Sunday, 19 February 2017

PERJUANGAN PI’IK LAURA, GADIS KECIL BERCITA-CITA BESAR DARI MERATUS





PERJUANGAN PI’IK LAURA, GADIS KECIL BERCITA-CITA BESAR DARI MERATUS
Ini kisah Pi’ik. Remaja dari Pegunungan Meratus ini setiap hari menembus hutan, mendaki gunung, dan menyisiri tubir bukit, menempuh perjalanan panjang, hanya untuk menuju sekolah. Satu lagi, inspirasi dari seorang anak negeri.
Malam masih menyisakan gelap saat Pi’ik Laura (14 tahun), terbangun. Setelah mengerjakan rutinitas hariannya, mencuci dan memasak untuk kedua orangtuanya, dia mulai bersiap-siap.  Perjalanan jauh  menanti di depannya : menuju sekolah.  Jarak yang ditempuh gadis Dayak ini setiap hari tak kurang dari 8 jam berjalan kaki pergi pulang, menanjak dan menurun.
Biasanya, pada terang tanah pertama, Pi’ik segera mulai berjalan. Tas sekolah dikepit di bahu kiri. Tak ketinggalan jaket yang selalu dikancingkan untuk menolak hawa dingin hutan dini hari. Ketika itu, tubuh kecilnya hanya terlihat berupa bayangan dalam keremangan hutan.
 "Dalam bahasa Dayak, Pi'ik itu artinya kecil,” ucap gadis periang ini mengisahkan kehidupannya.
Pi’ik mengaku itu adalah nama pemberian ayahnya karena sewaktu lahir ukuran tubuhnya lebih kecil dibandingkan anak biasanya.  Ayahnya, Tanar (50 tahun) adalah seorang petani dan pekebun, tipikal khas orang-orang Dayak yang hidup harmonis bersama alam. Tanar  memilih tetap tinggal di hutan, meski beberapa penduduk lainnya kini banyak yang sudah tinggal di desa-desa dan kota kecamatan.
Pilihan ayahnya ini berkonsekuensi bagi cita-cita Pi’ik.  Dia yang tinggal jauh di hutan akhirnya tidak memiliki akses ke pendidikan. Sekolah begitu jauh. SMPN 3 Halong, sekolahnya saat ini misalnya, berjarak empat jam jalan kaki. Sungguh, jarak yang sangat jauh.  Jika dibandingkan dengan  anak-anak di perkotaan atau kecamatan, perjalanannya menuju sekolah bisa dikatakan seperti sebuah perjuangan.
Tapi Pi’ik tidak menyerah. Tak seperti namanya, gadis berkulit putih ini menyimpan tekad yang besar. Dia ingin menjadi anak pertama di Dusun Kurihai yang bisa mengalahkan jarak demi pendidikan.
Apakah Pi’ik siap? Mulanya orangtuanya tidak begitu yakin. Ayahnya bahkan melarang Pi’ik sekolah lantaran mempertimbangkan nyaris mustahil mencapai sekolah dari tempat tinggal mereka.
“Ayah tidak tega membiarkan saya sendirian turun naik gunung,” ucap Pi’ik mengenang awal-awal dia mengutarakan niatnya untuk bersekolah.
Selain itu, ada faktor lain. Perekonomian keluarganya begitu memprihatinkan. Menjadi seorang petani yang sangat bergantung pada cuaca, membuat kadang-kadang keluarganya tidak bisa makan dengan layak. Ada hari-hari saat keluarga terpencil itu hanya memakan buah-buahan hutan dan meminum air yang tak pernah berhenti mengalir dari lereng Meratus, karena hasil panen tak mencukupi kebutuhan keluarga.
Faktor ekonomi ini pula yang membuat Tanar tidak menyekolahkan anak-anaknya. Empat saudara perempuan Pi’ik semuanya tidak menempuh pendidikan formal. Sedangkan dua kakak lelaki Pi’ik hanya berhasil mengenyam pendidikan hingga kelas tiga Sekolah Dasar. Selebihnya, mereka menyerah dan mulai bekerja mencari penghidupan sendiri.
Beruntung, kakaknya mewariskan buku-buku sekolah mereka di rumah.  Dari “warisan” inilah, rasa keingintahuan Pi’ik akan dunia luar dan kecintaannya akan pendidikan timbul.
"Saya memahami cara menulis dan membaca dari melihat kakak belajar. Sejak itu minat saya untuk sekolah semakin tinggi," ujarnya.
