Karnaval Meriahkan Hari Anak
PARINGIN, Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, Disdik
Balangan mengelar festival anak yang diikuti ratusan anak-anak yang
berasal dari sejumlah TK dan PAUD se Kabupaten Balangan di terminal
Paringin Kota Selasa (9/8) kemarin.
Karnaval yang dibuka langsung oleh Bupati Balangan H Ansharuddi ini
disambut antusian oleh anak-anak berpakaian beragam jenis seperti
dokter, polisi, tentara, PNS hingga petani.
"Tema karnafal kali ini adalah Akhiri Kekerasan Pada Anak. Kami
mengambil tema ini sebagai bentuk keprihatinan terhadap berbagai
peristiwa yang terjadi dewasa ini terhadap anak-anak," ujar Sekretaris
Disdik Balangan, Suwarso dalam laporan panitia pelaksana.
Sedangkan dalam sambutannya, Bupati Balangan Ansharuddin mengungkapkan,
secara bersama harus didasari jika setiap orang tua berkewajiban
memberikan kasih sayang dan perhatikan terhadap para anak.
Perhatian yang dimaksud, kata Anshar, termasuk mempersiapkan
anak-anaknya menghadapi tantangan yang akan menghadang mereka kelak.
"Anak-anak haru selalu sehat, rajin belajar, kreatif dan gemar
meningkatkan kualitas diri mereka. Sedangkan orang tua, pemerintah dan
semua pihak berkewajiwajib membekali anak semanjak dini dengan akhlak
mulia dan jiwa kemandirian," pungkasnya.(sugi)
Tuesday, 9 August 2016
Kontingen Kopri Siapa Berprestasi
Kontingen Kopri Siapa Berprestasi
PARINGIN, keberangkatan kontingen Korpri Balangan untuk mengikuti turnamen pertandingan antar Korpri se Kalsel yang digelar di Kota Banjarbaru, langsung dilepas oleh Bupati Balangan H Ansharuddin Selasa (9/8) kemarin.
Prosesi pelepasan kontingen yang dilakukan di halaman Kantor Bupati Balangan tersebut turut disaksikan oleh Sekdakab Balangan, Pimpinan Bank Kalsel Cabang Paringin dan sejumlah pejabat lainnya.
"Meski bukan ajang pertandingan olahraga profesional, namun saya harap para pemain dapat bermain maksimal," pesannya.
Selain sebagai ajang pertandingan olahraga, kegiatan ini kata Ansharuddin, juga sebagai ajang silaturahmi antar para pegawai.
"Jalinlah silaturahmi dengan semua kontingen dan jangan lupa bermainlah secara fair play," ingatkannya.
Sementara menurut Ketua Kontingen Korpri Balangan Yuliansyah, ada enam cabor yang dipertandingkan, di antaranya futsal, tenis meja dan lapangan, bola voli, catur dan bulutangkis.
"Meski kita tidak mematok target apa-apa, tapi yang pasti kita akan berusaha menampilkan yang terbaik," pungkasnya. (sugi)
PARINGIN, keberangkatan kontingen Korpri Balangan untuk mengikuti turnamen pertandingan antar Korpri se Kalsel yang digelar di Kota Banjarbaru, langsung dilepas oleh Bupati Balangan H Ansharuddin Selasa (9/8) kemarin.
Prosesi pelepasan kontingen yang dilakukan di halaman Kantor Bupati Balangan tersebut turut disaksikan oleh Sekdakab Balangan, Pimpinan Bank Kalsel Cabang Paringin dan sejumlah pejabat lainnya.
"Meski bukan ajang pertandingan olahraga profesional, namun saya harap para pemain dapat bermain maksimal," pesannya.
Selain sebagai ajang pertandingan olahraga, kegiatan ini kata Ansharuddin, juga sebagai ajang silaturahmi antar para pegawai.
"Jalinlah silaturahmi dengan semua kontingen dan jangan lupa bermainlah secara fair play," ingatkannya.
Sementara menurut Ketua Kontingen Korpri Balangan Yuliansyah, ada enam cabor yang dipertandingkan, di antaranya futsal, tenis meja dan lapangan, bola voli, catur dan bulutangkis.
"Meski kita tidak mematok target apa-apa, tapi yang pasti kita akan berusaha menampilkan yang terbaik," pungkasnya. (sugi)
Monday, 8 August 2016
Menelaah Arsitektur Eropa Zaman Kolonial Di Bumi Sanggam I
Menelaah Arsitektur Eropa Zaman Kolonial Di Bumi Sanggam I
PARINGIN, Dari sekian banyak situs peninggalan arkeologi di Kabupaten Balangan ternyata pengaruh kehidupan kolonial dimasa penjejahan Belanda menghasilkan situs peninggalan budaya berupa bangunan dengan arsitektur bergaya Eropa.
Menurut data hasil penelitian Balai Pelestarian Nilai Budaya (BNPB) Pontianak dari delapan Kecamatan di Balangan, tersebar situs-situs peninggalan arkeologi di 24 desa, diantaranya rumah dengan arsiktektur bergaya Eropa peninggalan zaman kolonial yang terletak di Desa Simpang Tiga Kecamatan Lampihong sebanyak dua buah dan satu buah di Desa Muara Ninian Kecamatan Juai.
Salah satu rumah dengan arsiktektur bergaya Eropa peninggalan zaman kolonial yakni, rumah milik Alm. H. N. Iffansjah Hanafie bin Handran yang dibangun pada tahun 1926 terletak di seberang pasar Desa Ninian Kecamatan Juai.
Rumah ini, lebih dikenal dengan sebutan Rumah Batu atau Rumah Belanda. Selaian mempunyai denah menyerupai hurup U khas rumah Eropa khususnya Belanda, bahan bangunan pun mengunakan beton untuk bagian pondasi bawah mulai dari pondasi hingga lantai untuk seluruh bagian rumah, sedangkan bangunannya menggunakan bahan kayu, khusus lantai rumah mengunakan teraso warna gelap (hitam/hijau) untuk ruang tamu, sedangkan ruang keluarga dan kamar tidur mengunakan teraso warna kuning kecoklatan dan abu-abu.
Rumah dengan persegi empat 20×20 meter dengan tinggi hampir 12 meter serta menggunakan atap sirap itu, hingga kini masih kukuh berdiri menjadi aksi hidup perjalanan Balangan.
“Pemilik rumah ini yakni, Alm. H. N. Iffansjah Hanafie bin Handran merupakan putra kelahiran Amuntai 28 Februari 1939 yang kini keluarga besarnya berada di Jakarta,’’ ujar Suriansyah (57) yang kini mendiami rumah Batu tersebut.
Sebetulnya rumah tersebut, lanjut keponakan , Alm. H. N. Iffansjah Hanafie ini, dibangun semasa ayah H. N. Iffansjah Hanafie masih hidup lalu kemudian diwariskan kepada beliau.
Namun sejak sekitar tahun 1975, kata Suriansyah, Alm. H. N. Iffansjah Hanafie berhenti mengeluti usaha karet lalu pindah ke Jakarta, sejak itulah rumah Batu dipercayakan kepada H. Kurdi yang merupakan ayah dari Suriansyah yang mendiami rumah tersebut hingga kini.
Suriansyah menilai, rumah milik Iffansyah ini, berarsiktektur bergaya Eropa peninggalan zaman kolonial karena beliau merupakan bagian dari keluarga seorang pengusaha kaya yang sering melakukan perjalanan keluar daerah.
“Wajar rumah ini bergaya rumah Belanda, karena ayah beliau Alm. Handran merupakan orang kaya pada jamannya. Sehingga membuat rumah berarsiktektur bergaya Eropa sesuai pada zaman kolonial Belanda menandakan kemapan ekonomi keluargannya,’’ jelas.
