bisa memperkenalkan betapa kayanya kebudayaan orang dayak meratus yang mungkin selama ini masih kurang dikenal luas,’’ bebernya.
Ditambahkan salah satu panitia pelaksana Gelaran festival Pesona Dayak Meratus, Sahdi jika selama gelaran festival ini pihaknya menampilkan puluhan atraksi kebudayaan masyarakat dayak meratus baik itu dari Kabupaten Balangan maupun dari luar Balangan.
“khusus seni tari kita menampilkan sekitar 20 buah tarian yang dibawakan masing- masing perwakilan DAD ditambah dengan lomba tradisioanal seperti bagasing, mutuu, balugu dan kenje. Untuk peserta sendiri kita mengundang dan melibat seluruh DAD se Kalsel yang jumlahnya hamper 500 orang,’’ bebernya.
Untuk setiap atraksi yang ditampilkan, menurut salah satu pengurus DAD Balangan ini, selain bisamengdiskripsi kebudayaan orang dayak meratus juga mengandung penyampaian pesan-pesan kearifan lokal orang dayak meratus yang selama ini dipegang teguh.
“Lewat Gelaran festival Pesona Dayak Meratus kita ingin masyarakat luas mendapatkan diskripsi kebudayaan termasuk falsafah kehidupan dari kami masyarakat dayak meratus yang lengkap," pungkasnya.

Waspada Kematian Bayi Masyarakat khususnya para orang tua, dimintai mewaspadai pada bulan februari sampai April mendatang. ...