Diam-diam, Pi’ik merencanakan sesuatu. Dia mulai mengidam-idamkan duduk di bangku sekolah. Dia mempelajari semua buku kakaknya, membaca dan menulis dari buku-buku itu. Saat keinginannya untuk sekolah sudah memuncak, dengan modal nekad dia mendaftar sendiri di SD Kecil Ampinang Desa Mamigang, tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Sepulang dari mendaftar SD Kecil, barulah ia mengabari orangtuanya. Seketika ibunya  menangis.
“Tidak tahu harus memberi uang saku buat sekolah pakai apa,” ucap Tarik, ibu Pi’ik saat itu.
"Saya bilang ke ibu tidak usah mikirin itu, bisa sekolah saja saya sudah senang," ucapnya riang.
Karena iba, dengan berat hati, orangtua Pi’ik akhirnya bisa melepasnya untuk mengejar impian.  
"Kadang kami khawatir terjadi apa-apa dengannya di jalan, tapi lambat laun kami sudah terbiasa," ujar Tanar.
SD Kecil Ampinang berlokasi tidak jauh dari SMPN 3 Halong tempat Pi'ik bersekolah sekarang, jaraknya hanya sekitar 500 meter lebih dekat dari SMPN 3 Halong. Setiap hari, Pi’ik menempuh rute yang sama. Itu termasuk 2,5 jam perjalanan turun gunung hingga tiba di desa Ruwuk. Di sini ia mampir di rumah seorang sepupunya. Tempat ia biasa menitipkan sepatu dan berganti pakaian seragam sekolah.
"Ini sepatu pemberian teman baik, saya tidak mau rusak," tutur gadis yang mengaku seragam sekolahnya adalah pemberian dari guru agama di sekolahnya.
Dari desa Ruwuk, perjalanan ke sekolahnya masih sekitar 1,5 jam lagi. Melewati beberapa desa, yakni Ampinang, Mamigang baru sampai ke Desa Uren, tempat sekolahnya berada. Desa Uren sendiri terletak 2 jam perjalanan dengan kendaraan roda dua dari ibukota kabupaten, Paringin.
Namun, melewati jalur sisa ini terkadang Pi’ik beruntung, ada pengendara motor yang lewat dan memberi tumpangan. Jika naik sepeda motor, waktu tempuh bisa dipangkas menjadi sekitar 15 menit. Artinya ia tidak terlambat sampai ke sekolah dan bisa mengikuti baris-berbaris seperti teman-temannya. Tetapi, seringnya Pi’ik terlambat sekitar 30 menit setelah menempuh perjalanan panjang dari rumahnya.
“Biasanya para guru sudah memaklumi,” ucapnya ringan.
Bahkan, ketika masih SD, melihat kesungguhan anak-anak Meratus seperti Pi’ik, dewan guru SD Kecil melonggarkan peraturan. Mereka tidak mewajibkan murid-muridnya supaya berseragam sekolah. Diakui Pi'ik ini merupakan kebahagiaan tersendiri, karena ia tak perlu memikirkan bagaimana membeli seragam. Ia baru memiliki seragam pada saat duduk di kelas dua SD.
  Rutinitas bersekolah yang tidak biasa ini sudah berlalu enam tahun. Dan dari tahun ke tahun, bersekolah masih tidak mudah bagi Pi’ik. Dia hanya menjadi lebih terbiasa. Hawa dingin, hamparan tanah becek, sesemakan tajam, kontur curam bukit,  adalah kendala yang harus  ditaklukan. Dan jangan lupa: babi hutan!
“Saya pernah dikejar babi hutan,” kenangnya lagi.
Saat itu jalan licin karena hari hujan. Pi’ik terus berlari meski kakinya terluka dan berdarah. Ia kesakitan, tapi tak punya pilihan.
“Ya harus bangkit lagi, karena sekeras apapun menangis, tak ada juga yang mengasihani dan bisa menolong. Akhirnya ke sekolah dengan kondisi basah dan seragam kotor,” ujarnya.
Pi’ik merasa sedikit banyak, dia dilindungi. “Satu hal yang tidak pernah saya lupa setiap sebelum berangkat sekolah, berdoa kepada Tuhan," ucap gadis yang bercita-cita menjadi guru ini. (wahyudi)