Meski rumah berarsiktektur Eropa khususnya Belanda, kata Suriansyah, tidak pernah ada cerita mengenai kedekatan ataupun hubungan keluarga Alm. H. N. Iffansjah Hanafie dengan kaum penjajah Belanda.
“Menurut sejarah, tidak ada hubungan khusus keluarga Alm. H. N. Iffansjah Hanafie dengan kaum penjajah. Meski bangunan rumah miliknya berarsiktektur Eropa pada jaman kolonial,’’ tegasnya.
Selain itu, rumah Batu ini juga sempat digunakan oleh TNI selama empat tahun yakni, mulai tahun 1959 hingga 1963 sebagai Pos penjagaan untuk keamanan dari gangguan gerakan Ibnu Hajar di Wilayah Balangan.
“Rumah Batu ini pernah digunakan para Mondrik (pasukan TNI dan Polisi) untuk pos penjagaan dari para gerombolan (kelompok Ibnu Hajar),’’ beber Suriansyah.
Selain rumah Batu ini, tambahnya, ada dua pos penjagaan lagi yang digunakan oleh para Mondrik guna menyisir para gerombolan yakni, di Desa Sungai Batung kecamatan Juai dan di Kecamatan Halong.
Dharma Setyawan guru sejarah di SMAN 1 Paringin mengungkapkan, keberadaan rumah dengan arsiktektur bergaya Eropa peninggalan zaman kolonial tidak terlepas dari kehidupan sosial pemilik rumah yang rata-rata pengusaha karet pada masa kolonial.
Wilayah Balangan dimasa kolonial, menurut lulusan FKIP Pendidikan Sejarah Universitah Unlam ini, merupakan wilayah penghasil karet dengan jumlah besar.
“Sehingga sebetulnya keberadaan Belanda di wilayah Balangan selain upaya pengamanan dan menjalankan pemerintahan di Kewedanan Balangan juga lebih kepada penguasaan produksi karet yang ada,” bebernya. (sugi)
PARINGIN, Dari sekian banyak situs peninggalan arkeologi di Kabupaten Balangan ternyata pengaruh kehidupan kolonial dimasa penjejahan Belanda menghasilkan situs peninggalan budaya berupa bangunan dengan arsitektur bergaya Eropa.
Menurut data hasil penelitian Balai Pelestarian Nilai Budaya (BNPB) Pontianak dari delapan Kecamatan di Balangan, tersebar situs-situs peninggalan arkeologi di 24 desa, diantaranya rumah dengan arsiktektur bergaya Eropa peninggalan zaman kolonial yang terletak di Desa Simpang Tiga Kecamatan Lampihong sebanyak dua buah dan satu buah di Desa Muara Ninian Kecamatan Juai.
Salah satu rumah dengan arsiktektur bergaya Eropa peninggalan zaman kolonial yakni, rumah milik Alm. H. N. Iffansjah Hanafie bin Handran yang dibangun pada tahun 1926 terletak di seberang pasar Desa Ninian Kecamatan Juai.
Rumah ini, lebih dikenal dengan sebutan Rumah Batu atau Rumah Belanda. Selaian mempunyai denah menyerupai hurup U khas rumah Eropa khususnya Belanda, bahan bangunan pun mengunakan beton untuk bagian pondasi bawah mulai dari pondasi hingga lantai untuk seluruh bagian rumah, sedangkan bangunannya menggunakan bahan kayu, khusus lantai rumah mengunakan teraso warna gelap (hitam/hijau) untuk ruang tamu, sedangkan ruang keluarga dan kamar tidur mengunakan teraso warna kuning kecoklatan dan abu-abu.
Rumah dengan persegi empat 20×20 meter dengan tinggi hampir 12 meter serta menggunakan atap sirap itu, hingga kini masih kukuh berdiri menjadi aksi hidup perjalanan Balangan.
“Pemilik rumah ini yakni, Alm. H. N. Iffansjah Hanafie bin Handran merupakan putra kelahiran Amuntai 28 Februari 1939 yang kini keluarga besarnya berada di Jakarta,’’ ujar Suriansyah (57) yang kini mendiami rumah Batu tersebut.
Sebetulnya rumah tersebut, lanjut keponakan , Alm. H. N. Iffansjah Hanafie ini, dibangun semasa ayah H. N. Iffansjah Hanafie masih hidup lalu kemudian diwariskan kepada beliau.
Namun sejak sekitar tahun 1975, kata Suriansyah, Alm. H. N. Iffansjah Hanafie berhenti mengeluti usaha karet lalu pindah ke Jakarta, sejak itulah rumah Batu dipercayakan kepada H. Kurdi yang merupakan ayah dari Suriansyah yang mendiami rumah tersebut hingga kini.
Suriansyah menilai, rumah milik Iffansyah ini, berarsiktektur bergaya Eropa peninggalan zaman kolonial karena beliau merupakan bagian dari keluarga seorang pengusaha kaya yang sering melakukan perjalanan keluar daerah.
“Wajar rumah ini bergaya rumah Belanda, karena ayah beliau Alm. Handran merupakan orang kaya pada jamannya. Sehingga membuat rumah berarsiktektur bergaya Eropa sesuai pada zaman kolonial Belanda menandakan kemapan ekonomi keluargannya,’’ jelas.
Meski rumah berarsiktektur Eropa khususnya Belanda, kata Suriansyah, tidak pernah ada cerita mengenai kedekatan ataupun hubungan keluarga Alm. H. N. Iffansjah Hanafie dengan kaum penjajah Belanda.
“Menurut sejarah, tidak ada hubungan khusus keluarga Alm. H. N. Iffansjah Hanafie dengan kaum penjajah. Meski bangunan rumah miliknya berarsiktektur Eropa pada jaman kolonial,’’ tegasnya.
Selain itu, rumah Batu ini juga sempat digunakan oleh TNI selama empat tahun yakni, mulai tahun 1959 hingga 1963 sebagai Pos penjagaan untuk keamanan dari gangguan gerakan Ibnu Hajar di Wilayah Balangan.
“Rumah Batu ini pernah digunakan para Mondrik (pasukan TNI dan Polisi) untuk pos penjagaan dari para gerombolan (kelompok Ibnu Hajar),’’ beber Suriansyah.
Selain rumah Batu ini, tambahnya, ada dua pos penjagaan lagi yang digunakan oleh para Mondrik guna menyisir para gerombolan yakni, di Desa Sungai Batung kecamatan Juai dan di Kecamatan Halong.
Dharma Setyawan guru sejarah di SMAN 1 Paringin mengungkapkan, keberadaan rumah dengan arsiktektur bergaya Eropa peninggalan zaman kolonial tidak terlepas dari kehidupan sosial pemilik rumah yang rata-rata pengusaha karet pada masa kolonial.
Wilayah Balangan dimasa kolonial, menurut lulusan FKIP Pendidikan Sejarah Universitah Unlam ini, merupakan wilayah penghasil karet dengan jumlah besar.
“Sehingga sebetulnya keberadaan Belanda di wilayah Balangan selain upaya pengamanan dan menjalankan pemerintahan di Kewedanan Balangan juga lebih kepada penguasaan produksi karet yang ada,” bebernya. (sugi)
Menalaah Bangunan Arsiktektur Eropa Zaman Belanda II
Menalaah Bangunan Arsiktektur Eropa Zaman Belanda II
PARINGIN, Distrik Balangan adalah bekas distrik (kawedanan) yang merupakan bagian dari wilayah administratif Onderafdeeling Alabio dan Balangan pada zaman kolonial Hindia Belanda dahulu. Kini wilayah distrik ini telah berkembang menjadi Kabupaten Balangan.
Ditinjau dari sisi sejarah, khususnya pada masa perjuangan fisik melawan Belanda, Balangan memang berbeda dari HSU. Pertahanan Amuntai dipegang oleh pemerintahan militer Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Divisi IV Kalimantan dengan sebutan “BN. 5”, sedangkan Paringin punya kode “R. 27 – B”.
Pada masa kolonial, guna memaksimalakan produksi karet di seluruh wilayah adBalangan pemerintah kolonial Belanda mempunyai strategi khusus dalam perniagaan karet. Dimana strategi khusus itu, dinamakan system kupon, yaitu hadiah yang diberikan setiap tahunnya bagi pemilik kebun, karet yang selalu memelihara kebun karetnya dengan baik sehingga terawat dan bersih serta hasil sadapannya yang baik.
Strategi yang dijalankan Belanda guna mengambil keuntungan sebagai pihak pemegang monopoli perdagangan karet dalam jumlah besar ini ternyata, cukup efektif untuk memancing pemilik kebun karet memelihara kebun karet dan kualitas karetnya sehingga meningkatkan pendapatan para pemilik kebun.
Masa kejayaan karet ini menjadikan para pemilik kebun besar mempunyai kemapanan ekonomi dimasanya. Sehingga mereka mempunyai kesempatan membangun rumah berasektektur Eropa yang digabung dengan arsiktektur yang dikenal dengan istilah Rumah Kuna.
Ada tiga buah rumah Kuna di Kabupaten Balangan tepatnya di Desa Simpang Tiga dan Hilir Pasar Kecamatan Lampihong yang dibangun pada masa kolonial Belanda yang dibangun sekitar tahun 1932.
Ketiga rumah Kuna ini masing-masing milik Alm. H. Sjoekoer dan Alm. H Densi di Desa Simpang Tiga sedangkan satu lagi rumah Kuna milik Alm. H. Sulaiaman yang merupakan Alm. H Densi di Desa Hilir Pasar, namun sayang rumah ini terlihat kurang terawat bila dibandingkan dengan kedua rumah Kuna lainnya. Diketahui Alm. H. Densi merupakan pemilik kebun karet besar di wilayah Batu Mandi pada masa kolonial Belanda.
Arsitektur rumah Kuna ini merupakan perpaduan antara arsitektur tradisional dengan arsitektur Eropa. Arsitektur Eropa ditandai dengan pengunaan beton pada bagian depan ataupun bawah (lantai) sedangkan arsitektur tradisional ditegaskan dengan bentuk rumah panggung dan bentuk pintu dan jendela yang tinggi besar. Fasat depan penuh dengan jendela kupu-kupu yang berbentuk angin-angin. Ciri tradisional lainnya ditandai dengan adanya makam dan kolam air di samping rumah (rumah milik Alm. H. Sjoekoer). Selain itu, rumah Kuna milik Alm. H. Densi pada bagian depannya ada bangunan kecil seperti pos penjagaan. Bangunan kecil ini adalah rumah uang (brankas) yang digunakan untuk menyimpan uang hasil penjualan karet pada masa itu, hal ini membuktikan wilayah Balangan secara umum pernah mengalami jaman kejayaan karet dimasa kolonial Belanda.
’’Rumah Kuna milik Alm. H. Sjoekoer juga pernah dipakai oleh tentara Belanda saat masa revolusi pada tahun 1948-1949,’’ ujar Johansyah (63thn) salah satu warga Desa Simpang Tiga.
Rumah Kuna milik Alm. H. Sjoekoer, menurut Johansyah, dipilih Belanda sebagai pos tentaranya karena letaknya yang strategis yakni, terletak di pinggir jalan raya Amuntai-Paringin dan juga hanya berjarak sekitar 100 meter dari sungai Balangan.
Sehingga dengan menempati rumah tersebut, pihak Belanda dengan leluasa melakukan mobilisasi pasukan dari Amuntai ke Paringin akan lebih mudah baik lewat jalan darat maupun melaui jalur air yakni, mengunakan sungai Balangan yang bermuara ke daerah Amuntai ataupun Alabio hingga ke sungai Barito.
Kini Rumah Kuna milik Alm. H. Sjoekoer tersebut, kini ditempati oleh sang cucu yakni, H Farhan bin H Halidi.
“Saat Belanda memakai rumah kami sebagai markasnya, Ayah dan kakek pergi mengungsi ke tempat keluarga lain yang juga berada di Lampihong,” ungkap H Farhat.
Setelah Belanda pergi, kata H Farhat, keluarganya kembali menempati rumah tersebut.
“Namun sebelum ditempati. Rumah ini dibersihan secara aturan Islam yakni, disucikan menggunakan tanah (di Satru),” bebernya. (sugi)
PARINGIN, Distrik Balangan adalah bekas distrik (kawedanan) yang merupakan bagian dari wilayah administratif Onderafdeeling Alabio dan Balangan pada zaman kolonial Hindia Belanda dahulu. Kini wilayah distrik ini telah berkembang menjadi Kabupaten Balangan.
Ditinjau dari sisi sejarah, khususnya pada masa perjuangan fisik melawan Belanda, Balangan memang berbeda dari HSU. Pertahanan Amuntai dipegang oleh pemerintahan militer Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Divisi IV Kalimantan dengan sebutan “BN. 5”, sedangkan Paringin punya kode “R. 27 – B”.
Pada masa kolonial, guna memaksimalakan produksi karet di seluruh wilayah adBalangan pemerintah kolonial Belanda mempunyai strategi khusus dalam perniagaan karet. Dimana strategi khusus itu, dinamakan system kupon, yaitu hadiah yang diberikan setiap tahunnya bagi pemilik kebun, karet yang selalu memelihara kebun karetnya dengan baik sehingga terawat dan bersih serta hasil sadapannya yang baik.
Strategi yang dijalankan Belanda guna mengambil keuntungan sebagai pihak pemegang monopoli perdagangan karet dalam jumlah besar ini ternyata, cukup efektif untuk memancing pemilik kebun karet memelihara kebun karet dan kualitas karetnya sehingga meningkatkan pendapatan para pemilik kebun.
Masa kejayaan karet ini menjadikan para pemilik kebun besar mempunyai kemapanan ekonomi dimasanya. Sehingga mereka mempunyai kesempatan membangun rumah berasektektur Eropa yang digabung dengan arsiktektur yang dikenal dengan istilah Rumah Kuna.
Ada tiga buah rumah Kuna di Kabupaten Balangan tepatnya di Desa Simpang Tiga dan Hilir Pasar Kecamatan Lampihong yang dibangun pada masa kolonial Belanda yang dibangun sekitar tahun 1932.
Ketiga rumah Kuna ini masing-masing milik Alm. H. Sjoekoer dan Alm. H Densi di Desa Simpang Tiga sedangkan satu lagi rumah Kuna milik Alm. H. Sulaiaman yang merupakan Alm. H Densi di Desa Hilir Pasar, namun sayang rumah ini terlihat kurang terawat bila dibandingkan dengan kedua rumah Kuna lainnya. Diketahui Alm. H. Densi merupakan pemilik kebun karet besar di wilayah Batu Mandi pada masa kolonial Belanda.