PAHAJATAN, “KAMPUNG KECIL” TEMPAT WARGA MEMOHON HAJAT





PAHAJATAN, “KAMPUNG KECIL” TEMPAT WARGA MEMOHON HAJAT
Di Balangan, tepatnya di Desa Tungkap, Paringin Selatan, terdapat sebuah kampung kecil dengan miniatur rumah yang dibangun untuk "orang gaib" yang disebut Pahajatan. Tempat ini dinamakan Pahajatan karena orang-orang selalu datang ke sini dengan membawa sebuah hajat atau keinginan dan berharap agar hajatnya tercapai.  
"Lebih tepatnya mereka datang ke sini bertawasul seperti berziarah ke makam para wali, jadi bukan menuhankan tempat ini. Saya orang pertama yang menentang apabila ada yang menuhankannya," tegas Asran (41), juru kunci yang sudah turun-temurun menjaga tempat ini.
 Asran menjelaskan berdasar kisah turun-temurun dari keluarganya, keberadaan situs pahajatan ini diawali dengan munculnya dengan tiba-tiba sebuah batu yang diyakini berasal dari Candi Agung Amuntai di lokasi ini.
Pahajatan dapat dicapai dengan berkendara dari pusat kota Paringin hanya dengan waktu tempuh tak sampai sepuluh menit. Kita pun tak perlu harus berjalan kaki melintasi hutan belantara lagi, karena letaknya persis di pinggiran jalan Desa Tungkap.
Sebelum mengantar pengunjung memasuki Pahajatan, Asran terlebih dulu komat-kamit mengucapkan kata-kata yang tak jelas terdengar. Baru setelah itu sang juru kunci memasuki gerbang Pahajatan dan mengajak pengunjung mengikutinya.
Di tengah-tengah Pahajatan terdapat sebuah pendopo yang bisa dinaiki oleh orang dewasa. Pendopo ini biasa digunakan untuk selamatan oleh orang-orang yang berkunjung dengan membawa sebuah hajat.
Asran menyebutkan bahwa setiap pengunjung yang mempunyai hajat dianjurkan membawa bahan makanan mirip sesajen seperti nasi ketan, kopi, telur, dan lain sebagainya. Namun, makanan tersebut tidak untuk ditinggal di sana, melainkan untuk acara selamatan dan dimakan bersama-sama. Malah pengunjung tak diperbolehkan meninggalkan sampah makanan sedikit pun di tempat ini.
Selain pendopo, bangunan lain berukuran kecil seperti miniatur rumah. Rumah-rumah mini (rurumahan) ini dibangun oleh para pengunjung yang hajatnya telah tercapai. Beragam jenis rumah terdapat di sini, ada yang berbentuk rumah tradisional, seperti rumah adat Banjar dan Jawa, ada pula yang berbentuk rumah modern.
Diungkapkan Asran, beragamnya bentuk rumah ini karena pengunjung yang datang berasal dari berbagai daerah. Mereka inilah yang menentukan bentuk dan jenis rumah yang mereka inginkan.
Pengunjung yang hajatnya tercapai sebenarnya tidak harus membangun rumah kecil di sini, bisa juga hanya menaruh kain kuning atau sekadar bunga tujuh rupa, tergantung niat masing-masing.
"Tapi karena selama ini orang yang hajatnya tercapai selalu membangun rumah kecil, maka yang seterusnya pun mengikuti," ujar Asran yang mengatakan tidak tahu persis kapan awal mula rumah-rumah kecil itu dibangun.
Berdasarkan tulisan yang tertera pada setiap rumah, yang menyebutkan nama pemilik hajat dan tahun dibangunnya, dapat kita ketahui bangunan tertua yang masih kokoh berdiri hingga sekarang dibangun pada tahun 1940-an.
Asran  selalu memantau rumah-rumah kecil ini setiap hari karena khawatir ada yang menaruh makanan atau sesajen di sana. Kalau ada, biasanya dia akan memanggil si pemilik rumah dan menyuruhnya memakan sesajen itu.
"Setiap rumah ada nama pemiliknya, jadi mudah saja mengenalnya. Kalau yang dari luar daerah tidak mungkin mau jauh-jauh hanya untuk menaruh sesajen," ujar Asran.
Orang yang memiliki hajat biasanya dating pada hari Senin dan Jumat, karena diyakini pada hari itulah para ‘penghuni’ Pahajatan berada di sini.
Tentang asal muasal istilah 'urang halus' di kalangan masyarakat Banjar yang ditujukan untuk menyebut makhluk gaib yang berasal dari Pahajatan, Asran menampiknya. Menurutnya meskipun rumah-rumah di Pahajatan terlihat halus (kecil) di alam nyata, namun di alam sebelah (gaib) ukurannya selayaknya seperti rumah manusia pada umumnya. (wahyudi)