Arsitektur rumah Kuna ini merupakan perpaduan antara arsitektur tradisional dengan arsitektur Eropa. Arsitektur Eropa ditandai dengan pengunaan beton pada bagian depan ataupun bawah (lantai) sedangkan arsitektur tradisional ditegaskan dengan bentuk rumah panggung dan bentuk pintu dan jendela yang tinggi besar. Fasat depan penuh dengan jendela kupu-kupu yang berbentuk angin-angin. Ciri tradisional lainnya ditandai dengan adanya makam dan kolam air di samping rumah (rumah milik Alm. H. Sjoekoer). Selain itu, rumah Kuna milik Alm. H. Densi pada bagian depannya ada bangunan kecil seperti pos penjagaan. Bangunan kecil ini adalah rumah uang (brankas) yang digunakan untuk menyimpan uang hasil penjualan karet pada masa itu, hal ini membuktikan wilayah Balangan secara umum pernah mengalami jaman kejayaan karet dimasa kolonial Belanda.
’’Rumah Kuna milik Alm. H. Sjoekoer juga pernah dipakai oleh tentara Belanda saat masa revolusi pada tahun 1948-1949,’’ ujar Johansyah (63thn) salah satu warga Desa Simpang Tiga.
Rumah Kuna milik Alm. H. Sjoekoer, menurut Johansyah, dipilih Belanda sebagai pos tentaranya karena letaknya yang strategis yakni, terletak di pinggir jalan raya Amuntai-Paringin dan juga hanya berjarak sekitar 100 meter dari sungai Balangan.
Sehingga dengan menempati rumah tersebut, pihak Belanda dengan leluasa melakukan mobilisasi pasukan dari Amuntai ke Paringin akan lebih mudah baik lewat jalan darat maupun melaui jalur air yakni, mengunakan sungai Balangan yang bermuara ke daerah Amuntai ataupun Alabio hingga ke sungai Barito.
Kini Rumah Kuna milik Alm. H. Sjoekoer tersebut, kini ditempati oleh sang cucu yakni, H Farhan bin H Halidi.
“Saat Belanda memakai rumah kami sebagai markasnya, Ayah dan kakek pergi mengungsi ke tempat keluarga lain yang juga berada di Lampihong,” ungkap H Farhat.
Setelah Belanda pergi, kata H Farhat, keluarganya kembali menempati rumah tersebut.
“Namun sebelum ditempati. Rumah ini dibersihan secara aturan Islam yakni, disucikan menggunakan tanah (di Satru),” bebernya. (sugi)
Nilai Sejarah Semakin Dilupakan

Nilai Sejarah Semakin Dilupakan
Benteng Tundakan bukan satu-satunya objek bersejarah yang terkesan terbangkalai tanpa sedikit pun ada perhatian, salah satu situs kebudayaan yang bernilai bernasib sama yakni, Makam Raksasina Singa Jaya.
Makam yang terletak di pinggir sungai Batang Balangan di desa Layap Kecamatan Paringin ini terlihat sangat sederhana sebaimana makam yang biasanya berada di pemakaman umum.
Padahal sosok Raksasina Singa Jaya, yang diyakini oleh masyarakat menjadi salah satu tokoh perjuang yang ikut berjuang bersama-sama Tumenggung Jalil dan Pengeran Antasari saat mempertahankan Bentek Tundakan dari serangan Belanda.
Menurut H Sulaiman K, tokoh Raksasina Singa Jaya diyakini berasal dari Jawa Timur yang dikenal dengan nama Syahbudin.
“Menurut cerita nenek, saat Pemerintahan Belanda bisa menguasai daerah Paringin maka oleh Belanda Raksasina Singga Jaya diangkat menjadi Kiai atau Pemimpin setingkat Camat di daerah Paringin,” bebernya.
Namun kondisi ini, kata Sulaiman, tidak bertahan lama karena Raksasina diminta oleh Belanda untuk mengkoordinir rakyatnya kerja paksa untuk membuat jalan dari Paringin ke Halong dan ditolak oleh Raksasina.
Atas penolakan itu, lanjut Sulaiman, Raksasina berserta pengikutnya melarikan diri ke hutan. Dalam pelarian inilah rombongan Raksasina bertemu dan bergabung dengan Tumenggung Jalil dan bersama-sama mempertahankan Benteng Tundakan dari serangan-serangan Belanda.
“Saat Belanda menyerang Benteng Tundakan dan pasukan Tumenggung Jalil kalah maka para pejuang yang berada di Benteng tercerai berai. Rakasasina melarikan diri ke daerah Paringin, dalam pelariannya ternyata ada yang mengikutinya dan pada waktu subuh saat mengambil air wudhu di Sungai Batang Balangan dirinya ditangkap oleh Belanda,” bebernya.
Namun rupanya, kata Sulaiman, Raksasina tidak mempan saat disiksa dan ditembak oleh Belanda.
“Karena itu, Raksasina dikubur-kubur hidup oleh Belanda disebuah lobang dipinggir sungai Batang Balangan,” jelasnya.
Keberadaan makam sekarang ini sendiri, menurut Sulaiman, diyakini sebagai makam Raksasina setelah melalui ritual yang dilakukan oleh orang pintar.
Sedangkan menurut pemerhati sejarah Balangan dharma setyawan, meski keberadaan makam Raksasina Singa Jaya sebenarnya tidak bisa dikatakan dalam situs sejarah karena data pendukung keberanaannya masih sangat minim, namun keberadaan perlu diletarikan dan diteliti lebih lanjut.
“Apalagi tempat makam sekarang sudah tercatat sebagai tinggalan kebudayaan sebagaimana surat keputusan Kantor Wilayah Depertemen. Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Kalimantan Selatan tanggal 4 Agustus 1983 Nomor 081_K/P4SPKS_6/WPKKkS/1983,” jelasnya.
Apalagi lanjut, pria yang sedang menempuh pendidikan pasca serjana ini, keberadaan situs sejarah maupun situs kebudayaan sangat penting bagi generasi penerus.
“Keberadaan situs sejarah dan kebudayaan akan menjadi suatu kebanggaan bagi masyarakat dan tentunya menjadi modal bagi pendidikan generasi muda hingga kita tidak “pareumeun obor” akan sejarah masa lalunya,” jelasnya.
Dimana lanjut, alumni Fisip Unlam ini, keberadaan peninggalan sejarah serta adat istiadat budaya masyarakat tradisional perlu mendapat perhatian dari pemerindah daerah untuk dilestarikan keberadaannya. karena menurutnya, keberadaannya dapat dijadikan sumber bagi upaya pengenalan nilai warisan budaya kepada generasi muda saat.
Memang upaya untuk melestarikan peninggalan sejarah dan kebudayaan, kata Dharma, bukanlah suatu pekerjaan yang mudah dan tanpa biaya, namun jangan hal ini dijadikan alasan untuk tidak sama sekali memperhatikan keberadaan situs bersejarah ini.
“Salah satu bentuk pelestarian nilai sejarah pada situs-situs sejarah yang tersebar di Balangan bisa dilakukan melalui kegiatan widya wisata bagi para pelajar. Dimana selama kegiatan kunjungan tersebut siswa akan memperoleh suguhan informasi berkenaan dengan sejarah panjang leluhur mereka dan akan terjadi transformasi nilai dari generasi terdahulu ke generasi sekarang,” pungkasnya. (sugi)
Tumenggung Jalil dan Benteng Tundakan
Tumenggung Jalil dan Benteng Tundakan
Temenggung Jalil
Kedashsyatan perang Banjar Barito 1859-1906 juga terjadi sampai kepelosok Banua, tidak terkecuali di Balangan dimana jaman kolonial dahulu wilayah Bumi Sanggam ini merupakan distrik (Kewedanaan) yang merupakan bagian dari wilayah administratife Onderafdeeling Alabio.
Perlawan (perang) para pejuangan terhadap penjajah Belanda di wilayah Balangan tidak bisa dipisahkan dari nama tokoh Tumenggung Jalil dan Benteng Tundakan
Tumenggung Jalil dengan nama lahir Abdul Jalil mempunyai gelar Tumenggung Macan Negara dan Kiai Adipati Anom Dinding Raja merupakan pemuda kelahiran Palimbangan Hulu Sungai Utara tahun 1840 dan meninggal pada pertempuran di Benteng Tundakan (Balangan) pada tanggal 24 September 1861 pada umur 21 tahun.
Menurut pemerhati sejarah Balangan Dharma Setyawan, kisah heroik perjuangan Tumenggung Jalil tidak kalah dengan para pejuang perang Banjar lainnya, selain gelar Tumenggung Macan Negara dan Kiai Adipati Anom Dinding Raja yang melekat pada diri Tumenggung Jalil Pengeran Hidayatulah juga memberikan hadiah sebuah tombak berlilit hiasan naga atas keberaniannya.
“Tumenggung Jalil dikenal sebagai rakyat biasa (Jaba) meskipun beliau sebenarnya masih mempunyai hubungan keluarga dengan Adipati Danuraja yang kala itu yang berkuasa diwilayah Banua Lima namun memihak Belanda,” beber pria yang akrab disapa bang Dharma ini.
Lebih jauh, ketua Komunitas Historia Indonesia (KHI) wilayah Kalsel ini mengungkapkan, Tumenggung Jalil adalah panglima perang dengan basis pertahanan di Banua Lima, sejak kecil dia dikenal pemberani dan pendekar dalam ilmu silat. Pada waktu berusia 20 tahun dia terlibat dalam perlawanan terhadap Belanda di Desa Tanah Habang dan Lok Bangkai. Karena kepahlawanannya dia dikenal sebagai Kaminting Pidakan (Jagoan).
Perjuangan Tumenggung Jalil, kata Dharma dimulai saat tahun 1859 dengan menyusun kekuatan di Banua Lima. Tumenggung Jalil membuat pos-pos penjagaan di sekitar Babirik, Alabio dan Sungai Banar. Di sekitar Masjid Amuntai didirikan benteng. Dimana pada awal Februari 1860, Belanda mengerahkan kapal-kapal perang Admiral van Kingsbergen dan kapal Bernet dengan beberapa ratus serdadu dan pasukan meriam dipimpin oleh Mayor Gustave Verspijck. Kapal perang itu akhirnya sampai di Alabio, dan seterusnya terpaksa menggunakan kapal atau perahu yang lebih kecil karena rintangan yang banyak di sungai. Pertempuran terjadi di sekitar Masjid Amuntai.
“Benteng di sekitar masjid dipertahankan dengan kuat di bawah pimpinan Matia atau Mathiyassin, pembantu utama Tumenggung Jalil dengan gagah berani mengamok menyerbu serdadu Belanda. Beratus-ratus yang menjadi syuhada dalam pertempuran itu, 44 orang di antaranya dimakamkan di Kaludan,’’ bebernya.
Selanjutnya, kata Dharma, pasukan para pejuang yang dipimpin
Tumenggung Jalil setelah terpukul di Banua Lima, kemudian menggabungkan diri ke benteng Tundakan bersama-sama Tumenggung Baro dan Pangeran Maradipa.
Lebih jauh, Dharma merinci, pada 24 September 1861 pasukan Belanda dengan kekuatan sekitar 300 orang dibawah pimmpinan Kapten Van Langen dan Kapten Van Heyden mengepung Benteng Tundakan yang dipertahankan oleh Tumenggung Jalil bersama-sama Pangeran Antasari dan tokoh pejuang lainnya. Benteng Tundakan hanya dipertahankan dengan 30 pucuk meriam dan senapan jauh lebih kecil dibanding dengan persenjataan Belanda. Meskipun dengan persenjataan yang kecil, tetapi dengan semangat juang tak kenal menyerah, akhirnya Belanda terpaksa mundur dan dapat dihalau dari tempat pertempuran.
Namun sayang, ungkap Dharma, dalam pertempuran itu, ternyata Tumenggung Jalil gugur sebagai kesuma bangsa. Mayatnya ditemukan dalam tumpukan tumpukan mayat-mayat serdadu Belanda, jauh di luar benteng. Ketika perang sedang berkecamuk, Tumenggung Jalil mengamuk ke tengah-tengah musuh, dan dia menjadi korban bersama-sama serdadu Belanda yang dibunuhnya.
“Tumenggung Jalil menjadi syahid, seorang putera bangsa terbaik telah hilang. Kebencian Belanda kepada Tumenggung Jalil sebagai musuhnya yang paling ditakutinya, berusaha mencari dimana kuburan Tumenggung ini. Akhirnya penghianat perjuangan memberi tahu letak kuburan tersebut. Kuburan dia dibongkar kembali oleh kaki tangan Belanda, tengkoraknya diambil dan disimpan di Negeri Belanda, sisa mayatnya dihancurkan dan dia pejuang bangsa yang kubur tidak jelas keberadaannya,’’ ungkapnya.
Benteng Tundakan
Areal Benteng Tundakan yang berada di desa Tundakan Hulu Kecamatan Awayan pada masa perjuangan dulu, merupakan tempat yang termasuk garis pertahanan Pengeran Antasari di Hulu Sungai (Banua Lima) dibawah Penglima Perang Tumenggung Jalil.
Kini Benteng Tundakan merupakan salah Satu dari Tiga tempat Cagar Budaya di Kabupaten Balangan yang langsung dibawah naungan Balai Pelestarian Cagar Budaya Samarinda yang dibawahi langsung oleh diretur jendral kebudayaan kementerian Pendidikan Nasional Indonesia.
Juru pelihara Benteng Tundakan, Muhammad Ilmi mengungkapkan, luas areal Benteng Tundakan sesuai dengan pagar keliling yang dibuat semasa Balangan masih jadi satu dengan Hulu Sungai Utara adalah sekitar lebar 200 meter dan panjang 100 meter. Kini kondisi benteng yang berupa parit-parit ala mini masih terjaga dengan baik, meskipun para pengunjungnya tiap tahunnya masih bisa dihitung dengan jari tangan.
Selain parit alam, kata Ilmi, dikawasan Benteng Tundakan juga terdapat lobang (mulut goa) yang dipercaya merupakan jalan untuk masuk keterowongan (goa) didalamnya dan juga sebuah makam yang oleh kebanyak warga diyakini sebagai kubur Tumenggung Jalil.
“Makam Tumenngung Jalil terletak diluar areal Benteng dan berada disekitar sungai kecil. Sedangkan untuk mulut goa ada tiga dan diyakini saling berhubungan,’’ bebernya.
Menurut cerita orang tua dulu, kata Ilmi, kubur Tumenggul Jalil berada dibawah pohon Binjai dan dekat sungai namun, kini pohon Binjainya sudah tidak adalagi sedangkan penunjukan kubur sekarang dilakukan oleh salah satu tokoh masyarakat dimasa lalu dengan cara penunjukan langsung.
Sedangkan keberadaan goa yang ada diareal Benteng Tundakan, menurut Ilmi, dibuktikan dengan adanya salah satu warga desanya dengan bantuan salah seorang yang dikenal Tutus Benteng (keturunan penghuni Benteng/orang pintar) bisa masuk kedalam goa tersebut.
“menurut pengkuan orang yang masuk tersebut, didalam goa ada ruangan yang cukup luas, jika diibaratkan bisa mobil truk berpapasan. Sedangkan sebelum sampai ketempat itu harus terlebih dahulu melewati beberapa cabang terowongan dan ada sungai kecil didalamnya,” bebernya.
Terkait pertempuran di Benteng Tundakan sendiri, masih menurut cerita yang dari orang tua dulu ungkap Ilmi, memang ada penghiat yang menunjukan lokasi Benteng Tundakan dan Belanda menyerang mulai arah belakang Benteng Tundakan bukan dari muka.