ROTAN BALANGAN, DULU DAN SEKARANG








  ROTAN BALANGAN, DULU DAN SEKARANG
Balangan sejak dulu sudah dikenal sebagai daerah sentra penghasil rotan di Banua, bahkan menjadi pemasok utama bagi industry kerajinan rotan di Hulu Sungai Utara (HSU).
Bahkan ketika Balangan masih menjadi bagian HSU, di tiap kecamatan ada pengumpul besar berbagai jenis rotan untuk dikirim ke Amuntai, Banjarmasin, dan Kalimantan Tengah.
Menurut salah satu mantan pedagang pengumpul rotan, Haji Sanusi, pada tahun 1990 hingga 2000-an banyak pengumpul rotan yang ada di Balangan. Bahkan menurut warga desa Sungai Katapi ini, hampir tiap desa ada pembeli rotan yang mengumpulkan rotan dari warga yang mencari rotan, baik itu jenis rotan paikait (rotan kecil), walatung (rotan sedang), dan manau (rotan ukuran besar).
Pria paruh baya ini mengisahkan bahwa dulu bisnis rotan sangat ramai dan menjanjikan. Tiap minggu puluhan truk membawa rotan untuk dikirim ke berbagai daerah.
Tapi sejak tahun 2005-an bisnis rotan mulai berguguran karena para pembelinya tidak ada lagi. Ini dampak dari pemerintah tidak memperbolehkan ekspor rotan mentah. Permintaan pun menurun hingga rotan tak laku. Padahal potensi rotan kita sangat menjanjikan dari segi ekonomi,” ujar Sanusi.
 Senada dengan itu, Haji Misbah yang merupakan salah satu perajin rotan di Amuntai mengatakan selain membuat kerajinan rotan, dulu dirinya juga mengirim rotan mentah secara langsung untuk dijual.
Kini warga desa Sungai Limas, Kecamatan Haur Gading, HSU ini mengaku hanya bisa menjual rotan dalam bentuk jadi, baik itu dalam bentuk mebel mapun kerajinan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
“Rotan yang saya gunakan kebanyakan berasal dari Balangan dan Kalimantan Tengah. Itu pun jumlahnya terbatas sesuai dengan kemampuan produksi dan permintaan,” ungkap pria 42 tahun ini.
Pada masa jayanya, sebanyak apa pun rotan yang ada pasti ada yang membeli. Hal ini disebabkan mereka akan menjual kembali dengan harga tinggi ke pedagang besar di Banjarmasin dan Surabaya.
“Tapi sejak tidak boleh menjual rotan mentah, permintaan rotan turun drastic. Sejak itulah industri rotan meredup dan perlahan mati,” jelas Misbah.
Salah seorang pencari rotan, Aspi, menyebutkan dirinya bersama tiga teman lainnya tiap minggu bisa menjual satu truk penuh rotan, atau sekitar 3000 hingga 5000 batang rotan ke Amuntai. Jumlah ini belum ditambah dengan hasil pencarian daerah lain seperti di Halong dan Tebing Tinggi.
“Di Balangan rotan yang laku dijual hanya jenis walatung dan manau, sedangkan jenis paikat tidak laku karena tak ada pembelinya. Rotan Balangan masih melimpah ruah. Tapi pembeli dan harganya kadang-kadang jauh dari harapan. Karena itu mencari rotan untuk dijual tidak selalu dilakukan karena terkadang tak sepadan dengan lelahnya,” pungkas  Aspi. 