“Para pejuang memang dalam kondisi tidak siap, bahkan Tumenggung Jalil sendiri dalam keadaan sakit. Padahal para pejuang sudah menempatkan orang dilokasi yang diberi nama Maningau guna memantau pergerakan Belanda jika mau menyerang Benteng, tapi karena Belanda menyerang dari arah belakang maka orang yang bertugas mengawasi pergerakan Belanda tidak mengetahui jika Belanda menyerang Benteng,” bebernya.
Khusus mengenai adanya penghianat yang memberitahu pihak Belanda dimana lokasi kubur Tumenggung Jalil, menurut Ilmi, memang benar adanya.
Bahkan buktinya, hingga kini di desa Tundakan yang dulunya bernama Tandakan (kumpulan para pejuang) ada satu lokasi yang diberi nama Sumpahil.
“Tempat ini diberi nama Sumpahil karena ditempat itulah para pejuang memberikan sumpah gila tujuh turunan yang ditunjukan untuk orang yang memberitahu lokasi kubur Tumenggung Jalil kepada Belanda,” bebernya.
Selain itu, Bapak dua anak ini, juga memperlihatkan sebuah meriah tangan (Meriam Lila) yang merupakan sisa senjata pasukan Tumenggung Jalil saat pertempuran 23 september 1861 yang hingga kini masih disimpannya.
“Meriam ini merupakan warisan turun temurun, sedangkan cerita asal muasalnya saya kurang tau pasti, namun Meriam ini diyakini milik pasukan Tumenggung Jalil,” tutupnya.
Kita sebagai genarai penerus Bangsa sudah seharusnya peka terhadap keberadaan situs sejarah dan jalan sejarahnya. Seperti Benteng Tundakan serta ketokohan Tumengung Jalil agar dipelihara keberadaannya karena pelestarian situs sejarah akan memberikan ikatan kesinambungan yang erat, antara masa kini dan masa lalu.
Pemahaman yang dangkal tentang kesejarahan akan mendegradasi intelektualitas dan moral kita sebaga generasi muda, jangan lupa bahwa mempelajari sejarah adalah mengenai mempelajari pengalaman masa lalu untuk merajut masa depan.
Karena dengan lestarinya situs sejarah, kita dapat lebih mudah mengetahui peristiwa maupun sikap, ide-ide, filosofi, kepercayaan, keindahan, dan pola kehidupan dimasa lalu yang bisa kita jadikan panutan dimasa sekarang dan akan datang. Generasi muda yang buta sejarah adalah generasi yang kehilangan identitas dirinya. (sugi)
Temenggung Jalil
Kedashsyatan perang Banjar Barito 1859-1906 juga terjadi sampai kepelosok Banua, tidak terkecuali di Balangan dimana jaman kolonial dahulu wilayah Bumi Sanggam ini merupakan distrik (Kewedanaan) yang merupakan bagian dari wilayah administratife Onderafdeeling Alabio.
Perlawan (perang) para pejuangan terhadap penjajah Belanda di wilayah Balangan tidak bisa dipisahkan dari nama tokoh Tumenggung Jalil dan Benteng Tundakan
Tumenggung Jalil dengan nama lahir Abdul Jalil mempunyai gelar Tumenggung Macan Negara dan Kiai Adipati Anom Dinding Raja merupakan pemuda kelahiran Palimbangan Hulu Sungai Utara tahun 1840 dan meninggal pada pertempuran di Benteng Tundakan (Balangan) pada tanggal 24 September 1861 pada umur 21 tahun.
Menurut pemerhati sejarah Balangan Dharma Setyawan, kisah heroik perjuangan Tumenggung Jalil tidak kalah dengan para pejuang perang Banjar lainnya, selain gelar Tumenggung Macan Negara dan Kiai Adipati Anom Dinding Raja yang melekat pada diri Tumenggung Jalil Pengeran Hidayatulah juga memberikan hadiah sebuah tombak berlilit hiasan naga atas keberaniannya.
“Tumenggung Jalil dikenal sebagai rakyat biasa (Jaba) meskipun beliau sebenarnya masih mempunyai hubungan keluarga dengan Adipati Danuraja yang kala itu yang berkuasa diwilayah Banua Lima namun memihak Belanda,” beber pria yang akrab disapa bang Dharma ini.
Lebih jauh, ketua Komunitas Historia Indonesia (KHI) wilayah Kalsel ini mengungkapkan, Tumenggung Jalil adalah panglima perang dengan basis pertahanan di Banua Lima, sejak kecil dia dikenal pemberani dan pendekar dalam ilmu silat. Pada waktu berusia 20 tahun dia terlibat dalam perlawanan terhadap Belanda di Desa Tanah Habang dan Lok Bangkai. Karena kepahlawanannya dia dikenal sebagai Kaminting Pidakan (Jagoan).
Perjuangan Tumenggung Jalil, kata Dharma dimulai saat tahun 1859 dengan menyusun kekuatan di Banua Lima. Tumenggung Jalil membuat pos-pos penjagaan di sekitar Babirik, Alabio dan Sungai Banar. Di sekitar Masjid Amuntai didirikan benteng. Dimana pada awal Februari 1860, Belanda mengerahkan kapal-kapal perang Admiral van Kingsbergen dan kapal Bernet dengan beberapa ratus serdadu dan pasukan meriam dipimpin oleh Mayor Gustave Verspijck. Kapal perang itu akhirnya sampai di Alabio, dan seterusnya terpaksa menggunakan kapal atau perahu yang lebih kecil karena rintangan yang banyak di sungai. Pertempuran terjadi di sekitar Masjid Amuntai.
“Benteng di sekitar masjid dipertahankan dengan kuat di bawah pimpinan Matia atau Mathiyassin, pembantu utama Tumenggung Jalil dengan gagah berani mengamok menyerbu serdadu Belanda. Beratus-ratus yang menjadi syuhada dalam pertempuran itu, 44 orang di antaranya dimakamkan di Kaludan,’’ bebernya.
Selanjutnya, kata Dharma, pasukan para pejuang yang dipimpin
Tumenggung Jalil setelah terpukul di Banua Lima, kemudian menggabungkan diri ke benteng Tundakan bersama-sama Tumenggung Baro dan Pangeran Maradipa.
Lebih jauh, Dharma merinci, pada 24 September 1861 pasukan Belanda dengan kekuatan sekitar 300 orang dibawah pimmpinan Kapten Van Langen dan Kapten Van Heyden mengepung Benteng Tundakan yang dipertahankan oleh Tumenggung Jalil bersama-sama Pangeran Antasari dan tokoh pejuang lainnya. Benteng Tundakan hanya dipertahankan dengan 30 pucuk meriam dan senapan jauh lebih kecil dibanding dengan persenjataan Belanda. Meskipun dengan persenjataan yang kecil, tetapi dengan semangat juang tak kenal menyerah, akhirnya Belanda terpaksa mundur dan dapat dihalau dari tempat pertempuran.
Namun sayang, ungkap Dharma, dalam pertempuran itu, ternyata Tumenggung Jalil gugur sebagai kesuma bangsa. Mayatnya ditemukan dalam tumpukan tumpukan mayat-mayat serdadu Belanda, jauh di luar benteng. Ketika perang sedang berkecamuk, Tumenggung Jalil mengamuk ke tengah-tengah musuh, dan dia menjadi korban bersama-sama serdadu Belanda yang dibunuhnya.
“Tumenggung Jalil menjadi syahid, seorang putera bangsa terbaik telah hilang. Kebencian Belanda kepada Tumenggung Jalil sebagai musuhnya yang paling ditakutinya, berusaha mencari dimana kuburan Tumenggung ini. Akhirnya penghianat perjuangan memberi tahu letak kuburan tersebut. Kuburan dia dibongkar kembali oleh kaki tangan Belanda, tengkoraknya diambil dan disimpan di Negeri Belanda, sisa mayatnya dihancurkan dan dia pejuang bangsa yang kubur tidak jelas keberadaannya,’’ ungkapnya.
Benteng Tundakan
Areal Benteng Tundakan yang berada di desa Tundakan Hulu Kecamatan Awayan pada masa perjuangan dulu, merupakan tempat yang termasuk garis pertahanan Pengeran Antasari di Hulu Sungai (Banua Lima) dibawah Penglima Perang Tumenggung Jalil.
Kini Benteng Tundakan merupakan salah Satu dari Tiga tempat Cagar Budaya di Kabupaten Balangan yang langsung dibawah naungan Balai Pelestarian Cagar Budaya Samarinda yang dibawahi langsung oleh diretur jendral kebudayaan kementerian Pendidikan Nasional Indonesia.
Juru pelihara Benteng Tundakan, Muhammad Ilmi mengungkapkan, luas areal Benteng Tundakan sesuai dengan pagar keliling yang dibuat semasa Balangan masih jadi satu dengan Hulu Sungai Utara adalah sekitar lebar 200 meter dan panjang 100 meter. Kini kondisi benteng yang berupa parit-parit ala mini masih terjaga dengan baik, meskipun para pengunjungnya tiap tahunnya masih bisa dihitung dengan jari tangan.
Selain parit alam, kata Ilmi, dikawasan Benteng Tundakan juga terdapat lobang (mulut goa) yang dipercaya merupakan jalan untuk masuk keterowongan (goa) didalamnya dan juga sebuah makam yang oleh kebanyak warga diyakini sebagai kubur Tumenggung Jalil.
“Makam Tumenngung Jalil terletak diluar areal Benteng dan berada disekitar sungai kecil. Sedangkan untuk mulut goa ada tiga dan diyakini saling berhubungan,’’ bebernya.
Menurut cerita orang tua dulu, kata Ilmi, kubur Tumenggul Jalil berada dibawah pohon Binjai dan dekat sungai namun, kini pohon Binjainya sudah tidak adalagi sedangkan penunjukan kubur sekarang dilakukan oleh salah satu tokoh masyarakat dimasa lalu dengan cara penunjukan langsung.
Sedangkan keberadaan goa yang ada diareal Benteng Tundakan, menurut Ilmi, dibuktikan dengan adanya salah satu warga desanya dengan bantuan salah seorang yang dikenal Tutus Benteng (keturunan penghuni Benteng/orang pintar) bisa masuk kedalam goa tersebut.
“menurut pengkuan orang yang masuk tersebut, didalam goa ada ruangan yang cukup luas, jika diibaratkan bisa mobil truk berpapasan. Sedangkan sebelum sampai ketempat itu harus terlebih dahulu melewati beberapa cabang terowongan dan ada sungai kecil didalamnya,” bebernya.
Terkait pertempuran di Benteng Tundakan sendiri, masih menurut cerita yang dari orang tua dulu ungkap Ilmi, memang ada penghiat yang menunjukan lokasi Benteng Tundakan dan Belanda menyerang mulai arah belakang Benteng Tundakan bukan dari muka.
“Para pejuang memang dalam kondisi tidak siap, bahkan Tumenggung Jalil sendiri dalam keadaan sakit. Padahal para pejuang sudah menempatkan orang dilokasi yang diberi nama Maningau guna memantau pergerakan Belanda jika mau menyerang Benteng, tapi karena Belanda menyerang dari arah belakang maka orang yang bertugas mengawasi pergerakan Belanda tidak mengetahui jika Belanda menyerang Benteng,” bebernya.
Khusus mengenai adanya penghianat yang memberitahu pihak Belanda dimana lokasi kubur Tumenggung Jalil, menurut Ilmi, memang benar adanya.
Bahkan buktinya, hingga kini di desa Tundakan yang dulunya bernama Tandakan (kumpulan para pejuang) ada satu lokasi yang diberi nama Sumpahil.
“Tempat ini diberi nama Sumpahil karena ditempat itulah para pejuang memberikan sumpah gila tujuh turunan yang ditunjukan untuk orang yang memberitahu lokasi kubur Tumenggung Jalil kepada Belanda,” bebernya.
Selain itu, Bapak dua anak ini, juga memperlihatkan sebuah meriah tangan (Meriam Lila) yang merupakan sisa senjata pasukan Tumenggung Jalil saat pertempuran 23 september 1861 yang hingga kini masih disimpannya.
“Meriam ini merupakan warisan turun temurun, sedangkan cerita asal muasalnya saya kurang tau pasti, namun Meriam ini diyakini milik pasukan Tumenggung Jalil,” tutupnya.
Kita sebagai genarai penerus Bangsa sudah seharusnya peka terhadap keberadaan situs sejarah dan jalan sejarahnya. Seperti Benteng Tundakan serta ketokohan Tumengung Jalil agar dipelihara keberadaannya karena pelestarian situs sejarah akan memberikan ikatan kesinambungan yang erat, antara masa kini dan masa lalu.
Pemahaman yang dangkal tentang kesejarahan akan mendegradasi intelektualitas dan moral kita sebaga generasi muda, jangan lupa bahwa mempelajari sejarah adalah mengenai mempelajari pengalaman masa lalu untuk merajut masa depan.
Karena dengan lestarinya situs sejarah, kita dapat lebih mudah mengetahui peristiwa maupun sikap, ide-ide, filosofi, kepercayaan, keindahan, dan pola kehidupan dimasa lalu yang bisa kita jadikan panutan dimasa sekarang dan akan datang. Generasi muda yang buta sejarah adalah generasi yang kehilangan identitas dirinya. (sugi)
Tumenggung Jalil dan Pemberontakan Banua Lima
Tumenggung Jalil dan Pemberontakan Banua Lima di Bumi Sanggam
Banyaknya tempat bersejarah baik sejarah perjuangan maupun peninggalan peradapan kebudayaan di Balangan tidak terlepas dari kondisi wilayah Balangan yang pada masa silam menjadi pusat pemukiman masyarakat yang ramai.
Namun sayang, keberadaan situs-situs bersejarah tersebut seakan tidak terperhatikan keberadaannya sehingga ada beberapa objek bersejarah kondisinya memerhatinkan.
Salah satu, objek bersejarah yang terlihat kurang terawat dan terkesan diabaikan ialah situ sejarah Benteng Tundakan yang berada di Desa Tundakan Kecamatan Awayan. Dimana gerbang masuk kawasan benteng alam yang dimasa lalu dijadikan benteng pertahanan oleh Pengeran Antasari saat melawan penjajahan kolonial Belanda terlihat lapuk dan sudah mau rubuh.
Selain itu, makam yang dipercaya sebagai kubur dari Tumenggung Macan Negara (Tumenggung Jalil) salah satu pejuang yang gugur dalam peperangan 24 September 1861 saat pasukan Pengeran Antasari mempertahankan Benteng Tundakan, terlihat tidak terawat.
Salah satu pemerhati sejarah Balangan, dharma setyawan mengungkapkan, keberadaan situs sejarah bukan hanya sekedar ornamen bukti suatu peristiwa namun, juga merupakan kawasan yang mempunyai makna kultural yang berupa nilai keindahan, sejarah, keilmuan, atau nilai sosial untuk generasi lampau, masa kini, dan masa mendatang.
Benteng Tundakan sendiri, kata Dharma, merupakan salah tempat yang termasuk garis pertahanan Pangeran Antasari di Hulu Sungai.