Terbayar Lunas Dengan Senyuman



Terbayar Lunas Dengan Senyuman
Medan berat dan berhadapan dengan culture shock mungkin masih diangap biasa bagi fisik seorang pria dengan pergaulan sosial yang luas. Tapi bagi petugas perempuan yang ikut Pelayanan Kesehatan Daerah Terpencil (Pelkes Dacil) merupakan tantangan yang terbilang luar biasa.
Tantangan berat inilah yang sangat dirasakan Gresia Mayang Sari, salah satu petugas kesehatan di Puskesmas Uren yang turut serta dalam Pelkes Dacil yang dijalankan Pemerintan Kabupaten Balangan.
Menurut petugas farmasi di Puskesmas Uren ini, pengalaman menjelajah alam dengan mendaki gunung dan menyeberangi sungai pertama kalinya ditemui dirinya saat ikut Pelkes Dacil ini.
"Pengalaman harus berjalan di hutan saat malam hari, hidup tanpa sinyal handphone dan listrik saya alami saat Pelkes Dacil ini," ujarnya.
Selain melawan rasa letih di perjalanan, dirinya juga harus melakukan pola hidup berbeda dari biasanya, mulai dari tidur tanpa kelambu, mandi di sungai hingga hidup tanpa internet.
"Kita terkuras secara fisik dan berubah secara perilaku saat ikut Pelkes Dacil. Tapi ini semua akan terbayar lunas ketika masyarakat yang kita layani memberikan senyuman tulus dan ucapan terima kasih," ungkapnya.
Tak jauh berbeda, pengalaman unik juga dirasakan petugas kesehatan wanita lainnya, Listienoor.
Menurut petugas gizi ini, saat pertama ikut Pelkes Dacil dirinya sempat pingsan di tengah perjalanan.
"Karena kurang persiapan dan banyak barang bawaan, serta baru pertama kali, saya sempat pingsan karena kelelahan," ujarnya.
Namun hal ini tidak membuat Listienoor jera, bahkan sebaliknya. Tiap ada kesempatan Pelkes Dacil, dirinya pasti ikut serta.
"Pelkes Dacil ini saya angap sebagai bentuk pelayanan sesungguhnya, karena kita membutuhkan perjuangan yang cukup keras untuk bisa melayani masyarakat," bebernya.
Selain kepuasan bisa melayani masyarakat yang betul-betul membutuhkan, Pelkes Dacil juga membuat Listienoor dapat merasakan betapa harmonisnya kehidupan komunitas masyarakat Dayak Meratus dengan alam.
"Bagi kita yang lahir di tengah teknologi canggih, seperti akses internet yang cepat. Hobi selfie dan enggan beraktivitas di luar, sehingga lupa pada kepedulian terhadap sesama, tak ada salahnya mengikuti Pelkes Dacil ini sebagai wahana pembelajaran tentang kehidupan sosial di tengah masyarakat di daerah terpencil," tutupnya.

Waspada Kematian Bayi Masyarakat khususnya para orang tua, dimintai mewaspadai pada bulan februari sampai April mendatang. ...