Khusus perlawan melawan Belanda di Kawasan Banua Lima, Pengeran Antasari menunjuk Tumenggung Jalil sebagai panglima perang di wilayah Banua Lima dan diberi gelar Kiai Adipati Anom Dinding Raja oleh Pangeran Hidayatullah.
“Atas dasar penunjukan itulah, Tumenggung Jalil mempersiapkan beberapa kubu pertahanan di sekitar Balangan, yaitu benteng Batumandi dan benteng Kusambi. Benteng Batumandi dipimpin oleh Pangeran Syarif Umar dan Pangeran Usman serta Demang Lehman, sedangkan Tumenggung Jalil sendiri mempersiapkan dikawasan Kusambi, Lampihong, Layap dan Muara pitap,” bebernya.
Keberadaan Benteng Tundakan, lanjut salah staf pengajar di SMAN 1 Paringin ini, merupakan tempat krusial yang digunakan pejuang dibawah pimpinan Pengeran Antasari sekitar 1858 hingga 1861 silam saat melawan penjajah Kolonial Belanda.
Namun sayang, kata Dharma pria ini akrab disapa, pada 24 September 1861 sekitar 300 orang tentara Belanda dipimpin oleh Kapten Van Langen dan Kapten Van Heyden mengepung Benteng Tundakan dan dalam petempuran itu Tumengung Jalil gugur sebagai pahlawan.
“Ketokohan Tumengung Jalil sebagai tokoh besar pahlawan banjar harus kitainformasikan, dipelajari dan diteladani. Karena dari sosok seorang Jalil yang merupakan rakyat bisa (Jaba) kita bisa belajar bagaimana pentingnya mempertahankan harga diri bangsa yang bermartabat,” bebernya.
Untuk itu, lanjut Alumni Fisip Unlam ini, keberadaan situs sejarah seperti Benteng Tundakan serta ketokohan Tumengung Jalil agar dipelihara keberadaannya karena pelestarian situs sejarah akan memberikan ikatan kesinambungan yang erat, antara masa kini dan masa lalu.
Pemahaman yang dangkal tentang kesejarahan mendegradasi intelektualitas dan moral generasi muda, jangan lupa bahwa mempelajari sejarah adalah mengenai mempelajari pengalaman masa lalu untuk merajut masa depan.
“Karena dengan lestarinya situs sejarah kita dapat lebih mudah mengetahui peristiwa maupun sikap, ide-ide, filosofi, kepercayaan, keindahan, dan pola kehidupan dimasa lalu yang bisa kita jadikan panutan dimasa sekarang dan akan datang. Generasi muda yang buta sejarah adalah generasi yang kehilangan identitas dirinya,” pungkasnya. (sugi)
Banyaknya tempat bersejarah baik sejarah perjuangan maupun peninggalan peradapan kebudayaan di Balangan tidak terlepas dari kondisi wilayah Balangan yang pada masa silam menjadi pusat pemukiman masyarakat yang ramai.
Namun sayang, keberadaan situs-situs bersejarah tersebut seakan tidak terperhatikan keberadaannya sehingga ada beberapa objek bersejarah kondisinya memerhatinkan.
Salah satu, objek bersejarah yang terlihat kurang terawat dan terkesan diabaikan ialah situ sejarah Benteng Tundakan yang berada di Desa Tundakan Kecamatan Awayan. Dimana gerbang masuk kawasan benteng alam yang dimasa lalu dijadikan benteng pertahanan oleh Pengeran Antasari saat melawan penjajahan kolonial Belanda terlihat lapuk dan sudah mau rubuh.
Selain itu, makam yang dipercaya sebagai kubur dari Tumenggung Macan Negara (Tumenggung Jalil) salah satu pejuang yang gugur dalam peperangan 24 September 1861 saat pasukan Pengeran Antasari mempertahankan Benteng Tundakan, terlihat tidak terawat.
Salah satu pemerhati sejarah Balangan, dharma setyawan mengungkapkan, keberadaan situs sejarah bukan hanya sekedar ornamen bukti suatu peristiwa namun, juga merupakan kawasan yang mempunyai makna kultural yang berupa nilai keindahan, sejarah, keilmuan, atau nilai sosial untuk generasi lampau, masa kini, dan masa mendatang.
Benteng Tundakan sendiri, kata Dharma, merupakan salah tempat yang termasuk garis pertahanan Pangeran Antasari di Hulu Sungai.
Khusus perlawan melawan Belanda di Kawasan Banua Lima, Pengeran Antasari menunjuk Tumenggung Jalil sebagai panglima perang di wilayah Banua Lima dan diberi gelar Kiai Adipati Anom Dinding Raja oleh Pangeran Hidayatullah.
“Atas dasar penunjukan itulah, Tumenggung Jalil mempersiapkan beberapa kubu pertahanan di sekitar Balangan, yaitu benteng Batumandi dan benteng Kusambi. Benteng Batumandi dipimpin oleh Pangeran Syarif Umar dan Pangeran Usman serta Demang Lehman, sedangkan Tumenggung Jalil sendiri mempersiapkan dikawasan Kusambi, Lampihong, Layap dan Muara pitap,” bebernya.
Keberadaan Benteng Tundakan, lanjut salah staf pengajar di SMAN 1 Paringin ini, merupakan tempat krusial yang digunakan pejuang dibawah pimpinan Pengeran Antasari sekitar 1858 hingga 1861 silam saat melawan penjajah Kolonial Belanda.
Namun sayang, kata Dharma pria ini akrab disapa, pada 24 September 1861 sekitar 300 orang tentara Belanda dipimpin oleh Kapten Van Langen dan Kapten Van Heyden mengepung Benteng Tundakan dan dalam petempuran itu Tumengung Jalil gugur sebagai pahlawan.
“Ketokohan Tumengung Jalil sebagai tokoh besar pahlawan banjar harus kitainformasikan, dipelajari dan diteladani. Karena dari sosok seorang Jalil yang merupakan rakyat bisa (Jaba) kita bisa belajar bagaimana pentingnya mempertahankan harga diri bangsa yang bermartabat,” bebernya.
Untuk itu, lanjut Alumni Fisip Unlam ini, keberadaan situs sejarah seperti Benteng Tundakan serta ketokohan Tumengung Jalil agar dipelihara keberadaannya karena pelestarian situs sejarah akan memberikan ikatan kesinambungan yang erat, antara masa kini dan masa lalu.
Pemahaman yang dangkal tentang kesejarahan mendegradasi intelektualitas dan moral generasi muda, jangan lupa bahwa mempelajari sejarah adalah mengenai mempelajari pengalaman masa lalu untuk merajut masa depan.
“Karena dengan lestarinya situs sejarah kita dapat lebih mudah mengetahui peristiwa maupun sikap, ide-ide, filosofi, kepercayaan, keindahan, dan pola kehidupan dimasa lalu yang bisa kita jadikan panutan dimasa sekarang dan akan datang. Generasi muda yang buta sejarah adalah generasi yang kehilangan identitas dirinya,” pungkasnya. (sugi)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Waspada Kematian Bayi Masyarakat khususnya para orang tua, dimintai mewaspadai pada bulan februari sampai April mendatang. ...
-
Tatanjang Alat Menanam Jika Tajak digunakan untuk membersihan lahan pertanian sebelum tanam, maka Tatanjang, Tatujah atau Tatajuk d...
-
PAHAJATAN, “KAMPUNG KECIL” TEMPAT WARGA MEMOHON HAJAT Di Balangan, tepatnya di Desa Tungkap, Paringin Selatan, terdapat se...
-
Nilai Sejarah Semakin Dilupakan Benteng Tundakan bukan satu-satunya objek bersejarah yang terkesan terbangkalai tanpa sedikit pun ada ...



